
Fatimah tercenung di atas ranjang. Pikirannya kembali di saat pertemuannya dengan Dhani di taman. Dia benar-benar merasa galau, sejak kakak tingkatnya datang lagi di kehidupan mereka. Kehidupannya seolah menjadi tidak tenang.
"Maaf, Dhan. Kamu bicara apa?" tanya Fatimah saat itu.
Dhani masih menatap wajah Fatimah serius, tanpa adanya keraguan. Tekadnya sudah bulat untuk berjuang mengambil hati dari perempuan tersebut. Dia merasa tak ada lagi yang bisa mengurungkan niatnya, kehidupan juga sudah dalam genggaman.
Maksudnya, pekerjaan sudah didapatkan sebagai karyawan tetap di kantor yang besar sebagai manajer. Rumah juga sudah berdiri kokoh untuk menjadi tempat bernaung kelak dengan istri, serta anak-anak mereka. Kendaraan juga siap untuk mengantar jemput sang istri ke mana pun akan mereka tuju.
Jadi, sudah pantas seorang Dhani Wicaksono untuk membuat menjalani biduk rumah tangga bersama orang tercinta dan perempuan tersebut adalah Fatimah Azzahra. Sosok sahabat, yang akan menjadi calon ibu dari anak-anaknya kelak. Itu mimpinya.
"Aku ingin melamarmu, Fa. Mungkin, besok aku akan datang bersama kedua orang tuaku ke rumahmu. Tunggu dulu!" Dhani segera menghentikan mulut si lawan bicara saat melihat perempuan di depannya hendak menyela ucapannya. Dia belum selesai.
"Jangan pernah menolak niat baik orang lain, Fa! Oke, mungkin sekarang kamu masih menganggapku sebagai teman, kakak, atau mungkin yang lain. Tapi, takdir tidak ada yang tahu bukan?" Netranya kini didongakkan ke arah langit malam yang begitu indah, memayungi mereka malam ini. Hanya sesekali pria itu melirik Fatimah, itu pun tak lebih dari 3 secon.
Gugup. Perasaan itu kini sedang menggerayangi tubuh Dhani. Rasa takut ditolak juga mendominasi hingga membaur bersama perasaan lain, menjadikannya kaku, seperti bukan Dhani Wicaksono biasanya.
"Allah itu Maha Pembolak-Balik perasaan manusia. Mungkin sekarang rasa itu belum ada, tetapi esok hari … siapa yang tahu? Bukankah begitu, Fa?" Lagi, mulut pria tersebut terus mencecar jiwa yang tengah terombang-ambing mencari pegangan.
Fatimah mengepalkan kedua tangannya erat. Entah kenapa dia justru merasa tidak suka dengan atmosfer yang diciptakan sekarang. Kaku dan penuh ketegangan. Apa memang seperti ini suasana orang yang sedang dilamar? Atau, hanya diriku saja yang terlalu lebay? Ah, aku tidak suka!
"Dhani, bukan bermaksud untuk menjadi–"
"Tolong, jangan berkata seperti itu dulu, Fa!" Kali ini Dhani Wicaksono menoleh ke arah perempuan yang sedang menunduk di kursi ujung kanannya. Dia menggeleng walau tahu orang tersebut tidak akan melihat.
"Aku akan memberimu waktu selama satu minggu untuk memikirkan lamaranku ini. Nanti, saat waktu itu tiba, aku dan kedua orang tuaku akan datang ke rumah untuk membicarakan tentang langkah selanjutnya. Maaf, Fa. Sepertinya aku haru pulang duluan. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban dari Fatimah, tungkai pria tersebut melangkah menjauh. Mendekati mobilnya yang diparkir di samping pintu taman. Kepalanya tidak menoleh ke belakang, mungkin dia terlalu gugup hingga membuatnya seperti robot yang berjalan.
Fatimah menggigit bibir bagian bawahnya gemas. Masalah satu saja belum selesai, kini dia harus dihadapkan lagi dengan masalah baru. Tidak bisakah mereka memberikan ruang sedikit untuk bernapas? Sungguh, dia merasa hampir gila memikirkan semua ini.
__ADS_1
"Lamaran dari keluarga Pak Iman saja belum saya jawab, lah ini sudah datang lagi lamaran dari orang lain. Apa mereka itu memang sengaja membuatku tak bisa tidur? Ah, kenapa hidupku menjadi rumit seperti ini!" gerutu Fatimah, sambil menendang selimut yang ada di bawah kakinya.
