
“Ayo, Umma! Kok, malah diem aja di situ? Temenin Mas Asa buat berenang di kolam yang itu!”
Manik yang sedari tadi hanya menatap kosong ke arah banyaknya kerumunan orang, serta lantai keramik yang basah, tiba-tiba tersadar kala mendengar panggilan dari anak sambungnya.
"Ayo, ke situ, Umma!"
Lagi, Hassan meminta intensitasnya diakui oleh wanita yang sedari tadi terlihat tak fokus. Fatimah bahkan mengacuhkan anak tersebut dan justru menjadi seperti patung, tidak menunjukkan tanda-tanda kebahagiaan.
Takut, justru perasaan itu yang ditemukan oleh Hassan dari tatapan mata ibu sambungnya. "Umma kenapa?"
Napas Fatimah tiba-tiba memburu, bibir gemetar, genangan air juga sudah membasahi kedua netranya yang terlihat akan tumpah kapan saja.
“Um-mma, di si-ni sa-ja, ya, Sa-yang,” ujar wanita itu berusaha keras agar suaranya terdengar baik-baik saja.
Namun, Fatimah juga tak yakin karena indera pendengarnya dengan jelas mendengar nada suaranya bergetar.
Keningnya mengernyit bingung saat melihat ada yang tidak beres dari ibu sambungnya. Dia lalu menggenggam telapak tangan Fatimah dan kedua bola mata itu seketika membola kala menemukan wajah pucat di depannya.
“Umma ini kenapa, sih? Kenapa wajah umma pucat sekali?” tanya Hassan cemas.
"Umma, ba-ik," balasnya gugup.
Bayang-bayang kejadian saat itu, tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam ingatan sehingga membuat wanita itu menunduk. Tidak berani memandang wajah sang anak. Bulir air mata yang sedari tadi ditahan sudah meleleh membasahi wajahnya.
“Mas Asa.” Kepala itu tiba-tiba mendongak dengan wajah basahnya. “Tolong panggil abi! Umma ingin keluar dulu. Umma butuh ruang kosong untuk menenangkan diri!”
Mata itu jelas menyiratkan permohonan sangat kepada si anak, meminta dengan sangat. Fatimah sudah benar-benar tidak bisa menahan bendungan yang sedari tadi sudah mendesak ingin meledak.
"Umma!" Hassan mencoba menahan tubuh ibunya yang hendak pergi. Akan tetapi, pegangan itu pun terlepas saat melihat wajah ketakutan itu. Tangan pun terjatuh di sisi kedua tubuh mungilnya dengan tidak ikhlas.
Mata itu menatap punggung tergesa Fatimah dengan sendu. Bibir Hassan meringis saat melihat tubuh ibunya beberapa kali bertabrakan dengan pengunjung lain. "Umma kenapa?" tanyanya dengan sedih.
Meninggalkan Hassan di tengah keramaian, itu bukanlah keinginan Fatimah. Akan tetapi, trauma membuat dirinya harus segera menjauh dari kolam renang. Jika tidak, ia pasti akan menakuti Hassan dengan tingkah lakunya yang mungkin akan terlihat aneh.
__ADS_1
"Tahan, Fatimah! Jangan di sini! Kamu harus kuat, kamu gak boleh tumbang di sini!" gumamnya dengan bibir gemetar. Langkah kakinya pun terlihat tergesa dan terlihat terburu-buru sehingga beberapa kali menabrak pengunjung lain.
Sedang Hassan sendiri tidak mau bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri. Dia masih berharap, jika apa yang dilihatnya itu bukanlah hal yang serius, apalagi nyata. Akan tetapi, ketika sebuah tangan besar menepuk bahunya, wajah kecil itu menemukan sosok Aiman tengah berdiri tegak di depannya.
“Apa yang Mas Asa lakukan di sini? Terus, umma ke mana?” tanya Aiman, sembari netranya mengedar mencari keberadaan istrinya. Dia bahkan hanya sebentar ke kamar ganti, tetapi wanita itu sudah menghilang dari pandangan.
“Umma bilang, umma butuh ruang kosong untuk bernapas,” ujarnya jujur, lalu kepala itu mendongak menatap sang ayah polos yang tengah menatapnya balik. “Tapi, Mas Asa gak tau artinya apa, Bi.”
"Apa?" Aiman mencoba memikirkan arti dari pesan Fatimah. Setelah beberapa secon berpikir, kedua pupilnya seketika melebar. "Fatimah," gumamnya ketakutan.
"Ada, kita pergi sekarang!" Tanpa menjelaskan, tangannya segera meraup tubuh Hassan dalam gendongan, lalu berlari menuju arah tunjuk si anak saat menjelaskan ke mana arah Fatimah pergi.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aiman membayangkan wajah istrinya.
Aiman yang begitu panik tidak sadar, jika dirinya kini hanya mengenakan celana kolor selutut, dan kaos polos warna biru yang melekat di tubuhnya. Pria itu bahkan harus berkali-kali mengucapkan kata maaf ketika bahunya tidak sengaja menubruk pengunjung lain.
“Umma kenapa, Abi?” tanya Hassan saat melihat kecemasan yang ada di dalam raut Aiman. “Umma baik-baik saja, kan?”
“Abi juga gak tau, Sayang. Sebaiknya kita cari umma dulu, baru setelah itu kita dapat jawabannya.” Aiman mencoba tenang, walau di dalam hati kini tengah kalang kabut mencari istri tercinta.
