Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 124


__ADS_3

"Umma, apa hari ini kita tak jadi pergi ke rumah nenek?"


"Tidak, Sayang. Ada teman umma yang akan berkunjung. Jadi, tidak mungkin kita pergi di saat ada orang lain sudah membuat janji," jelas wanita berhijab kream itu kepada anak lelakinya.


Fatimah kini sedang bermain bersama Khumaira dan juga Hassan di depan rumah. Wanita itu menemani dua buah hatinya bermain Lego, sedangkan si kecil asyik menggigiti mainan karet khusus baby untuk merangsang tubuhnya gigi.


"Abi kapan pulangnya, Umma?" Lagi, si kakak–Hassan bertanya dengan aktifnya. Anak tersebut memang selalu senang, apalagi jika bisa menghabiskan waktu bersama ayah, ibu, serta adik maninya. Namun, sang kepala keluarga sudah sedari pagi pergi sehingga ia merasa kehilangan.


"Mungkin nanti siang Abi udah pulang. Kenapa? Apa kamu butuh sesuatu, Nak?" Fatimah menatap anak lelakinya dengan penuh perhatian.


Sang suami sendiri kini sedang pergi menuju butik untuk mengawasi bahan-bahan yang baru saja datang. Tidak mungkin dirinya mengurusi hal tersebut karena Fatimah sudah disibukkan dengan anak-anak. Kini, Aimanlah yang memegang.


Semua keputusan ini diputuskan secara bersama-sama. Tak ada paksaan.


Pikir Fatimah, daripada sang suami harus mencari pekerjaan lain di luar sana. Bukankah lebih baik pria itu menjadi pemilik F’Muslimah? Sedang ia pun tetap bisa tetap bekerja di rumah, sambil mengawasi keluarga, serta sesekali datang ke butik untuk mengecek kekurangan dari produk yang mereka jual.


Kini, Fatimah sudah terbebas dari segala ***** bengek yang berhubungan dengan butiknya. Jika pun harus ikut campur, hanya masalah kecil tentang perizinan ini dan itu. Selain hal tersebut, semua sudah diserahkan kepada sang suami.


“Umma, ada Tante Maya!” seru Hassan saat melihat wanita itu masuk ke pekarangan rumah mereka.


Fatimah pun mendongak. Membalas senyum, serta salam dari sang sahabat. Namun, ia sedikit melemparkan senyum tipis saat melihat sosok di samping Maya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Riko. Lelaki yang digadang-gadang telah membuat galau temannya semalam.


“Apa kalian datang bersama?” tanya Fatimah setelah pelukan tubuh mereka terlepas.


Maya mengangguk, tetapi ia memilih menghindari tatapan penuh curiga dari sang sahabat dengan melihat ke arah Hassan, serta Khumaira. "Hai, Jagoan Tante!" Satu tangannya diangkat untuk mengajak anak pertama si teman TOS.


Riko sendiri dia hanya tersenyum, sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada untuk memberi salam kepada si tuan rumah. Dia lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaan Fatimah, istri dari Aiman–temannya. “Ya, Mbak. Kami datang bersama,” balasnyasopan.


"Ouh." Fatimah lalu melirik temannya yang kini sedang membuang muka ke arah lain. Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas saat menyadari ada hal yang tengah disembunyikan oleh Maya. Namun, sebelum ia mulai menginterogasi, wanita tersebut mempersilahkan dua tamunya masuk ke dalam rumah.


“Maaf, ya, Mbak. Kami jadi ngerepotin,” ujar Riko sungkan, apalagi saat melihat istri dari temannya tengah sibuk bermain bersama anak-anak. Pria itu hanya takut menggangu quality time keluarga di depannya.


“Gak usah sungkan begitu. Santai saja. Saya justru senang kedatangan kalian.” Mata wanitaitu masih mengawasi setiap gerak-gerik Maya yang sangat terlihat berbeda. Ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi, tetapi ia yakin ini adalah kabar baik.

__ADS_1


Terlihat dari rona merah di pipi Maya yang sedari tadi selalu disembunyikan. Belum lagi tautan dua orang tamunya, semakin menguatkan adanya kemajuan di dalam hubungan mereka.


“Mas Iman ke mana, Mbak?" tanya Riko. Bukan bermaksud tidak sopan menjelajahi rumah seseorang, tetapi ia hanya butuh teman mengobrol. Tidak mungkin juga nimbrung dalam perbincangan dua wanita di samping kanan dan kirinya.


"Oh, suami saya sedang ada urusan. Tapi," jedanya, sambil melihat ke arah jam, "sebentar lagi pulang, kok. Soalnya tadi hanya sedang mengecek barang saja," lanjutnya ramah.


"Gak usah repot-repot, Mbak!" Riko segera mencegah Fatimah yang hendak pergi ke belakang.


