
Riko berlari cepat menerobos lift yang hampir saja menutup. Dadanya terlihat naik turun, disusul kakinya yang tidak bisa diam, serta tatapan penuh kecemasan. Dia bahkan mengabaikan decakan, serta omelan dari salah satu lansia karena sudah berbuat berbahaya.
"Paa kamu ini memnag punya nyawa seribu, Nak? Sehingga melakukan tindakan seperti itu di depan kami. Bahkan nenek sudah hampir mati berdiri karena serangan jantung," omelnya pada Riko.
“Maaf, Nek. Maaf semuanya.” Pria itu membungkuk kepada kelima orang yang ada di dalam lift, lalu kembali sibuk menekan nomor lantai di mana sang kekasih tinggal.
"Ckckck, anak muda zaman sekarang, kalau diberitahu orang tua mana pernah mau denger."
Kali ini si durian kembali terdengar di belakang tubuh Riko. Namun, tidak sama sekali digubris oleh pria tersebut. Dirinya justru berkali-kali berdecak kesal lantaran lift yang tengah dinaikinya begitu lelet.
Akhirnya setelah sampai, Riko pun langsung berlari menuju kamar Maya. Dia yang sudah diberitahu sandi apartemen sang kekasih pun begitu cepat memasukkan angka-angka itu dan pintu pun terbuka.
“May! May, kamu di mana?” Riko langsung berteriak memanggil si pemilik apartemen, tetapi tempat itu terlihat begitu sepi seperti tak berpenghuni. “Sayang, ini aku Riko.”
Kembali hening yang menyapa Riko. Dia sedikit ragu untuk membuka satu-satunya tempat di apartemen yang belum ia kunjungi, yaitu kamar. Ruangan tersebut memang tertutup, bahkan pria tersebut sanksi akan menemukan Maya di sana. Namun, pikiran itu segera diterabas.
“May, aku masuk, yah,” ucap Riko setelah beberapa kali mengetuk, tetapi tak mendapatkan balasan apa pun.
“Apa jangan-jangan ini orang pingsan, atau … ah, tidak-tidak. Kamu gak boleh ngomong kayak gitu, Riko. Sebaiknya aku masuk ke dalam, sekalian mengecek kondisinya." Riko mengambil inisiatif sendiri dan mendorong pintu di depannya.
Namun, yang ia temukan adalah kegelapan. Keadaan hordeng yang memang belum dibuka menambah kesan horor lantaran sama sekali tak ada pencahayaan apa pun masuk ke dalamnya.
“May, ini aku Riko. Apakah kamu sedang tidur?” tanya pria itu, sambil melongok ke dalam.
Si pemilik kamar yang tengah beristirahat melenguh saat waktu istirahatnya terganggu. Dia memicingkan mata saat cahaya yang berasal dari lampu kamar dinyalakan oleh Riko. Dia mengucek kelopak matanya yang terasa lengket, setelah itu dibuka paksa.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Maya bertanya heran saat menemukan sang kekasih tengah duduk di atas ranjang, sambil memperhatikannya.
“Kenapa kamu bisa seperti ini, May?” Pria itu bukannya menjawab pertanyaan sang kekasih, dia justru bertanya hal lain. Riko terlalu cemas dengan kondisi wajah bengkak, serta beberapa luka lain di tubuh Maya.
“Oh, ini.” Maya menjawab begitu santai seolah luka-luka yang ia dapatkan bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, tetapi berbanding terbalik dengan Riko.
__ADS_1
“Oh? Hanya, oh, saja?” Riko berteriak frustasi dengan wajah santai sang kekasih. Dia menggaruk kening yang mulai berkedut kesal. “Apa kamu gak ada keinginan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam misimu kemarin? Bukankah kamu juga berjanji untuk tidak terluka?”
Riko mencecar Maya dengan banyak pertanyaan. Dia melakukan ini karena sedang kesal, terutama pada dirinya sendiri. Dia merasa tidak berguna sebagai kekasih, apalagi ketika wanitanya sedang berada jauh dari pantauannya.
Ingin sekali Riko menghajar habis orang yang sudah melukai kekasih hatinya. “Kenapa kamu gak menghubunguku langsung saat sudah sampai di Jakarta? Atau, kamu ini memang sengaja membuat diriku seperti orang dungu karena tidak tahu apa-apa tentangmu?”