Kini, setelah dirinya sampai di luar, kepalanya otomatis menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan sang istri, sambil tetap menggendong tubuh Hassan.
"Mas Asa," panggil Aiman kepada anaknya.
"Iya, Abi. Ada apa? Apa umma sudah ketemu?" tanya anak tersebut antusias.
Pria itu menggeleng. “Belum, Sayang. Tapi, apa umma berpesan hal lain juga?” tanyanya penuh selidik.
Hassan menggeleng cemberut. "Gak, Bi. Umma hanya mengatakan itu saja." Wajah itu kembali murung, bahkan kini sudah kembali bersimbah air mata.
"Umma! Umma di mana? Jangan tinggalin Mas Asa! Mas asa janji gak akan merepotkan umma lagi." Tangis Hassan semakin membuat perasaan dan pikiran Aiman semakin kalut. Di saat mereka harus bersenang-senang, tetapi justru ada saja hal yang menunda kebahagiaan itu.
"Sayang. Umma gak akan ninggalin kita. Umma tadi mungkin hanya sedang ingin membeli sesuatu. Jadi, Mas Asa gak perlu nangis lagi!"
__ADS_1
"Gak, Bi. Mas Asa jelas melihat umma seperti orang ketakutan tadi. Umma juga gak mungkin pergi ninggalin Mas Asa seorang diri, jika tak ada sesuatu," bantah Hassan saat ayahnya mencoba berbohong pada dirinya.
“Umma! Umma di mana?” Anak tersebut berteriak lagi di antara padatnya pengunjung yang akan masuk ke dalam kolam renang. Dia tidak peduli, jika kini mereka menjadi tontonan bagi orang lain. Karena yang terpenting sekarang adalah menemukan sang ibu sambung.
"Baiklah kita cari umma lagi, ya. Semoga saja umma tidak lama perginya!" Aiman berusaha berpikir positif agar Hassan pun mengikutinya.
Mereka pun kembali melangkahkan kaki untuk mencari Fatimah. Dua orang itu, bahkan mencoba mencari hingga loket, terus tempat-tempat yang mungkin diminati oleh pengunjung lain, serta toilet. Akan tetapi, selama maaa pencarian itu, tidak juga ditemukan sosok cantik sang ibu.
“Fatimah, kamu sebenarnya di mana, Sayang? Aku bener-bener khawatir sama kamu,” gumam Aiman sedih. Sudah hampir setengah jam mereka mencari, tetapi keberadaan istrinya belum juga ditemukan.
Aiman juga sudah menghubungi bagian kantor tempat wahana bermain yang sedang mereka pijaki untuk meminta mereka mengumumkan berita kehilangan.
Ya, anggap saja mereka lebay, tetapi orang yang tidak dalam posisi ini, pasti hanya bisa mencibir tanpa bisa memikirkan, bagaimana kalutnya hati, serat pikiran mereka.
“Abi, Mas Asa lelah.” Hassan terlihat mulai kelelahan, dia yang tadinya minta berjalan sendiri kini merengek meminta digendong. Jadi, mau tidak mau Aiman pun menuruti keinginan sang anak.
Jujur, Aiman pun juga lelah, tetapi bayang wajah sembab istri yang mungkin tengah seorang diri itu selalu menjadi cambukan untuk segera menemukan wanitanya. Pria itu bertanya-tanya akan kejadian yang membuat Fatimah pergi meninggalkan mereka. Namun, tak menemukan jawaban apa pun.
"Ya Allah, tolong pertemukanlah kami! Jangan biarkan kami kehilangan satu sama lain. Hamba benar-benar masih membutuhkan Fatimah. Jadi, tolong … jangan pisahkan kami!"
Selagi mereka duduk, mata Aiman tak pernah berhenti mencari keberadaan sang istri. Namun, mata itu seketika menyipit kala merasa familiar dengan orang yang tengah berjongkok di balik tembok yang memisahkan antara bangunan kolam renang dengan wahana bombom car.
"Apa itu Fatimah?" tanyanya ragu. "Tapi …."
Aiman semakin yakin, jika orang yang tengah memejamkan mata itu adalah istrinya. Dari baju, kerudung, hingga celana yang dikenakan pun sama persis. Dengan cepat, pria itu lalu menggendong tubuh Hassan dalam gendongan untuk mendekati orang tersebut.
“Umma,” panggil Aiman lirih ketika kakinya sudah berdiri tepat di depan wanita yang tengah duduk diam, sambil bersandar di tembok. "Umma sedang apa di sini?" tanyanya lagi dengan bibir gemetar.
Kedua bola mata wanita itu seketika terbuka, memperlihatkan pupil si wanita yang melebar kala menemukan wajah penuh peluh sang suami, sedangkan wajah bersimbah air mata milik si anak tengah menatapnya penuh kelegaan.
“Loh, kok, kalian bisa ada di sini? Apa kalian sudah selesai berenang?” tanya Fatimah polos.
Ketakutan yang tadi mengguncang tubuhnya, kini sudah mulai hilang sedikit demi sedikit dan itu berkat lantunan ayat suci Al Quran yang sedang didengarkan dari ponselnya. Tangan itu pun melepaskan headset yang menyumpal daun telinganya sedari tadi, kemudian hendak berdiri, tetapi dicegah oleh pelukan erat Aiman.
__ADS_1
“A-abi kenapa?” tanya Fatimah bingung.