
Di suatu tempat, seorang wanita tengah berjalan mengendap untuk mengikuti target buruannya. Matanya begitu awas ketika mengintai Alex, pria berusia 38 tahun yang memiliki istri di mana-mana. Wanita yang berpakaian layaknya ingin pergi ke klub malam itu langsung menginjak batang permen lolipopnya.
Dia sedari tadi sudah gatal ingin mengayunkan satu kakinya tepat ke wajah tengil Alex. Gayanya bagaikan buaya darat yang haus akan belaian setiap kaum hawa di dunia ini. Bodohnya lagi, mereka--wanita murahan-- justru berlomba-lomba menggaet, bahkan tak segan menyembah untuk bisa dijadikan one night stand.
Maya ingin muntah melihatnya. Sumpah, mereka itu kaya gak ada stok laki-laki mapan, atau ganteng lagi apa? Masa modelan kayak pohon toge begitu, kok, diperebutkan! batinnya saat melihat kepala plontos milik Alex.
Wanita itu segera mencibir tanpa tendeng aling-aling ketika tangan Alex tengah melingkari pinggan seksi wanitanya. Apalagi sekarang bibir hitam itu tengah menciumi pipi si partner. Uanjir, itu mulut pengin tak tabok pakai pantatnya Patrick!
“Ckckck, jika di dunia ini hanya sisa pria gila itu, mending aku milih tetap menjadi perawan tua. S14l, kenapa harus memilih jalan ramai seperti ini, sih? Kalau kayak gitu, kan, menyulitkan ku!” Maya segera menatap awas orang-orang yang berpakaian layaknya ja_blay, serta para hidung belang itu. Dia yakin, di antara orang-orang tersebut pasti ada pengawal Alex.
Benar saja. Maya hampir mengumpat kasar saat melihat 3 pria berbadan kekar tengah berjalan mendekatinya. Perempuan itu memperkirakan waktu yang harus dia buang jika harus berurusan dengan mereka.
"Ada apa, May? Kamu aman, 'kan?" tanya seseorang di dalam earphone yang dia pakai di antingnya.
"Sepertinya aku harus olahraga dulu, Bray. Kalian sudah menemukan titik koordinatku bukan?" Maya balik bertanya dengan suara lirih. Matanya terus awas dengan tangan, serta kaki memasang kuda-kuda untuk menghajar lawan.
Setelah mendengar jawaban dari rekannya, Maya yang sempat hilang fokus harus merasakan tendangan di bagian wajahnya. Umpatan kasar pun segera keluar dari mulut berwarna merah darah itu. Darah segar juga keluar dari hidung bangirnya, tetapi hal tersebut tidak membuat ia tumbang.
"Wow, tendangan yang cukup besar untuk permulaan. Ok, mari kita lihat siapa yang akan menang kali ini. Kalian, atau aku!"
Dengan cepat, ia segera mengelak dan menghajar balik satu persatu pria berbadan besar itu. Maya sedikit merasa kesulitan dengan gaun panjang yang kini tengah ia pakai. Tanpa membuang waktu, ia segera menyobek kain itu hingga paha mulusnya pun terpampang jelas.
Panggil saya Juki, Juku, dan satu lagi Judo. Pria yang berambut gondrong--Juki.langsung memeluk tubuh Maya dari belakang, mengunci lawan, tetapi Maya terlalu gesit untuk bisa membaca situasi dan dengan cepat wanita itu mengubah kondisi.
Dengan manuver begitu cepat, Maya membanting tubuh besar Juki hingga kini tergeletak di atas lantai, lalu memberinya sebuah tin_juan di bagian wajah hingga pada pukulan terakhir membuat pria itu tak sadarkan diri.
Semua orang memekik, bahkan menahan napas saat melihat perempuan berbadan cukup mungil mengalahkan babon di antara tiga Pesumo lainnya. Trio J itu memang terkenal begitu kuat dan tidak mudah dikalahkan.
Namun, Maya dengan begitu kuat membanting tubuh Juki hingga pria itu pun tak sadarkan diri.
Juku yang melihat temannya tumbang pun tidak terima. Dia langsung maju. Menyerang Maya dengan menggunakan pisau lipat. Pria itu terus berusaha membuat wanita tersebut lelah, kemudian menikah bagian dada si lawan.
Namun, Maya segera menghindar dan harus merelakan lengan mulusnya terkena ujung pisau Juku. "Be_reng_sek! Berani sekali kau melukai tubuhku!" ujarnya tidak suka, lalu lanjut menyerang balik pria itu hingga nasibnya sama seperti si Juki.
Beberapa orang yang melihat adegan perkelahian itu begitu ternganga. Mereka tidak percaya, seorang perempuan bergaun merah sedang melibas habis dua pria berbadan dua kali lipat dari tubuh mungilnya.
