Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 58


__ADS_3

"Gimana suasananya, Bi? Kamu suka gak?"


"Emm … apa gak ada tempat yang lain, Sayang?"


Aiman melihat tempat yang sedang dikunjungi mereka dengan tatapan sedikit aneh. Ruang terbuka yang di kanan dan kirinya terdapat banyak barang bekas tak terpakai, lalu belum lagi ada beberapa lalat berterbangan ke sana-kemari.


"Ini yakin kamu mau makan di tempat seperti ini?" Aiman berbisik di telinga sang istri. Bukan bermaksud menjelekkan, melainkan cacing di dalam perutnya mendadak mual dan ingin muntah setelah tiba di tempat yang katanya sangat worth it.


Fatimah terkikik geli saat melihat wajah suaminya yang berubah pias. Tangannya lalu menggenggam erat jari-jemari sang suami seolah memberitahukan jika kondisi seperti ini tidak akan membuat mereka mati.


“Abi lucu,” kikiknya, sambil menutup mulutnya agar suara tawanya tidak mengganggu pengunjung lain.


Wanita itu menggeleng tak percaya akan menemukan ekspresi baru dari seorang Aiman yang terkenal cukup dingin di antara guru lain.


"Enggak, kok, Bi," lanjut Fatimah tersenyum manis, lalu mengusap rahang tegas suaminya.


Aiman secara refleks langsung mengusap seragam bagian depan yang tertutupi jaket, sambil membaca Alhamdulillah secara lirih. "Terus, kita ngapain di sini? Kamu lagi nggak ngerjain aku, kan?" tanyanya belum puas akan jawaban ambigu Fatimah.


Sebuah pukulan ringan di lengan kekar Aiman didapatkan dari Fatimah. Wanita itu menatap suaminya dengan pandangan malas. "Aku gak sekurang kerjaan itu buat ngerusuhin Abi," jawabnya cemberut.


Pria itu terkekeh, lalu mengusap kepala istrinya dengan penuh sayang. "Utu-utu. Manisnya istriku yang sedang merajuk seperti ini," goda Aiman, sambil menusuk-nusuk salah satu pipi Fatimah.


Wanita itu langsung memasang wajah cemberut. "Mana ada orang marah malah manis. Suka ngadi-ngadi ini bapak satu," cibir Fatimah tak percaya.

__ADS_1


"Orang di mana-mana, kalau lagi marah tuh, jelek. Kayak setan, atau iblis. Jadi, gak usah ngerayu aku, deh, dengan gombalan belum dicuci itu,” imbuh Fatimah dengan suara tertahan karena tidak mau membuat orang lain mendengar omelannya.


“Apa?” Tawa Aiman seketika meledak saat mendengar gumaman sang istri.


Pria itu tidak bisa menahan diri untuk mengeluarkan suara tawanya yang merdu. Keadaan sekitar yang memang tidak terlalu ramai membuat orang-orang menoleh ke sumbernya. Namun, mereka justru hanya melirik sebentar, lalu kembali ke rutinitasnya lagi.


Panik. Wanita itu langsung menarik tubuh sang suami untuk keluar antrian. Ya, dua orang tersebut memang tengah antri, tetapi bukan untuk mengambil sembako, atau bantuan pemerintah lainnya, melainkan untuk bertemu owner dari bangunan yang tengah dipijak.


Fatimah beristighfar, lalu menarik lengan suaminya untuk pindah dari tempat tersebut. Ketika sudah di luar pun sang suami masih saja belum berhenti tertawa sehingga membuat wanita itu hanya berdiri diam, sambil melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap pria di depannya dengan datar.


"Sudah selesai tertawanya?" tanya Fatimah sedikit sinis setelah melihat sang suami tengah melipat bibirnya, menahan tawa. Akan tetapi, ekspresi itu justru terlihat sangat menyebalkan bagi ibu hamil tersebut.


"Ya Ummaya. Kenapa kamu begitu menggemaskan, sih? Suamimu ini jadi tak bisa marah jika ekspresimu begitu lucu, sampai-sampai pengen aku karungin, loh!" kikiknya geli, sambil menguyel-uyel kedua pipi mulus sang istri.


Wanita yang tengah hamil itu hanya menghela napas berat, lalu setelah itu menatap wajah sang suami dengan ekspresi menilai. "Maaf, ya, Bang. Tapi, saya bukan beras yang bisa dikarungin dengan mudah. Bye!" ucapnya menyeringai, lalu pergi meninggalkan si suami begitu saja.


