
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Sayang? Apa kamu masih ragu akan cintaku?" Aiman menunggu Fatimah yang kini sedang menidurkan Khumaira di dalam box bayinya, sedangkan ia beristri di belakang wanita tersebut. "Semua ini adalah atas izin Allah. Takdir yang telah menyatukan kita, Ummaya."
Aiman tidak tahu bagaimana raut wajah sang istri karena tengah memunggunginya. Dia menunggu dengan sabar penjelasan tentang ucapan dari Fatimah. "Ummaya, katakan padaku! Apa kamu masih meragukanku?"
Tubuh wanita itu berbalik. Menatap dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Tangannya memegang rahang milik sang suami, lalu diusap secara perlahan. "Aku tak pernah meragukan cintamu, Bi. Tapi, kadang pikiranku suka berandai-andai. Jika saja dulu ini, kalau saja aku itu," jelasnya.
"Maafkan kerandomanku, Bi. Aku juga kadang sebel dengan pikiranku sendiri." Fatimah melanjutkan dengan bibir mengerucut. Kedua telapak tangan wanita itu, lalu dipegang masing-masing telinga sisi kiri dan kanannya kemudian menatap Aiman memohon. "Maaf, Bi!"
Siapa, sih, pria yang tidak makin cinta jika di rumah memiliki istri yang begitu cantik, baik, pandai bertutur kata, pandai mengurus anak, pandai melindungi diri, dan juga keluarga? Tidak ada. Kalau memang ada suami yang menelantarkan istri seperti itu ... berarti mereka memang tidak pernah bersyukur.
Diberi berlian, kenapa malah memilih kerikil yang tidak ada apa-apanya. Sungguh bodoh dan dungu.
Senyum pria itu begitu tampan dan dengan kedua tangan, ia pun menarik lengan sang istri kemudian diletakkan dibelakang tubuh Aiman sendiri. Sekarang mereka sudah bagaikan pasangan suami istri goal.
Aiman dan Fatimah saling memandang dan mengagumi satu sama lain. Cinta dan rasa sayang yang tulus terpancar jelas dari tatapan, serta gerak-gerik dua pasutri tersebut.
"Selalu ada ruang di dalam hati ini untuk selalu menerima, ataupun meminta maaf atas segala sesuatu yang sudah, maupun belum pernah terjadi dalam hidup kita. Karena aku dan kamu akan selalu menjadi kita sampai kapanpun." Dua kening itu saling menempel, menyalurkan rasa hangat dan nyaman dengan embusan napas saling menerpa kulit mereka.
Kedua tangan Fatimah kini dikalungkan ke belakang tengkuk leher sang suami. Membiarkan Aiman merangkul pinggang si istri untuk menjaga keseimbangan karena berada di dekat pria tersebut masih membuat diafragma di dalam tubuhnya bekerja tidak normal.
Anggap saja Fatimah ini lebay karena masih saja bersikap layaknya ABG yang tengah kasmaran. Namun, siapa peduli? Selama pria itu adalah Aiman, detak jantungnya akan selalu berdetak melebihi batas normal.
"Haruskah aku percaya, Sayang? Atau, itu hanya kata-kata agar diriku melayang?" Fatimah menggesekkan hidung mereka pelan sehingga memberikan sensasi sengatan listrik. Namun, ini lebih mendebarkan.
__ADS_1
Satu sudut bibir pria itu terangkat ke atas. Dia begitu menikmati ke1nt1m4n yang diciptakan oleh sang istri. "Aku gak perlu memberikanmu kata-kata, maupun hal lain. Karena aku yakin, jika dirimu selalu melayang jika berada di dekatku. Bukankah begitu, Ummaya?"
Dua pasutri itu tersenyum manis, lalu jarak pun semakin dikikis oleh mereka berdua. Ketika dua bibir itu sudah begitu dekat dan tinggal sedikit lagi saling mengenal. Akan tetapi, suara teriakan dan dorongan pintu kamar membuat tubuh Aiman dan Fatimah refleks menjauh.
"Abi, Ummi!" seru Hassan dengan wajah marah. "Mas Asa udah manggil dari tadi, loh. Kenapa gak dijawab-jawab juga?"
Fatimah langsung pura-pura membetulkan letak selimut Khumaira, sedangkan Aiman sendiri tengah menggaruk belakang kepalanya canggung. Hampir saja Hassan melihat hal yang memang tidak pantas dilihat oleh anak seusianya.