Tidak ada yang berniat menolong Maya. Yang dilakukan mereka, justru sibuk merekam kejadian itu dan pasti akan memposting video itu di media sosial masing-amsing. Sungguh manusia zaman sekarang memang sudah terpedaya dengan gawai hingga sudah hilang jiwa kemanusian mereka.
__ADS_1
Miris, tetapi itulah kehidupan zaman sekarang.
“Wah, gak nyangka juga di balik tubuh mungilmu, kau justru menyimpan banyak kekuatan, Sayang!” puji Judo, sambil bertepuk tangan seorang diri. Seolah-olah apa yang baru saja dia lihat adalah sebuah pertunjukan terwow selama ia hidup.
Dengan tersenyum miring, Judo melihat dua rekannya yang sudah tumbang, tak sadarkan diri di atas lantai. Melihat itu tentu menimbulkan kekaguman di dalam hatinya.
“Maaf, Tuan. Sebaiknya cabut lagi panggilan sayangmu padaku! Karena itu membuatku mual," balasnya sinis.
Di beberapa bagian tubuh Maya kini tidak mulus lagi. Karena ada beberapa luka sayatan, serta lebam di bahu bagian kiri. Semua ini didapatkan dari Juki dan juga Juku. Wanita itu bahkan meludah dan rasa karat terasa di indera perasanya. Mata itu lalu menatap bengis orang suruhan Alex.
“May ... Maya, kau di mana? Kenapa tadi aku memanggilmu tetapi tidak dijawab?” Suara dari earphone segera menghentikan langkah Maya yang hendak menghajar habis sisa dari suruhan Alex–Si Raja Judi di pulau seberang.
“Kenapa kamu diam, Sayang? Apa kamu berubah pikiran untukmenghabisiku? Dan bersedia menjadi mainanku?”
Maya mengabikan suara dari sang atasan dan berdecih jijik. “Aku bahkan sekarang berniat untuk memberikan sebuah kenangan indah, sebelum dirimu berkumpul dengan kedua rekanmu, Tuan,” balasnya dengan seringai licik.
“Oh, aku sangat merasa tersanjung dengan ungkapan manismu, Sayang,” balas pria berbadan besar itu dengan wajah yang entah kenapa membuat Maya ingin menonjokknya hingga habis.
Maya yang sudah kehabisan kesabaran segera menyerang Judo. Dia terus menghujani pukulan, bahkan tinjuan ke badan si lawan. Namun, ternyata semua tak berpengaruh apa pun. Dia sedikit kewalahan hingga membuat ia lengah.
Kesempatan itu pun dipakai Judo untuk melumpuhkan lawan. Dengan satu tangan, ia mengangkat tubuh Maya di atas bahunya, seperti mengangkat karung beras yang tidak ada apa-apanya.
"Ayolah, Sayang! Bukankah kamu berjanji akan menyenangkan ku?" Judo tersenyum penuh naf_su saat bayangan kegiatan panas berputar di dalam pikirannya "Lagipula, Tuan Alex juga sudah memberikanku kuasa penuh."
Kedua mata Maya melotot syok, apalagi setelah anting yang ia pakai justru jatuh di jalan. Dia terus berusaha untuk melepaskan diri, tetapi begitu sulit. S14l, kenapa aku menjadi lemah begini, sih? Tolong aku, Ya Tuhan!
“Diamlah, Sayang. Ini tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi kita sampai, kok. Kamu tak perlu bersusah payah memberikanku kenangan manis, karena diriku sendiri yang akan membuatmu melayang akan kehadiranku, Baby!” Sebuah tamparan dilayangkan ke pan_tat Maya hingga mmebuat wa ita itu memekik.
Wanita itu terus mengumpat, bahkan memukul punggung pria tersebut. Akan tetapi, tidak memerikan efek apa pun pada si Judo. Tak mau menajdi pemuas na_fsu lelaki, Maya mencari cara agar bisa lepas dari cengkraman predator gila macam Trio J. Bisa mati dia ditunggangi gajah.
Earphone yang dia pakai sudah hulang, membuat Maya semakin dirundung gelisah. Saat sedang berpikir, tubuhnya tiba-tiba dibanting di atas kursi taman. Oh my God! Ini sakit sekali.
Dia mengedar, mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyerang pria yang kini tengah melepaskan jas, dan pakaian lain yang melekat di tubuh besarnya.
“Kenapa, Sayang? Apa kau sudah tidak sabar ingin melihatku berada di atasmu?” tanya pria itu penuh na_fsu.
