
"Aku harus mencari kerja di mana lagi? Sudah beberapa tempat aku datangi, tetapi mereka selalu menolakku karena usia yang sudah tidak muda lagi. Hahhh …."
Aiman duduk di bawah pohon besar yang berada di depan sebuah toko. Sudah dua Minggu ini pria tersebut mencari kerja, tetapi belum juga ada hasilnya. Lelah dan haus tengah ia rasakan. Terik matahari berada tepat di atas kepala sehingga membuatnya sedikit pusing.
"Aku tidak mungkin hanya berpangku tangan, sedangkan anak dan istriku butuh uang untuk membeli ini dan itu. Aku harus mencari kerja lagi. Mengeluh pun tidak akan membuatku menjadi kaya!" tutur Aiman kembali menyemangati dirinya sendiri.
Pria itu pun segera beranjak untuk kembali menyusuri jalanan kota yang terlihat ramai oleh lalu lalang orang yang hendak belanja, atau hanya sekadar hangout bersama teman.
Aiman melihat sekitar, berharap akan adanya pertolongan Tuhan untuk memberikannya sebuah pekerjaan, atau apa pun yang menghasilkan uang.
"Tabunganku juga udah mulai berkurang, tidak mungkin aku mengganggu usaha istri. Mau taruh di mana harga diriku, kalau wanita yang bekerja dalam pernikahan kami?"
__ADS_1
Aiman mengepalkan tangan kuat dengan mata penuh tekad untuk bisa meraih kembali masa depan yang cerah. Dia percaya jika Allah selalu ada di sisi umatnya yang tengah membutuhkan. Tidak mungkin Sang Pencipta meninggalkan insan yang percaya akan kekuasaanNya.
"Mas Asa, Maira, Ummaya … doakan Abi supaya bisa cepat dapat kerja, yah! Nanti, kalau sudah dapat, kita bisa jalan-jalan lagi," tuturnya penuh rindu saat melihat wajah mereka di wallpaper ponsel pria tersebut.
"Masya Allah. Baru juga berucap, ternyata istriku sudah tidak sabar ingin mendengar kabarku." Dia tersenyum saat menemukan id caller sang istri tengah memanggil. Dengan cepat, ia mencari tempat duduk untuk memudahkan ketika komunikasi.
"Assalamualaikum, Ummaya." Wajah yang tadinya hampir menyerah. Kini langsung semangat kembali, apalagi setelah mendengar suara bidadarinya. Rasa lelah pun langsung sirna, berganti dengan semangat juang yang membara untuk mencari pekerjaan lagi.
Khumaira Baha Baseer sekarang sudah hampir berusia dua bulan dan sedang gemes-gemesnya, apalagi pipi chubby si baby yang selalu menjauh Hassan tak tahan untuk tidak menggigit pipi sang adik.
"Kalau begitu, Abi nyari kerja lagi, ya, Sayang. Titip anak-anak dan minta doanya juga buat Abi, supaya cepet dapat panggilan kerja. Jaga diri baik-baik di rumah. Aku sayang kamu dan anak-anak. Love you," ucap Aiman dengan senyum mengembang lebar melihat betapa lucu, dan menggemaskan anak gadis mereka.
__ADS_1
Selain ia mencari langsung, Aiman juga sudah beberapa kali mengirimkan surat lamaran ke bagian dinas, atau bahkan ke institusi lainnya. Namun, hingga saat ini belum ada kabar apa pun dan itu terlihat aneh.
"Permisi, Mas. Maaf, apa Anda melihat keponakan saya?"
Sebuah suara lembut tiba-tiba menegur Aiman yang tengah memandang wajah Fatimah, serta kedua anak mereka. Pria itu pun mendongak dan tubuhnya pun langsung terjengkang ke belakang.
"Astaghfirullah hal adzim. Sadar, Man! Ini pasti hanya halusinasi semata!" Aiman menampar wajahnya sendiri saat melihat sosok wanita bersetelan formal dengan surai tergerai indah tengah menatapnya bingung.
"Mas, apa Anda baik-baik saja?"
"Menjauh! Tolong, jangan seperti ini! Kamu itu udah tenang di sana. Jadi, aku harap kamu tak datang lagi ke sini!" Pria itu meracau tak jelas hingga membuat gesture mengusir kepada perempuan yang jelas masih menapak di atas tanah.
__ADS_1
Perempuan cantik itu pun mengernyit. Dia yang berniat untuk menanyakan keberadaan sang keponakan pun mengurungkan niatnya, lalu pergi meninggalkan Aiman yang bersikap sangat aneh. "Orang, kok, begitu," cibirnya.