
"A-bi, kamu sudah sadar?" Fatimah langsung berdiri dari kursinya. Dia sangat senang hingga memeluk tubuh sang suami dengan penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih karena Engkau telah mengabulkan doaku," ujar Fatimah dengan haru.
Wanita itu bahkan tak segan menciumi wajah pucat suami yang hanya pasrah ketika dijadikan bahan pelampiasan. Fatimah bahkan tak melepaskan pelukan di tubuh Aiman karena saking takut kehilangan pria tersebut.
"Aku sangat mencintaimu, Bi. Tolong jangan sakit! Kami benar-benar tidak bisa hidup tanpa Abi,” pinta Fatimah dengan wajah memelas.
Tangan yang sedari tadi berada di samping sisi tubuhnya, kini mulai terangkat lemah untuk balas menepuk punggung sang istri. Bibirnya melengkung bersama setitik bulir kristal yang menetes di ujung mata pria tersebut.
Pupil mata Aiman seketika melebar kala melihat jelas sosok berbaju putih tengah tersenyum padanya. Itu adalah Aisyah–istri yang sudah beberapa tahun lalu pergi meninggalkan dia dan anaknya. Aisyah, apakah ini yang kau minta, Sayang? Jika memang benar, tolong jaga kami dari atas sana!
Namun, bayangan Aisyah hanya datang sebentar, kemudian menghilang bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka dari luar. Mungkin dia hanya ini gnn memastikan keadaan suami, beserta keluarganya dalam baik-baik saja.
"Ibu," panggil Fatimah saat mendengar bunyi pintu dibuka.
"Nak, apa kamu sudah sadar?" Siti yang baru saja datang segera berlari masuk. Tangannya dengan cepat mengusap wajah pucat Aiman. "Terima kasih, Ya Allah. Karena Engkau telah membuat anakku sadar."
Fatimah lalu menyingkir sebentar untuk membiarkan ibu mertua memeluk anak tercintanya. Dia tersenyum kecil saat merasakan tangan sang suami tak mengizinkannya jauh walau hanya barang sekejap. “Aku tetap di sini, Mas,” ucapnya memberitahu.
"Mas Asa dan Ma-ira mana?" tanya Aiman dengan sedikit gagap. Tenaganya belum pulih total, apalagi setelah darah cukup banyak keluar dari tubuhnya.
Beruntung benturan itu tak membuatnya hilang ingatan seperti yang biasa terjadi di televisi-televisi. Karena memang ini bukanlah sinetron, melainkan dunia nyata yang baru saja dialaminya.
__ADS_1
Sakitkah? Jelas sakit. Aiman bukan pria yang memiliki kekuatan supranatural yang bisa menahan rasa sakit ketika berhadapan dengan benda tajam, atau benda tumpul yang akan mengakibatkan luka.
"Mereka ada di bawah, Nak," balas Siti. Dia lalu menoleh ke arah Fatimah yang sedang menghapus bulir kristal di wajah sembabnya. “Kamu makan dulu, Nak. Biar Iman sama ibu aja.”
“Fati belum lapar– eh, kenapa, Bi?” tanya Fatimah saat sang suami justru mengeratkan genggamannya.
“Makan, Sayang!” titahnya lemah, tetapi itu sudah cukup menjelaskan bahwa Aiman tak menerima penolakan.
Fatimah ingin menolak, tetapi melihat mata pria itu seolah tak ingin dibantah pun membuatnya urung. Jujur, dia memang tidak merasa lapar, apalagi setelah melihat kedua kelopak mata itu sudah terbuka. Lega bercampur senang itu sudah lebih dari segalanya.
“Kalau begitu Fati ke bawah dulu, ya, Bi, Nek,” pamit Fatimah kepada suami dan ibu mertuanya.
Aiman menatap balik wajah istrinya. "Kamu akan pergi?"
Lah, bukankah tadi dia sendiri yang meminta Fatimah untuk makan? Terus, kenapa giliran sekarang si istri mau pergi malah ditahan? Sepertinya kepala Aiman cukup mengalami konslet sehingga berakibat membuat orang lain bingung.
“Abi tahu sendiri, 'kan, kalau mereka tidak bisa jika harus berlama-lama di rumah sakit? Tapi, besok pagi umma janji akan datang lagi. Bolehkan?” tanya Fatimah lagi.
Aiman sebenarnya tidak rela jika istrinya pergi sekarang karena ada beberapa hal yang ingin didiskusikan bersama. Akan tetapi, dia tidak boleh egois karena ada dua anak kecil yang harus dijaga Fatimah. Pria itu pun akhirnya mengangguk. “Hati-hati, Sayang!” ucapnya setengah tak rela.
Fatimah mengangguk. Namun, sebelum pergi, Aiman sudah lebih dulu menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya, lalu setelah itu dikecupnya lembut kening si istri lama.
“Jangan lama-lama ke sininya, Sayang!”rajuk Aiman dengan wajah memelas.
__ADS_1
“Iya, Sayang,” balas Fatimah, lalu balas mengecup puncak kepala sang suami. “Assalamualaikum,” pamitnya kepada Siti dan juga Aiman.
***
Setelah kepergian Fatimah, Siti kini menggantikan sang menantu untuk menjaga, serta merawat anak satu-satunya dengan telaten. Namun, ketika dirinya ingin melakukannya, ternyata semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh wanita itu.
“Bu, apa aku boleh bercerita?” Aiman segera memecah hening kala melihat sang ibu tengah menguap di atas kursinya. Dia tahu jika ibunya pasti juga merasa lelah karena merawat dua cucu sekaligus.
Siti yang hendak memejamkan mata, menjadi mengurungkan niatnya, lalu mendekat kembali ke arah sang anak. “Apa yang mau kamu ceritakan, Sayang?” tanyanya dengan sabar.
Aiman mencoba mengatur detakan jantungnya yang tiba-tiba berdetak cukup kencang, padahal ia sedang tidak melakukan hal yang berefek ke kinerja si jantung.
Aiman memilih mengabaikan dan dia pun sudah bertekad untuk jujur dan tidak akan pernah menutup-nutupi apa yang tengah dirasakan kepada sang ibu. Hanya dia yang dimiliki olehnya. Wanita paruh baya itu sudah menjadi sosok ibu, sekaligus ayah untuk Aiman Baha Baseer.
“Aku bertemu dengan Aisyah, Bu,” akunya jujur.
“Hah, cerita gila macam apa itu, Man?” Mata yang tadinya terasa berat dan sulit untuk dibuka, justru kini langsung terbelalak. Siti menatap wajah Aiman dengan pandangan tak mengerti.
“Mana pernah aku berbohong padamu, Bu!” elakknya.
“Terus … haruskah aku memberikan reaksi yang wow juga?” Situ terlihat tak percaya, bahkan ia mencibir kehaluan sang anak dengan memilih pergi menuju sofa panjang yang akan digunakan untuk beristirahat malam ini.
"Daripada kamu mikirin orang yang sudah meninggal, sebaiknya kamu mikir bagaimana bisa mempertahankan pernikahan kalian!" sarannya.
__ADS_1
Aiman kembali menunduk dan berbaring ke arah kanan di mana pemandangan langit malam terlihat dari jendela ruang rawatnya. Hal itu cukup membuat perasaan yang tadinya tengah rindu akan sosok istrinya menjadi berubah murung. Siti sama sekali tidak membuat dirinya merasa lebih baik.
“Sebenarnya apa yang dimaksud dari ucapan Aisyah?" tanya Aiman ketika mengingat akan pertemuannya di alam mimpi.