Pria itu berdehem, lalu merangkul bahu sang anak untuk dibawa keluar. Asli, jantung dua pasutri tersebut masih bergemuruh seperti genderang yang mau perang. Namun, Aiman harus segera mengikuti kemauan si kecil jika tidak ... bisa mati muda dia nanti karena pertanyaan Hassan yang tak kunjung selesai.
"Ada apa, Sayang?" Mata itu mengawasi Fatimah yang ternyata justru menyusulnya bersama dengan Khumaira. "Apa Maira terbangun?"
Fatimah mengangguk. Dia lalu menatap Hassan yang kini tengah cemberut lantaran robot yang sedang dimainkan tangannya patah, sedang jalanan mobil hot well juga mengalami hal sama. Pantas saja Mas Asa marah, batinnya.
Anak lelaki itu mengangguk tanpa ragu, lalu membiarkan sang ayah terbengong di tempat lantaran diabaikan oleh Hassan, serta Fatimah. Lalu apa tugasnya ia di sini? Hei, dia adalah seorang lelaki, suami, ayah yang tentu saja mempunyai peran penting di dalam rumah. Akan tetapi, ini apa?
"Abi merasa terabaikan," ujar Aiman, lalu duduk di dekat Khumaira yang otomatis bersebelahan dengan Hassan. Namun, si anak lelaki justru cuek.
"Abi sebaiknya lihatin adek aja! Biar Ummaya yang reparasi mainan Mas Asa," ucapnya tanpa melihat Aiman.
Fatimah terkikik geli melihat wajah shock Aiman. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya tengah memperbaiki mainan Hassan. Ini bukan kali pertama si ibu mereparasi, melainkan berkali-kali.
"Seneng banget kayaknya ummamu lihat Abi terabaikan, Nak," sindir Aiman, tetapi tatapan matanya terus saja melihat Khumaira.
__ADS_1
Wanita itu tertawa. "Apa, sih, Bi? Orang tadi umma gak sengaja, kok," elak Fatimah tak mau disalahkan.
Mata pria itu memicing ke arah sang istri. Akan tetapi hal selanjutnya justru membuat Aiman kaget. Mainan kincringan yang tadi berada di tangan Khumaira, justru terlempar tepat ke mukanya.
Hassan dan Fatimah tak kalah terkejut. Namun, setelah itu mereka justru tertawa terpingkal. Sang istri begitu lepas ketika menertawakan si suami yang terkena lemparan bebas mainan Khumaira, sedangkan anak pertama sampai guling-guling.
"Abi kasihan, ya, Ma?" Tawa Hassan masih mengiringi ucapan yang terlontar dari bibirnya. Anak tersebut bahkan tidak sungkan, apalagi takut kepada sang ayah.
Aiman yang sadar pun langsung mengulas senyum kaku. Sakit, sih, tidak. Akan tetapi, wibawanya sebagai seorang ayah sudah hilang. Terutama setelah Hassan justru menatapnya dengan tatapan meledek.
Fatimah melipat bibir untuk menahan tawa yang hampir menyembur lagi. Namun, ia tahan untuk menghargai sang suami yang justru sudah berwajah masam. "Hush! Mas Asa gak bolehlah ngomong seperti itu. Nanti Abimu purik," ujarnya berbisik di akhir kalimat.
"Ummaya ... Abi denger, lho!"
Fatimah langsung menyemburkan tawanya lagi. Hari ini suasana hati wanita tersebut terasa berganti-ganti seperti bunglon. Pagi yang bahagia, disusul dengan air mata di siang harinya, sekarang dibuat tertawa geli karena ulah sang suami.
"Tawa terus!" Aiman menyindir sang istri yang tidak mau berhenti untuk melepaskan tawanya, sedangkan Hassan sudah berhenti dan kini tengah menarik-narik lengan baju sang ibu. Namun, dia tidak peduli dan memilih untuk pergi ke taman belakang bersama Khumaira.
"Ayo pergi, Maira! Kita biarkan umma dan Mas Asa di sini. Huuhh, salah siapa rese sama Abi! Makanya kita jangan dekat-dekat dengan mereka. Kita Bestie, kan, sekarang, Sayang?" Aiman sudah seperti orang gila karena bicara sendiri pada bayi.
Hassan sendiri cuek dan tetap menginginkan Fatimah untuk segera mereparasi robot dan mainan lain. Namun, sebuah panggilan kembali masuk dari ponsel si ibu. Dahinya berkerut saat mendapati nama pria lain di sana. "Umma?"
"Iya, Sayang. Ada apa?"
__ADS_1
"Ada yang nelpon!"