Dua insan yang tengah saling melempar canda itu seolah tak peduli jika kelakuannya sungguh membuat orang terhibur. Si cowok yang begitu senang menggoda, sedangkan si cewek yang galak, tetapi terlihat menggemaskan.


Sedang Fatimah dan Aiman sendiri memilih asyik sendiri. Mereka juga melakukan itu karena ingin membunuh waktu, sekaligus mengalihkan perhatian dari si pria yang berkali-kali menutup hidung, padahal jika dipikir-pikir tak ada bau sampah, ataupun benda busuk di luaran sana. Namun, Aiman justru merasa mual terus.


Astaga. Jangan bilang Aiman di sini yang ngidam? Sehingga hidungnya lebih sensitif dari biasanya. Oh, jika itu terjadi bukankah Fatimah akan selamat dari morning sicknes, atau hal yang biasa dirasakan oleh ibu hamil? Poor, Aiman.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya tibalah bagian Fatimah berdiri di depan meja kasir.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Apa a- … loh, Mbak Fati? Bagaimana kabarnya? Kok, baru ke sini, sih?" Si kasir yang bernama Laila itu segera memekik kaget saat menemukan perempuan yang sudah tiga bulan tak mengunjungi tempatnya.


Laila bahkan berdiri dengan sengaja keluar dari tempatnya bekerja, digantikan oleh Sarah yang emmang berada di sampingnya selama ini. Gadis itu langsung memeluk tubuh Fatimah dengan penuh rindu. “Aku kangen sama Mbak Fati,” rengeknya manja.


Aiman yang sedari tadi menemani istrinya hanya bisa mengerutkan kening. Dari yang bisa dilihat dari sikap dan tingkah laku dua perempuan itu, pria tersebut menerka jika Fatimah ini bukanlah orang baru, apalagi pendatang yang hanya lewat, melainkan sosok wanita yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.


"Oh, iya, La. Kenalin, ini suamiku … Mas Iman, ini Laila penjaga warung ini." Fatimah memperkenalkan Aiman dengan Laila dengan senyum cerah ceria, lalu dua orang tersebut saling menangkupkan kedua tangan di depan dada masing-masing.


Aiman sendiri hanya tersenyum tipis saat Fatimah memperkenalkan dirinya dengan perempuan bernama Laila. Mereka pun dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup sepi. Lorong itu cukup panjang, tetapi terang karena dari pencahayaan di atasnya.


Fatimah dna Laila terus saja mengobrol dan bertukar kabar tentang keseharian mereka selama tak bertemu. Gadis itu sedikit merajuk lantaran dia tak diundang dalam pernikahan perempuan yang sudah dianggapnya sebagai kakak oleh mereka.


Kini, Aiman dibuat terbelalak saat lorong itu sudah membawanya ke sebuah hamparan luas yang ditumbuhi oleh banyaknya rumput gajah, serta tanaman hias, dan juga bunga-bunga indah bermekaran di setiap tepinya. Dia merasa baru saja memasuki lorong waktu di mana ini adalah tujuan terakhirnya.


“Sangat indah,” gumam Aiman tanpa bisa dicegah.


Fatimah tersenyum, lalu merangkul lengan kekar suaminya yang tengah terpesona akan indahnya taman bunga di depannya. “Ini adalah rumah panti yang selama ini aku urus bersama dengan Raisa, Bi. Bukankah mereka sangat cantik dan tampan?” Telunjuknya menunjuk tepat ke beberapa anak yang tengah berlarian menuju dirinya berdiri.


“Untuk jawabanku,” jedanya, sambil tetap melengkungkan senyum. “Aku akan keluar dan memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Di mana ada aku, kamu, Mas Asa, nenek, dan juga calon anak kita. Apa boleh, Bi?”


Aiman menatap wajah berseri milik sosok yang tengah menunggu jawabannya tanpa berkata-kata. Semakin dirinya mengenal Fatimah, pria itu semakin dibuat takjub akan rahasia-rahasia yang selama ini tidak dia tahu. Lantas, apa dia menyesal? Tidak sama sekali.

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba kehilangan suara. Aiman begitu takjub dan bangga akan kebaikan, serta kelembutan dari istrinya. Dia yang dulu begitu menyepelekan, kini merasa kecil bersanding dengan Fatimah. Dibalik sikapnya yang sedikit tomboy, ternyata menyimpan banyak kelembutan.


“Apa pun keputusan yang kamu ambil … aku akan menerimanya,” sahut Aiman setelah bisa menemukan suaranya lagi.


__ADS_2