
Aiman kini sedang duduk di atas kursi kerjanya. Suasana di dalam ruang guru kini terlihat lengang dikarenakan jam istirahat tengah berlangsung. Hanya ada dirinya dan juga tiga guru lain, termasuk sang calon istri–Fatimah.
Ekor matanya sedari tadi mencuri pandang, melirik ragu wanita cantik yang mengenakan kerudung hitam tersebut. Pantatnya seolah sudah menempel erat di atas kursi sehingga untuk beranjak pun dia malas, atau malu. Entahlah.
“Pak Iman, apa Anda tidak beristirahat?” Sebuah suara dari seorang guru lelaki membuyarkan pikiran Aiman yang tengah maju mundur ganteng untuk mendekati si calon istri.
“Oh,” jawabnya sedikit bingung. “Iya, nanti saya menyusul. Soalnya masih ada kerjaan yang belum selesai,” lanjutnya tersenyum canggung.
Guru lelaki yang diketahui bernama Pak Hamdam itu pun mengangguk. “Kalau begitu saya duluan. Saya tunggu di tempat baisa ya, Pak!”
Aiman pun hanya mengangguk tanpa berniat mengiyakan ajakan dari Guru Mapel Sejarah. Dia sudah ada rencana sendiri hari ini. Jadi, sebelum waktu habis dan Hassan cemberut karena keinginannya tidak dituruti. Si duda itu pun berdiri.
Tungkainya lalu dibawa melangkah menuju meja kerja milik Fatimah yang berjarak beberapa meter dari miliknya. Mata pria itu tertuju pasti hanya ke arah wanita yang belum sadar akan kehadirannya. Keringat sedikit membasahi telapak tangan Aiman hingga beberapa kali ia harus mengusap ke bagian celana.
Semua orang yang ada di lingkungan sekolah memang belum tahu hubungan Aiman dan juga Fatimah. Mereka mungkin tidak akan mengira, jika guru cantik dan si duda itu akan menjadi satu keluarga dua bulan lagi.
Patah hati, mungkin perasaan itu akan dirasakan oleh murid dan beberapa guru yang selama ini mengidolakan Fatimah dan Aiman secara diam-diam. Mereka bahkan akan menangis massal karena dua orang yang dianggap pintar, serta berbakat bersanding di atas pelaminan yang sama.
“Ehm.”
Deheman dari arah depan membuat wajah perempuan yang sedari tadi menatap layar komputer itu mendongak. Pupilnya seketika membesar karena tiba-tiba sosok calon suami berdiri tepat di balik meja kerjanya.
“Pak Iman … ada apa?” tanyanya, sambil mencuri liat ke arah sekitar.
__ADS_1
Fatimah belum terbiasa jika harus berdekatan dengan Aiman setelah pembicaraan semalam tentang pernikahan mereka. Dia sedikit canggung hingga tanpa sadar bertingkah sedikit tak seperti biasanya.
“Ehm, apa nanti setelah pulang sekolah kamu ada waktu?” Aiman lansgung to the point. Dia tahu karena tidak punya banyak waktu. Pasti sebentar lagi akan ada orang lain yang datang ke ruangan. Maka dari itu, sat-set sat-set adalah langkah tepat yang diambil olehnya.
Fatimah memandang wajah Aiman yang terlihat datar. Jujur, dia belum terlalu mengenal sosok calon suaminya. Seperti sekarang, perempuan tersebut dibuat terkejut akan pertanyaan tiba-tiba dari pria tampan di depan.
“Emang ada apa, ya, Pak?” tanyanya masih tetap menjaga kesopanan. Fatimah masih mengingat, jika mereka kini masih di tempat umum, apalagi Aiman juga seorang senior di sini. Jadi, tidak mungkin dirinya memanggil dengan panggilan semuanya.
Mulutnya terasa kaku hanya untuk sekadar mengutarakan niatnya. Aiman ini memang tergolong to the point, tetapi juga sedikit pengecut, jika harus mengajak seorang perempuan pergi. Hubungan mereka memang selangkah lagi menuju sah, tetapi masih ada tembok di antara dua insan tersebut.
"Mas Asa ingin kamu ikut menjemputnya di sekolah. Apa kamu bisa?" Bibir pria tersebut tanpa sadar dilipat ke dalam. Suatu gerakan refleks, jika sedang gugup atau salah bicara. Akan tetapi, opsi kedua itu sepertinya salah. Jadi, guguplah yang sedang dirasakan oleh Aiman.
"Mas Asa?" Mendengar nama anak sholeh itu disebut membuat wajah yang sedari tadi gugup, kini berangsur antusias. Fatimah bahkan tak segan untuk mengangguk cepat sebagai tanda persetujuan.
"Eh, tapi nanti, bukan sekarang!" seloroh Aiman menghentikan tangan Fatimah yang sedang memasukkan buku, serta barang lain ke dalam tasnya.
Fatimah menatap Aiman dengan mata mengedip lucu. Seolah sadar, jika kelakuannya ini sangatlah aneh. Bibir perempuan itu pun mengukur senyum, tetapi buka senyum bahagia, melainkan senyum canggung.
Aiman yang melihat itu pun tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Namun, dia tak memperlihatkan. Wajahnya justru dibuang ke arah lain agar Fatimah tidak sadar akan pengaruh calon istrinya yang mampu membuat wajah kaku si Guru Fiqih tidak kaku lagi.
"Ah, maaf, Pak. Saya terlalu bersemangat, ya?" tanya Fatimah,sambil merutuki kebodohannya.
Dia pun mencoba untuk mencari pembahasan lain agar tidak begitu merasa canggung. Sebuah ide pun terlintas saat melihat satu kotak bekal yang ada di atas meja. Dengan sedikit bergetar, tangannya pun memegang kotak persegi tersebut.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Apa Anda sudah makan?" tanya Fatimah dengan kepala tertunduk, tangan memegang kotak bekal dengan gugup.
Aiman yang juga tidak mengerti harus melakukan apa pun menoleh saat Fatimah bertanya padanya. Dia melihat ke arah tangan si calon istri yang tengah memegang sebuah kotak bekal di atas meja.
Pandangannya pun kembali naik ke atas. Netra Aiman tidak bisa melihat jelas bagaimana ekspresi Fatimah sekarang karena tengah menunduk. "Jika sarapan sudah, kalau makan siang belum. Kenapa?"
Fatimah tersenyum kecil. Astaga, seperti ini saja sudah membuat pipinya memanas. Perasaan asing ini benar-benar membuat diafragma di dalam tubuh si perempuan berdetak tak karuan.
"Bu Fatimah," panggil Aiman lembut.
Perempuan cantik itu pun mendongak cepat, lalu kembali tertunduk lagi karena malu. Dia memejamkan mata untuk menormalkan debaran jantung yang seolah ingin membuatnya malu karena takut terdengar oleh si calon suami.
Dengan tergagap, Fatimah pun mencoba memberanikan diri untuk angkat bicara. "Anu itu … apa Pak Iman mau menerima bekal ini?"
Aiman bisa melihat tangan Fatimah bergetar ketika mengulurkan kotak tersebut. Entah kenapa, hatinya juga sedikit berdesir saat kembali menerima sebuah perhatian dari seorang perempuan, apalagi sosok itu adalah calon istrinya.
"Terima kasih." Aiman mengambil sisi bagian bawah kotak tersebut agar tidak bersentuhan langsung dengan tangan milik calon istrinya.
Perasaan apa ini?
...****************...
Rekomendasi!
__ADS_1