“Cuih!” Maya meludah ke depan saat dengan percaya dirinya pria itu mengira dirinya ingin dimiliki oleh Judo. “Jangan pernah berani mendekat, apalagi berniat untuk meniduriku, Tuan. Karena itu pasti akan menjadi mimpi burukmu!”
__ADS_1
“Jangan seperti itulah, Manis. Bukankah kau mengikuti tuanku untuk mendapatka kepuasan– Arghhhh!” teriakan penuh kesakitan dari pria tersebut membuat Maya segera kabur. Ya, dengan kekuatan penuh, wanita itu menendang pusaka Judo hingga membuat pria berbadan gembul itu meringkuk kesakitan.
"Riko, aku harap kamu masih menungguku di sana!" Maya masih ingin hidup dan ingin bertemu dengan sang kekasih. Dia terus berlari di antara gelapnya malam, serta pandangan aneh dari orang-orang sekitar yang melihat gaunnya sudah compang-camping.
Mereka pasti tengah mengira jika Maya ini adalah korban pem3r_k0s44n. Akan tetapi, dia tidak peduli. Tungkainya terus berlari menuju van yang sudah sedari tadi menungguinya di tengah jalan.
Sesampainya di van, kedua rekannya yang berjenis kelamin laki-laki segera mencecar Maya dengan banyak pertanyaan. Namun, wanita itu hanya diam dan menarik jaket bomber dari kursi cepat untuk menutupi tubuh yang terluka.
“Jalan!” ujar Maya yang meminta rekannya–Sigu untuk membawa mobil mereka menjauh dari tempat terkutuk itu.
Sementara Gara, dia menatap Maya dengan bingung. Mereka memang sempat kehilangan kontak, bahkan pimpinanannya sendiri sudah menyuruh mereka untuk mencari Maya, tetapi belum sempat keluar mobil, wanita tersebut sudah masuk ke dalam Van.
Gara dan Sigu sibuk saling melirik satu sama lain. Mencoba menebak apa yang terjadi dengan rekan satu tim yang terkenal begitu dingin dan jarang gagal dalam menjalankan misi.
“Bilang pada atasan, aku belum berhasil menangkap Alex!”
“Baik.” Gara segera menuruti permintaaan Maya dan menghubungi sang atasan untuk memberitahu keadaan, serta situasi yang tengah terjadi pada Maya. Baru beberapa detik, sebuah panggilan video pun dilakukan oleh sang pemimpin.
“Ckckck, kenapa kau selalu membuatku sulit, sih, Gar.” Dengan berat hati, Maya pun merapikan rambut, serta penampilannya, setelah itu barulah ia mengahadap sang atasan lewat video call.
“Apa yang terjadi? Apa mereka sudah melakukan hal yang tidak-tidak padamu?” Sang atasan bahkan langsung mencecar Maya yang belum mengatakan apa pun. Wajah dalam layar ponsel itu benar-benar tengah dirundung cemas, apalagi setelah melihat langsung kondisi wajah bawahannya.
“Apa kamu itu bodoh? Bukankah saya sudah melatihmu teknik dalam bertarung? Apa itu masih belum juga membuatmu bisa melawan mereka?”
Gara dan Sigu segera terdiam saat mendengar sang atasan tengah memarahi Maya. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Diam adalah cara paling mapuh untuk menghindar dari terjadinya perang ketiga dalam tim.
“Sekarang kalian pulang ke Jakarta! Tak ada penolakan!” Panggilan itu pun terputus hingga membuat Maya melengos.
Wanita itu menggigit bibir bagian bawahnya begitu keras hingga ia bisa merasakat karat di dalam mulutnya. Maya tidak peduli itu karena sekarang yang tengah melingkupi hatinya adalah sebuah kekecewaan yang diperlihatkan sang atasan kepada dirinya.
“Untuk pertama kalinya aku mempermalukan diriku sendiri. Dasar bodoh! Kamu benar-benar tidak berguna, May," rutuk Maya pada dirinya sendiri.
“May, jangan seperti itu! Namanya bekerja pasti akan ada saatnya kita mengalami kegagaglan. Jadi, kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti itu. Aku yakin, atasan hanya marah karena anak buahnya terluka–”
“Kamu tidak akan mengerti bagaimana kecewanya beliau terhadapku. Tatapannya berubah dan itu … Arghhh! Bodoh, bodoh, bodoh!” Maya terus memukuli kepalanya sendiri hingga membuat Gara mencoba menenangkannya.
"Hentikan, May. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
__ADS_1
Maya pun berhenti, tetapi tatapan matanya berubah menggelap seiring rasa dendam yang menyelimuti hati. “Ini semua karena Alex sialan itu. Aku gak akan pernah melepaskan dia seujung kuku pun!” ucap Maya dengan mata penuh dendam.