"Hush, mana mungkin kami mengangsurkan tamu. Itu tidak sopan." Si pemilik rumah cemberut walau hanya pura-pura saat tamunya justru menolak jamuan yang akan dia berikan. "Walaupun hanya air putih, setidaknya kami tidak akan membiarkan mereka kecewa."


Riko pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia hanya menjadi tidak enak karena merepotkan si tuan rumah. Pria itu lalu melirik ke arah Maya di mana wanita tersebut tengah memangku Khumaira.


Senyum pun terulas lebar. Dia menjadi membayangkan akan seperti apa kelak, jika menjadi suami istri dengan wanita tersebut. "Sedang mendalami, eoh?"


Maya mengangkat wajahnya saat mendengar godaan dari Riko. Dia mengibaskan rambut sebahunya, lalu disusul seringai mencibir. "Hapus angan-angan kosongmu itu!" sarkas wanita itu.


"Why? Bukankah kamu janji akan mempertimbangkanku untuk menjadi suamimu?" Riko menarik bahu Maya agar wanita itu kembali memperhatikannya.


Maya memandang wajah Riko cukup lama. Ingatannya kembali di mana saat tadi pagi di apartemen hubungan mereka yang hampir mengalami kebuntuan. Namun, dengan segala janji-janji manis yang diberikan oleh si pria membuat wanita itu pun melunak.


"Tapi, orang tuamu?" tanya Maya.


"Kenapa? Ada apa dengan orang tuaku?" Riko justru bertanya balik. "Apa ada yang salah dengan mereka?"


Maya menggeleng. "Bukan mereka. Tapi aku!"


Kerutan di dahi Riko seketika terlihat. Pria itu berusaha mencerna apa arti dari ucapan Maya. Setelah itu, dia pun mendengkus. "Apa kamu mengira jika orang tuaku akan menghalangi kebahagiaan anaknya?"


Maya diam. Dia tak berani menjawab. Wajah itu hanya ditundukkan semakin dalam hingga kepalanya terbentur dada bidang pria di depannya.


Tangan pria itu pun memegang dagu si Maya, lalu diangkat agar wajah cantiknya terlihat. "Aku bukanlah lelaki yang akan melawan kedua orang tuaku, May. Tapi, aku akan membuktikan kepada mereka jika pilihanku ini adalah yang terbaik," ujarnya lirih. Namun, dalam.


"Keluargamu begitu berbeda denganku." Baru kali ini seorang Maya menunjukkan ketidak percayaan dirinya di depan orang lain dana semua ini ditunjukan kepada Riko. Lelaki yang memang sudah berhasil membobol dinding pertahanannya.

__ADS_1


"Boleh gak, sih, aku menggetok kepalamu?" Riko gemas dengan wanita di depannya yang kini justru tengah melotot. "Why? Apa ada yang salah?"


"Mulut sialamu yang salah!" sambar Maya kesal. "Apa kamu memang semenyebalkan ini, eoh? Ah, kenapa aku bisa lupa jika dirimu ini memang seperti itu."


"Aku ci_pok kamu baru tahu rasa!" ancam Riko.


Maya langsung melipat bibirnya ke dalam dan membuang wajahnya ke arah lain.


"Aish. Intinya aja. Mama dan papaku setuju jika aku mendekatimu. Jadi, stop pembahasan ini!"


Pupil mata wanita itu melebar. Dia bahkan melihat kembali wajah Riko yang kini tengah menyeringai puas, apalagi setelah melihat secercah kebahagiaan dari tatapan Maya.


Ingatan itu begitu menyesakkan, tetapi juga manis. Maya menjadi tersenyum kecil hingga membuat Riko yang ada di depannya mengerutkan dahi.


"Woi, malah ngelamun. Aih, jangan-jangan kamu ini sedang memikirkan hal jorok di dalam otakmu itu, eoh?" Riko bertanya, sambil menarik turunkan kedua alisnya dan jangan lupakan seringai licik itu.


Maya hendak mengumpat, tetapi kembali ditahan, apalagi setelah melihat ada Khumaira dan juga Hassan di sekitarnya. Dia mendelik kesal, lalu menginjak kaki pria tersebut.


"Loh, ada apa ini? Kenapa Om Riko berteriak?" tanya Fatimah yang baru saja datang setelah membuatkan minuman untuk kedua tamunya.


"Teman mbak yang sudah melakukan ini," adu Riko, sambil menunjuk wajah Maya.


"Abaikan dia, Umma. Lebih baik kita bahas tentang rencana kita!" Maya memanggil Fatimah sesuai interuksi si teman.


"Rencana? Rencana apa?" tanya Riko bingung.


"Membuangmu dari muka bumi ini!"


"Hah!"


...****************...


jangan lupa mampir di ceritaku satunya lagi yah!

__ADS_1



__ADS_2