Istri Untuk Iman

Istri Untuk Iman
Bab 85


__ADS_3

Fatimah yang sedang menjemur baju di belakang dikejutkan dengan tangisan dari si bontot. Wanita itu bahkan tak lagi berpikir panjang langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Namun, karena tidak melihat, ia justru tergelincir oleh siswa air cucian yang menggenang.


"Arghhh, sakit …." Fatimah merintih kesakitan, apalagi setelah melihat tangan, serta lututnya memar. Akan tetapi, telinganya masih mendengar jelas suara tangisan dari Khumaira.


"Sayang, tunggu umma, Nak!" kata Fatimah, sambil berusaha untuk bangun dari atas lantai semen.


Wanita itu mencoba menahan sakit supaya bisa lekas menemukan dan mengetahui keadaan Khumaira sebenarnya. Anak tersebut tidak akan menangis jika memang tak ada sesuatu. Namun, alangkah terkejutnya Fatimah saat melihat sang mertua tengah memukul tubuh si baby.


"Bu, apa yang ibu lakukan?" Fatimah pun menjerit refleks, lalu mengambil alih Khumaira dari gendongan sang nenek dengan paksa. Mata itu memandang awas Nenek Siti yang terlihat santai seolah apa yang baru saja dilakukan sangatlah wajar.


"Ibu kenapa?" Kali ini Fatimah mencoba meredam emosi yang tengah bercokol di dalam hatinya dan mencoba berbicara dengan halus. Sungguh, ini bukanlah hal yang bisa diselesaikan dengan adu urat, apalagi adu otot.


"Apaan, sih? Gak usah lebay gitu, deh. Lagian anak kamu, tuh, berisik banget. Gak tahu apa, kalau Ibu ini butuh istirahat?!" omel Siti merasa tidak bersalah.


Suara tangis Khumaira mulai mereda, tetapi masih sesenggukan.


"Tapi, tidak seperti itu, dong, Bu. Maira masih bayi," tuturnya, sambil berlinang air mata. "Kalau memang saya ada salah, Ibu boleh menegur saya. Tapi, tolong!" jedanya penuh harap.


Bulir kristal yang sedari tadi ditahan, kini tak bisa dibendung. "Jangan menyakiti anak saya!" mohon ya dengan sangat.

__ADS_1


Fatimah benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat Siti begitu berbeda beberapa hari ini. Wanita paruh baya tersebut begitu dingin ketika menatapnya.


"Apaan, sih? Ibu, kan, udah bilang, kalau kamu itu gak usah lebay." Siti mencibir kelakuan Fatimah yang terlalu over acting.


Hati Fatimah mencelos mendengarnya.


"Bagaimanapun juga, kamu suruh dia diam dulu! Gak usah bikin emosi orang deh. Bikin kepala aku makin nyut-nyutan aja." Setelah itu, Siti pun pergi meninggalkan Fatimah dan juga Maira di ruang tengah.


Si menantu mencoba tidak memasukkan hati apa yang telah dilakukan oleh Siti. Dia menganggap semua ini tidak pernah terjadi. Ia juga berharap Nenek Siti yang biasa dikenal akan cepat kembali.


"Maafkan, umma, ya, Sayang. Tadi umma lagi jemur baju," bisik Fatimah lirih kepada anaknya yang kini tengah meminum asi.


***


Siti masuk ke dalam ruang kamar yang digunakannya bener bulan ini di rumah sang anak. Wanita paruh baya itu duduk di atas ranjang, sambil mengurut kening yang terasa berdenyut sakit.


"Kenapa aku seperti ini, Ya Allah? Kenapa aku bertindak seperti orang lain? Astaghfirullah hal adzim. Maafkan nenek, Nak! Nenek benar-benar sudah berbuat jahat kepada cucu sendiri," tangisnya sedih.


Wanita paruh baya tersebut sangat terlihat menyesal setelah kejadian tadi. Dia bahkan sampai memukul tangannya sendiri karena sudah melukai Khumaira.

__ADS_1


Keheningan di ruang kamar itu seolah menjadi saksi dari kesedihan yang dialami oleh Siti. Dia menyesali semua kelakuannya karena sudah berbuat seenak jidat dengan mengomel, mencibir, hingga melukai perasaan menantu dan sang cucu.


"Sekali lagi maafkan nenek, Nak. Aku merasa ini begitu mendadak sehingga membuatku gila," rintihnya, sambil memukul dadanya karena merasa sesak.


Dalam kesedihan itu, Siti benar-benar menyesali perbuatannya. Dia bahkan berjanji akan minta maaf setelah ini. Tangan bekas memukul tubuh si mungil Maira pun masih terasa berdenyut sampai sekarang.


Dering ponsel di dalam kamar itu mengambil alih kesedihan. Senyum yang selama beberapa hari ini menghilang, kini kembali gadis saat melihat id caller orang tersebut. Jarinya pun dengan cepat menekan tombol hijau ke atas, lalu suara yang setiap hari menenamni pun mulai terdengar.


"Waalaikumsalam. Ya, ampun, Nak, kamu gak usah sungkan begitu. Lagian, Tante di rumah juga bosen," sahutnya kepada seseorang yang ada di seberang telepon.


Kedua mata Siti hampir melotot shock saat mendengar ucapan dari si penelpon. "Aduh, jangan seperti itu, Nak! Tante beneran jadi gak enak sama kamu," tolaknya atas barang yang ditawarkan si penelpon kepada si mertua Fatimah.


Namun, seseorang di seberang telepon seolah tahu bagaimana merayu sehingga Siti pun akhirnya pasrah menerima tas mewah yang dibelikan oleh si penelpon.


"Andai saja Nak Trisa itu datang lebih awal. Mungkin, kita sudah menjadi menantu dan mertua," tutur Siti dengan wajah penuh penyesalan.


Ucapan Siti membuat hati seseorang yang berada di balik pintu kamar itu kembali patah. Fatimah meremas daster bagian depannya dengan tatapan perih. Air mata bahkan tanpa dikendali sudah menerobos keluar dari mata legamnya.


"Ya Allah, sebenarnya Engkau sedang menunjukkan apa ini semua? Apa benar hati ibu sudah berpaling dariku?" tanya Fatimah pilu, kemudian berlalu pergi menuju kamarnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2