
Aiman berkali-kali menyugar rambut ke belakang karena sedikit menyulitkan pergerakannya. Kakinya terasa hampir patah, bahkan pinggang pun terasa cekot-cekot. Desau napas sudah berulang kali keluar dari mulut pria tersebut lantaran sudah beberapa jam mengurus kedua buah hatinya.
"Assalamualaikum," sapa Fatimah dari pintu depan yang entah bagaimana cerintanya masih terbuka lebar. "Ini Abi lupa, apa gimana? Kok, ya, masih kebuka?" ujarnya lirih, lalu menutup benda persegi panjang itu.
Pupil mata pria itu seketika melebar , mendengar bidadari surganya sudah kembali pulang. Dia menoleh dengan wajah berseri saat mendengar langkah kaki ibu dari anak-anaknya mendekat. “Ummaya,” panggil Aiman memelas.
“Loh ….” Wanita itu terkejut dengan raut muka lega bercampur lelah dari suaminya. Dia terkikik geli saat rambut dari Aiman berantakan, bahkan rumah yang tadi dia tinggal sudah rapi, kini sudah menjadi kapal pecah kembali. "Ada apa ini? Kenapa kalian begitu berantakan, Sayang?"
“Umma!” seru Hassan, lalu berlari menerjang ibunya yang baru saja sampaai. “Abi rese. Masa Mas Asa mau mainan robot-robatan gak boleh,” adunya dengan kedua tangan dilipat di depan dada kemudian melengos malas ketika Aiman hendak membela diri.
Aiman merotasikan kedua bola matanya malas. “Abi merasa gak berguna di sini, Ummaya,” sesalnya, padahal pria itu sudah berpengalaman mengasuh Hassan 5 tahun. Akan tetapi, semua pengalaman itu seolah hilang semenjak menikah dengan Fatimah. Mungkin pria tersebut sudah terlalu nyaman dengan kehidupannya dengan sang sitri sekarang.
"Loh, kenapa abi bicara seperti itu? Sebenarnaya ada, apa, sih? Aneh, deh!" Fatimah berkali-kali melihat putranya, lalu kembali ke sang suami hingga beberapa kali.
“Aku merasa bodoh karena lupa bagaimana mengurusi baby setelah sekian lama,” ceritanya dengan penuh sesal. "Lihatlah, bahkan Khumaira saja celemotan bedak di wajah, serta bagian bajunya. Abi minta maaf, Ummaya!”
Fatimah yang sedari tadi tengah bengong melihat kekacauan di rumahnya, kini beralih melihat ke arah sang suami, serta anak-anak. Dia ingin berbicara, tetapi tangisan sang buah hati keduanya justru mengalihkan perhatian mereka semua.
__ADS_1
“Sayangnya Umma kenapa, hm? Kangen, yah?” Tangan Fatimah lalu terulur untuk mengambil tubuh kecil Khumaira yang sedang menangis dalam gendongan sang suami, tetapi diurungkan.. “Utu-utu-utu, Adek Maira haus, yah? Bentar, umma cuci tangan dulu, ya!”
“Mas, aku ke kamar mandi dulu,” lanjut Fatimah tanpa menunggu persetujuan sang suami. Kakinya melangkah menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar mereka untuk bersih-bersih karena dirinya sadar baru saja baru tiba dari rumah sakit. Maka dari itu dia lekas mengganti semua pakaian dan membersihkan diri.
Aiman mengangguk, lalu mulai menepuk pelan bahu si gadis agar tidak menangis lagi. Sementara itu, Hassan yang sudah diperbolehkan main robot oleh ibunya pun mulai tenggelam dengan karakter benda plastik di tangan kanan, serta kirinya, belum lagi mainan lainnya. Dunia anak ini memang lagi seru-serunya.
Setelah berganti baju, cuci muka, serta cuci tangan Fatimah pun keluar dari kamar mereka. Dirinya langsung mengambil alih tubuh Maira untuk diberi Asi, sedangkan Aiman sendiri langsung merebahkan tubuhnya di sofa panjang dengan deru napas yang memburu.
