Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 66


__ADS_3

Selama beberapa minggu ini, Aiman memutuskan untuk berada di rumah dan mengambil alih tugas sang istri untuk mengecek butik F-Muslimah bersama dengan Hassan. Sementara istri dan ibunya berada di rumah.


Usia kandungan Fatimah sedang rawan-rawannya, maka aiman meminta si istri untuk tetap di rumah. Mereka tidak mau, kalau sampai terjadi sesuatu kepada wanita hamil itu. Maka dari itu, Siti memilih untuk tetap tinggal untuk menamani sang menantu.


Siti juga memutuskan untuk sementara waktu tinggal bersama di rumah anak, serta menantunya. Selain untuk tinggal, dia juga akan membantu setiap kebutuhan persalinan yang akan dihadapi oleh Fatimah beberapa hari lagi.


Siang itu, Fatimah yang tengah duduk seorang diri di taman samping rumah. Tiba-tiba memegang perut yang sudah beberapa hari ini terasa nyeri. Dia bahkan sudah dua hari tidak bisa tidur nyenyak karena merasakan sakit yang hilang timbul dari dalam perutnya.


Dia sengaja tidak memberitahukan masalah ini kepada suami dan mertua karena tidak ingin memberikan mereka harapan. Karena Fatimah sendiri sudah membaca beberapa artikel tentang apa itu kontraksi palsu dan kontraksi saat benar-benar akan melahirkan.


“Argh.” Bibir itu segera merintih kesakitan saat rasa sakit yang tengah mendera mulai semakin sering dirasakan. Bibirnya ia katupkan untuk mencegah tangis yang tiba-tiba merongrong di dalam tenggorokan.


“Sshhh.” Akan tetapi, ternyata wanita yang baru pertama kali merasakan sakit itu tidak kuat untuk meringis. Bulir air mata yang sedari tadi ditahannya kini sudah luruh membasahi wajah piasnya.


“Bu,” pangguil Fatimah di antara ringisan dari mulutnya. “Bu, pe-rut Fati sakit," lanjutnya sedikit berteriak.


Wanita hamil itu berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan di antara rasa sakit yang semakin menjadi dari dalam perutnya. Dia bahkan tak segan merintih kesakitan di antara setiap untaian doa yang tengah dipanjatkan kepada Sang Pemberi Hidup.


Siti yang baru saja selesai menjalankan tugas sebagai umat muslim seketika mengerutkan kening saat mendengar menantunya memanggil-manggil dari luar pintu. Dia masih terdiam di antara dua sujud untuk memastikan, tetapi ketika mendengar teriakan Fatimah ia pun bergegas melepaskan mukena yang sedari tadi membalut tubuhnya.


“Iya, Nak. Ibu ke sana.” Wanita paruh baya itu segera bergegas keluar untuk menemui sang menantu. Dia bahkan sampai lupa mengenakan hijab karena terlalu khawatir jika ada sesuatu yang terjadi kepada Fatimah.

__ADS_1


“Nak, kamu kenapa?” Siti bertanya cemas saat melihat istri dari anaknya tengah membungkuk di sebuah sofa dengan keringat yang tengah mengucur membasahi wajah, serta tubuhnya. “Apa kamu mau melahirkan, Sayang?”


Fatimah menggeleng dalam kesakitan. “Gak, tau, Bu. Tapi, perut Fati rasanya sakit banget,” adunya tersengal.


“Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang saja, Nak. Nanti biar ibu hubungi Iman buat segera menyusul kita ke sana!” usul Siti dan bergegas ke kamar anaknya.


Sementara Fatimah tengah berdzikir di antara rasa sakitnya. Dia mengusap perutnya agar anak di dalam kandungan itu sehat dan lahir dalam keadaan baik-baik saja.


“Apa kamu sudah tidak sabar bertemu dengan umma, abi, dan Mas Asa, Nak?” tanyanya menahan tangis.