“Iya, seperti itu?” tanya Riko skeptis. “Kamu anggap aku ini apa, May? Kenapa aku justru mendengar ini semua dari orang lain? Kenapa bukan dari dirimu sendiri?” Riko begitu kecewa, kecewa dengan dirinya sendiri, bukan pada sang kekasih.
“Sudah selesai ngomongnya?” tanya Maya begitu santai.
Riko mendengkus. “Sudah. Puas kamu!” ketusnya.
Maya mengangguk mengerti. “Kalau begitu ambilkan aku air. Soalnya tenggorokanku kering!”
Pria itu menatap sang kekasih tak percaya karena dengan santai menyuruhnya mengambil minum. Seolah-olah kata itu tidak berarti apa pun. “Emang kamu kira aku pembantumu apa?” Sabar, Riko! Dia itu pacar kamu!
“Ckckck. Ribet banget, sih!” Maya pun segera melempar selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya. Sport bra, serta celana pendek di atas lutut kini tengah melekat di tubuh wanita tersebut. Dia tetap berjalan santai seolah Riko tak ada.
“Kamu mau ke mana?” tanya Riko ketus. Dia sebenarnya sedikit tertegun akan indahnya lekuk tubuh Maya. Namun, segera dienyahkan pikiran kotor itu dan melanjutkan acara ngambeknya.
“Aish. Sini biarkan aku saja yang ambil!” Riko segera menarik tubuh Maya hingga wanita itu pun kini sudah duduk kembali di atas ranjang, sedangkan dirinya pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Maya hanya mengedikkan bahu melihat sikap sang kekasih yang tengah merajuk. Dia menguap begitu lebar lantaran masih merasa lelah karena perjalanan jauh, serta luka di tubuhnya masih berdenyut sakit.
Tidak berselang lama, Riko kembali datang ke kamar dan menemukan Maya yang sedang melatih otot tangan dengan menggunakan barbel. Dia pun berdecak. “Kenapa kamu malah mengangkat yang berat-berat, sih, May. Harusnya kamu itu istirahat, bukan malah cari penyakit!”
“Bawel banget, sih, Rik.” Maya pun menaruh barbel itu di tempat biasa ia menaruh alat-alat olahraga di dalam kamar. Sedikit pergerakan membuat kondisi tubuhnya rileks.
Riko terus memperhatikan Maya yang kini sudah duduk di atas ranjang. Bekas luka sayatan di lengan sang kekasih membuatnya ngilu, tetapi ia bisa apa. Maya terlalu keras kepala untuk dinasehati oleh dirinya.
Pluk
__ADS_1
“Eh.”
“Aku capek, Rik. Biarkan seperti ini sebentar!”
Kedua bola mata Riko membola. Dia menahan napas saat kepala wanitanya ada di atas paha dan dengan nyaman memejamkan mata. Tidak tahukah Maya, kalau apa yang dilakukan sudah membuat Riko menahan napas, serta degup jantung si pria mengalami peningkatan dalam berdetak.
“Kepalaku pusing,” keluh Maya.
“Oh. Terus kamu mau aku ambilkan obat?”
“Gak, Badak!” Mata wanita itu pun terbuka, menatap datar sang kekasih yang tidak peka akan keinginannya.
“Lalu?” Wajah Riko masih kaku karena menyadari wanitanya berada di atas pangkuan.
“Dipijatlah!” jawab Maya ketus. “Ish, jadi laki gak peka banget, sih!”
Tanpa menunggu omelan kedua kalinya, Riko pun segera memijat sesuai keinginan Maya. Namun, baru beberapa detik, sang kekasih sudah kembali berteriak kesal lantaran si pacar memijat di tempat yang kurang pas.
“Kata kamu aku suruh mijetin. Terus, kenapa kamu malah marah-marah?”
“Diamlah. Kau membuatku semakin pusing saja!” Maya hendak bangun, tetapi segera ditahan oleh Riko.
“Sini aja! Maaf, tadi otakku masih nge-lag gara-gara kamu yang tiba-tiba ada atas pahaku,” jelas Riko panik, lalu mengusap rambut sang kekasih dengan lembut.
“Ckckck, kalau aku gak ngomel kayak gini, kamu pasti gak bakalan ngerti sama apa yang aku inginkan," gerutu Maya yang hanya dibalas senyuman bodoh sang kekasih.
***
"Kamu Riko, kan?"
"Iya, saya Riko. Maaf Anda siapa, yah?"
__ADS_1
"Beri aku uang lima puluh juta!"
"Hah!"