Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 20


__ADS_3

Lagu milik Alan Walker yang berjudul “Not You” kini tengah menggema di sebuah cafe yang sedang dikunjungi oleh Dhani. Pria yang baru saja merasakan patah hati setelah ditolak lamarannya oleh si teman, sekaligus wanita yang dia cintai selama ini.


Suara mendayu penuh pilu milik si penyanyi seolah begitu masuk ke dalam relung hati pria tampan tersebut. Baju batiknya sudah ditanggalkan di dalam mobil dan hanya menyisakan kaos polos berwarna hitam yang memeluk tubuh gagahnya. Memperlihatkan otot lengan yang sudah jelas biasa dilatih di GYM.


“But he’s not you~ He's not you~ he will never be you~” Bagian reff lagu itu semakin meremukkan hatinya yang memang sudah hancur lebur. Tidak menyisakan sedikit saja bagian untuk dirinya bertahan.


Dhani tersenyum pahit di antara air mata yang kini tengah mengaliri wajahnya. Pria itu menolak keras saat kedua orang tua menyuruh langsung pulang ke rumah. Dia berdalih ingin menenangkan diri hingga membuat mereka pun mengizinkan dengan setengah tak ikhlas.


“Tapi, kamu harus janji tidak akan melakukan hal nekat yang akan membahayakan kamu, kan, Nak?” Nunung menatap putranya yang saat itu minta diturunkan di tengah jalan.


“Iya, Nak. Namanya cinta memang tidak selalu berjalan mulus. Mungkin saja Nak Fatimah ini bukanlah jodohmu, mungkin juga jodohmu yang sebenarnya masih disimpan oleh Tuhan. Jadi, percayalah. Semua pasti akan ada waktunya, Sayang!”


Basuki menasehati ankanya dengan lembut. Dia jelas tahu kondisi batin dari anaknya sekarang. Sakit, patah, mungkin juga remuk redam. Maka dari itu, dia mengizinkan anaknya untuk menyendiri terlebih dahulu.

__ADS_1


Di sinilah Dhani Wicaksono berada. Sendirian, bertemankan sepi yang memeluk tubuhnya yang tengah terluka. Ditolak oleh orang yang dicintai, bahkan sudah dianggapnya sebagai penyemangat hidup. Kini, ikhlas harus benar-benar direalisasikan agar dirinya bisa menjalani hidup lagi.


“Tapi, itu sangat sulit kulakukan. Perasaan cintaku ini sudah terpupuk begitu subur di dalam hati. Fa, kenapa kita harus bertemu jika hanya untuk berpisah? Apa tak ada perasaan sedikit saja untukku? Aku sangat mencintaimu, Fa. Sangat-sangat mencintaimu,” racaunya, sembari menangis tanpa suara.


Dia menelungkupkan wajahnya di atas kedua tangan yang dilipat di atas meja. Dhani tidak membiarkan pengunjung–yang malam ini hanya sedikit– melihat dukanya. Cukup dirinya tersiksa akan perasaan ini sendiri, tanpa ada tatapan iba, atau kasihan dari orang lain.


“Aku bahkan sengaja menjaga hatiku hanya untukmu seorang. Kutolak semua perempuan yang berniat mendekatiku, hanya karena tidak ingin membuatmu merasa cemburu, atau sakit hati. Tapi,” jedanya, sambil menarik isi yang ada di dalam hidungnya.


“Kenapa kamu begitu tega memilih dia yang jelas-jelas seorang duda. Apa karena dia itu kaya? Atau, karena dia jauh lebih tampan dariku? Argh, sakit, Fa. Di sini sakit!” Tangannya terkepal erat yang dengan sengaja dipukulkan ke arah dadanya yang terasa sesak.


Rasa sesak yang kini tengah membungkus hatinya masih saja tidak berkurang-kurang, padahal dia sudah berusaha untuk menghilangkannya. Namun, sakit itu masih saja membandel, layaknya noda yang menempel begitu kuat di pakaian, bahkan seolah enggan pergi dari dalam hatinya.


“Haruskah aku mati saja, Fa?” Tiba-tiba wajah basah itu mendongak. Memperlihatkan betapa rapuh dan mengenaskannya hidup Dhani setelah lamarannya ditolak oleh Fatimah. Pikiran gila mulai merajai sisi iblisnya. Membisikkan rayuan setan untuk mendekati jurangnya neraka.

__ADS_1


Merangkulnya dalam kegelapan yang tak berujung. Mendekatkan pintu neraka yang selama ini sangat jauh dari tujuan hidupnya. Mengusir semua sisi baik yang seolah sedang menariknya menjauh dari pikiran yang jelas hanya akan merugikan dirinya.


“Atau, apa aku harus menyingkirkan penghalang yang sudah memisahkan kita?" Mata itu begitu kosong. Namun, bibirnya terus saja berucap. Seolah raga sedang tak berada di tempat.


Tak ada senyum hangat yang biasa menghiasi wajah rupawannya. Tak ada lagi keceriaan yang selalu diagungkan ketika bersama dengan orang terkasih. Tidak ada tatapan hangat lagi yang biasa menghiasi manik coklatnya.


"Ya, sepertinya aku harus menyingkirkan semua penghalang kebahagian kita, Fa. Jika, bukan karena mereka, mungkin kita sudah bersatu. Merajut benang merah yang akan abadi hingga kita tua nanti," ujarnya terus menerus.


Hingga sampai ketika keputusan pun di ambilnya. "Aku harus menyingkirkan dia. Harus!" Setelah itu, tubuhnya begitu cepat melangkah keluar pintu cafe. Seperti bukan Dhani Wicaksono yang biasanya, melainkan sosok lain yang ingin menghancurkan dunia.


Tatapan membunuh dilayangkan ke arah depan begitu yakin. Tujuannya sekarang adalah pergi menemui Aiman. Orang yang dianggap Dhani sebagai lalat nakal yang sudah mengganggu hidupnya dan layak untuk disingkirkan. "Kita lihat siapa yang akan bertahan lebih lama. Kau, atau aku!"


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa mampir yah, Guys ke novel temen aku!



__ADS_2