“Sa-ma. Umma juga udah gak sabar bertemu dengan kamu, Sayang. Umma berharap apa pun kondisimu ketika lahir ke dunia ini, kita bisa hidup bersama dalam suka maupun duka. Penuh cinta dan kasih,” ujarnya, sambil meringis sakit. “Arkh.” Lagi bibir itu mengerang kesakitan.


“Maaf lama, Nak. Tadi ibu menelpon Iman supaya lekas ke rumah sakit dan juga meminta Pak Supri untuk mengantarkan kita ke rumah sakit juga,” jelas Siti yang kini sudah menggendong tas yang berisi barang perlengkapan sang menantu dan calon cucunya.


Siti pun membawa Fatimah untuk berjalan ke luar rumah. Supri sendiri adalah supir yang sengaja dipekerjakan untuk membantu mereka jika tengah dalam keadaan mendesak, seperti sekarang ini. Aiman yang tengah di luar, sementara Fatimah mau melahirkan dan butuh tumpangan cepat untuk ke rumah sakit.


“Tahan, ya, Sayang. Kamu pasti kuat, oke!”


Fatimah mengangguk di antara tangisannya. Ia merasa malu terhadap sang mertua karena terlalu cengeng dalam menyikapi rasa sakit yang tengah menjalari perut, serta pinggangnya.


“Maafin Fatimah ya, Bu. Maaf, jika selama ini ada salah dan buat ibu kesusahan,” ucapnya tiba-tiba.

__ADS_1


“Hush, kamu ngomong apa, sih, Nak? Gak ada yang perlu dimaafkan di sini.” Siti menghapus air mata yang kini tengah mengucur deras dari mata sembab sang menantu. Tanpa Fatimah sadari wanita paruh baya itu juga menangis ketika melihat sang menantu menahan sakit.


“Kamu jangan menyerah, ya, Sayang! Kamu pasti bisa. Anak kalian pasti sudah tidak sabar menanti untuk bertemu dengan kalian!” imbuhnya, sambil menahan suaranya agar tetap bergetar.


Wanita hamil itu mengangguk dalam tangisnya, lalu setelah itu berusaha menenangkan diri agar rasa sakit serta kecemasannya berkurang. Namun, yang dia butuhkan sekarang adalah genggaman tangan dari suaminya. “Bu, Mas Iman mana?” tanyanya lagi.


“Apa kamu merindukannya?” tanya Siti ikut sedih.


Fatimah mengangguk lagi. “Mas Iman gak akan ninggalin aku di ruang bersalin, kan, Bu?” Tiba-tiba pertanyaan itu masuk ke dalam pikirannya sehingga membuat wanita itu kembali bersedih.


“Gak, Nak. Mana mungkin suamimu yang begitu mencintaimu tega membuat kamu sendirian di sana. Dia pasti datang dan menemani kamu saat melahirkan anak kalian,” ujarnya memberi semangat.


“Tapi, Mas Iman udah gak trauma lagi, kan, Bu?”


Sebuah pertanyaan yang membuat Siti terdiam membisu. Dia sudah lama tidak mengajukan pertanyaan itu kepada Aiman. Lantas, ia pun tak bisa menjawab tanya si menantu.


“Bu. Ibu kenapa diam? Apa Mas Iman akan meninggalkanku seorang diri di ruang bersalin?” Fatimah mendesak untuk sang mertua segera berbicara, tetapi wanita paruh baya itu hanya diam dan hanya tersenyum masam.


Langkah kaki itu terlihat berat untuk menuju rumah skait. Pikiran akan melahirkan seorang diri, tanpa ada yang mendampingi membuat Fatimah merasa kalut sehingga beberapa kali wanita Ter menghapus air mata yang menerobos keluar dari pertahanannya.


“Aku harap kamu selalu ada disisiku, Mas!” gumamnya penuh harapan.

__ADS_1


__ADS_2