
"Loh, kenapa kalian malah ngobrol di luar? Fat, ajak tamunya buat masuk ke dalam!" Aminah yang mendengar suara orang berbicara di depan teras rumahnya segera mengambil inisiatif, apalagi tamu mereka hari ini mempunyai niat baik.
"Iya, Bu. Ini Fathimah juga mau ngajak Pak Aiman buat masuk ke dalam," sahut si anak perempuan tak kalah santun.
Berkat didikan dari kedua orang tua dan semua pengajar saat di sekolah, terutama tetap peran orang tualah yang menjadi pondasi untuk anaknya dalam menanamkan semua sifat baik dan buruk sejak dini. Fathimah besar menjadi sosok yang punya sopan santun, tutur kata yang baik.
Berkat orang tua juga, anak akan mempunyai ilmu dasar tentang bagaimana cara bersikap, berdoa, dan meminta kepada sang khaliq. Menjadikan ilmu dan agama sebagai pondasi dalam mencari duniawi dan akhirat. Seimbang, tak melulu mikir tentang dunia, karena yang terpenting adalah kehidupan di akhirat nanti.
"Silahkan masuk, Pak!" Fathimah kembali bersuara. Kali ini fokusnya juga ke anak lelaki di samping Aiman. "Hai, Jagoan. Kamu pasti tidak kenal dengan tante, kan?"
Seperti anak kebanyakan yang pemalu. Hassan yang disapa oleh orang baru, kemudian menyembunyikan wajahnya di balik tubuh sang ayah. "Abi," rengeknya manja.
Aiman menjadi merasa tidak enak hati. Jujur, dia juga sebenarnya masih bingung dengan kedatangan dia ke sini. Namun, demi menjaga nama baik dari ibu. Maka dari itu, duda anak satu tersebut menjaga sikap dan sopan santun di hadapan orang lain.
"Nak, gak boleh gitu!" tegur Aiman dengan lembut. "Tante Fathimah ini adalah sahabat baik dari ummi. Jadi, bersikaplah ramah, ya, Sayang!"
Mendengar kata ummi terlontar dari bibir irit ayahnya, Hassan pun mendongak. Ada sinar keterkejutan, atau bahkan tertarik dengan topik yang akan mereka bahas. "Benarkah?" tanyanya dengan raut polos.
__ADS_1
Aiman pun mengangguk..
Hassan dengan sedikit malu-malu melihat ke arah Fathimah yang ternyata masih setia menebarkan senyum ramah. "Tante temen Ummi Asa?"
Fathimah semakin mengembangkan senyum lebar. "Yap, bentuk, Sayang. Nama tante adalah Fathimah. Tapi, kalau buat Mas Ada yang pintar dan tampan, boleh panggil Tante Fat. Bagaimana, apa Mas Asa mau berteman dengan Tante?"
Hassan kembali menoleh ke arah sang ayah. Mungkin, dia ingin meminta izin. "Bolehkah?"
Aiman tersenyum kecil, kemudian melihat Fathimah. Hassan mengangguk canggung.
Fathimah pun tersenyum. Tangannya reflek diulurkan untuk menggapai si anak dari sahabatnya. "Wajahmu benar-benar mirip ummi," pujinya dengan senyum tulus.
Aiman sendiri merasa terkejut. Dia tak percaya, jika orang yang pertama kali bisa membuat anak introvert seperti Hassan bisa seantusias itu. Apa ini karena topik yang diajukan oleh wanita itu?
Selama 5 tahun ini, Aiman sendiri memilih menutup mata dengan yang namanya perempuan. Mungkin, kedua ibunya sudah lelah memberi kesempatan pria tersebut untuk mencari pasangan. Mereka bahkan sempat mengenalkan beberapa wanita, tetapi selalu ditolak dengan halus.
Alasannya pun selalu beragam, dari yang lelah, tak ada waktu, sedang sibuk, sedang mengajar, dan masih banyak alasan lainnya. Beruntung, para wanita itu tidak marah, atau justru di belakang malah nggrundel? Hanya Allah dan mereka yang tahu.
__ADS_1
"Mas Asa mau lihat foto masa muda ummi?"
"Mau-mau!" Hassan dengan cepat menjawab, bahkan anak tersebut tak meminta izin kepada sosok ayahnya seperti biasa.
Fathimah kemudian meminta izin kepada Aiman untuk membawa Hassan ke dalam kamar.
Aiman sendiri hanya bisa pasrah dan mengikuti anaknya dari belakang. Namun, saat sudah mencapai ruang tamu dia memilih untuk duduk di sana bersama ibu dan si pemilik rumah.
"Kayaknya udah lengket aja itu, Man?" Siti–ibu dari Aiman dengan sengaja menggoda anaknya.
"Apa, sih, Bu? Orang Asa cuma mau lihat-lihat saja, kok," balasnya santai.
"Fathimah memang sangat menyukai anak kecil, Nak Iman. Jadi, wajar saja dia cepat bisa mengambil hati Mas Asa," jelas Aminah.
"Owalah, pantesan." Siti segera nyamber. "Cocoklah berarti sama anak saya yang irit kali bicara ini."
"Bu!" tegur Aiman.
__ADS_1
"Apa, sih?"