“Capek banget kayaknya, Bi?” tanya Fatimah, sambil menahan diri untuk tidak terkekeh.
Fatimah menatap suaminya dengan senyum tipis. “Ya, itulah kenapa emak-emak suka protes, kalau suami mengira dirinya ini di rumah gak ngapa-ngapain. Padahal pekerjaan seorang ibu itu tidak hanya berpatok mengurus anak, tetapi juga mencangkup semua isi di dalam rumahnya," sahutnya enteng tanpa emosi karena memang dirinya tidak bermaksud apa-apa. Hanya cerita saja.
Aiman bergegas bangun, lalu duduk di samping tubuh Fatimah yang tengah memberi asi kepada anak mereka. Bibir pria itu lalu mengecup penuh kasih puncak kepala sang istri lama. Setelah itu turun ke pipi dna berlanjut ke b1b1r, tetapi hanya sebentar.
“Maafkan kami para bapak-bapak yang gak tau lelahnya kalian selama mengurus rumah dan anak, ya, Sayang.” Aiman berkata penuh sesal.
“Loh, kenapa malah Abi yang minta maaf?” Fatimah menaruh kepalanya di bahu sang suami untuk bersandar nyaman di sana. Tidak ada tempat lebih nyaman selain pelukan pasangannya. Akan tetapi, bukan pasangan orang lain!
__ADS_1
“Ya, karena abi ini, kan, tadi juga ngeluh capek. Padahal baru beberapa jam saja ditinggal pergi, tapi udah kayak ditinggal satu abad.” Tangan pria itu mengelus sayang rambut Fatimah yang hari ini dibiarkan tergerai indah. Khumaira sendiri sudah mulai terlelap, tetapi belum melepaskan diri dari ibunya.
“Yang terpenting dalam setiap pasangan itu adalah pengertian, perhatian, serta jujur. Jangan pernah sesekali-kali membandingkan pasangan kita dengan pasangan lain. Karena itu sama saja menyakiti hatinya. Jika memang engkau sudah menentukan, atau memilih siapa pendampingmu, maka jangan pernah melihat, atau melirik kehidupan pasangan lainnya.”
“Boleh melihat, tetapi tidak boleh sampai membandingkan dengan pasangan kita. Intinya, kita hanya bisa sawang-sinawang. Mungkin rumput tetangga lebih tinggi dari kita, tetapi jangan sampai lupa jika rumput di rumah sendiri juga perlu dibenahi! Asyik!” Akhir kata yang membuat Aiman tersenyum.
“Istri siapa, sih, ini? Jadi pengin ngantongin, deh!” Pria itu menjadi gemas dengan istrinya sendiri, lalu menciumi wajah Fatimah bertubi-tubi sehingga membuat wanita itu terkekeh kegelian.
“Hentikan, Bi! Geli tau!” Fatimah mencoba menghentikan perbuatan sang suami yang terus saja tidak membiarkan dirinya lolos dari serangan cinta Aiman. “Abi! Nanti Maira bangun!” lanjutnya dengan bibir cemberut.
Aiman pun akhrinya menghentikan kegiatannya dan memilih memeluk bahu si istri. “Hahhh, rasanya baru kemarin kita menikah, eh, tau-taunya udah punya bocil aja. Umma kayak gitu, gak?” Pria itu melihat ke arah wajah istrinya yang berada di dalam dekapan.
Fatimah menyamarkan tubuhnya dalam sandaran sang suami. Dia lalu melihat ke arah wajah damai Khumaira yang sudah terlelap dalam pangkuan. Jari telunjuk itu digunakan untuk menelusuri setiap lekuk wajah si buah hati.
“Iya, Bi. Kayaknya baru kemarin kita ketemu. Ternyata Tuhan justru memberikan kamu sebagai hadiah untuk menemaniku seumur hidup kita. Rasanya kaya gak percaya aja,” ujarnya tersenyum kecut. “Mungkin akan beda cerita jika Mbak Aish masih hidup.”
“Aku dan kamu gak akan pernah jadi kita,” imbuhnya, sambil tersenyum kecut.
__ADS_1