Perempuan itu, terlihat sangat kacau. Memikirkan masa depannya yang cukup menguras tenaga. Selama ini, dia begitu santai dan tak pernah berpikir di kehidupannya akan ada sebuah kisah yang cukup membuat kepala terasa cekat-cekot.
"Astaghfirullah hal adzim." Tiba-tiba dirinya tersadar karena sudah menyalahkan takdir. Dengan cepat, diambilnya air wudhu lalu mulai sholat malam. Fatimah merasa kepalanya hampir pecah, maka dari itu dia ingin mengadu kepada Rabb-Nya. Karena hanya Dia yang Maha Tahu SegalaNya.
Sementara itu, Aiman sendiri juga ternyata sedang bersimpuh di atas sajadah. Dia tidak bisa tidur hingga memutuskan untuk bertanya kepada Sang Pencipta. Memikirkan masa depan membuat matanya terus saja terbuka, padahal selama ini tak pernah sekalipun ada perempuan yang bisa membuat hidupnya seruwet ini.
Kenapa harus Fatimah? Kenapa harus dia? Apakah benar dia adalah perempuan yang cocok untukku? Apakah dia juga bisa merawat Mas Asa lebih baik dari dirinya?
Pertanyaan tersebut seperti roda yang berputar setiap saat, membuat dirinya hampir oleng. Bukan oleng karena minuman haram, melainkan karena pikiran manusia itu sendiri. Belum lagi, dia merasa terganggu juga dengan kehadiran lelaki lain di hidup Fatimah.
Dhani. Ya, nama itu jelas sudah berhasil membuatnya sadar. Sadar akan adanya halangan yang akan membuat perjalanan menuju rumah tangga bersama Fatimah tidaklah mudah.
Keningnya seketika mengerut. "Benarkah dirinya sudah bisa menerima, jika dia menjadi calon istriku?" Sontak jarinya yang sedang memegang tasbih berhenti menghitung. Matanya terpejam erat dengan rahang yang mulai mengetat.
"Tuhan, tolong jangan biarkan setan menguasai diriku. Aku berserah hanya kepadamu. Jauhkanlah mereka yang berniat menghalangi kebahagiaan kami. Aamiin."
"Abi, ini Mas Asa."
Aiman yang sedang berdoa segera menoleh ke arah pintu kamar yang memang tertutup. Dia lalu melihat ke arah jam dan dahinya pun seketika berkerut. "Masuk, Nak!" ujarnya, lalu melipat sajadah, kemudian ditaruhnya di atas nakas.
"Mas Asa kenapa jam segini belum tidur?" tanya Aiman seraya menepuk bagian samping ranjangnya. Dia mempersilahkan si anak untuk duduk di sebelahnya.
Dengan tangan kecil yang memeluk sebuah bantal guling, Hassan berjalan mendekati sang ayah. Dilihat dari wajahnya yang ditekuk, bisa dipastikan pria kecil ini baru saja terbangun dari tidur. Surainya bahkan dibiarkan berantakan dengan piyama bergambar pororo yang justru terlihat sangat imut dipakai olehnya.
"Mas Asa habis mimpi buruk, Abi," curhatnya saat kedua tangan Aiman sudah lebih bertengger di bahu dan surainya. Rasa kantuk yang tadi pergi, kini kembali datang. Tanpa sadar bibirnya pun menguap begitu lebar.
Aiman yang melihatnya tersenyum. Telapak tangannya yang besar lalu digunakan untuk menutup mulut si kecil. Sedang sang anak justru tertawa.
__ADS_1
"Maaf, Bi. Apa Mas Asa boleh tidur bersama Abi?" tanyanya dengan mata yang begitu lucu.
Hati mana yang bisa menolak bocah menggemaskan seperti Hassan. Jadi, tidak membutuhkan waktu lama untuk kepala itu mengangguk. Saat itu juga, si kecil menghambur langsung ke atas ranjang milik orang tuanya.
Bibirnya seketika melengkung lebar menyaksikan bagaimana kebahagiaan si anak, padahal itu hanyalah hal kecil. Dia memperhatikan ekspresi Hassan yang selama ini memang sedikit berubah-ubah. Salah satunya pasti karena … ah, memikirkan hal tersebut membuat perasaan geram kembali muncul.
Dengan perasaan ragu, Aiman pun kembali menoleh kepada sang anak. Bibirnya terasa kelu hanya untuk menanyakan hal yang cukup sensitif. Namun, jika bukan sekarang, kapan lagi?
"Mas Asa?"
"Iya, Bi."
Kembali bibirnya digigit, dia tiba-tiba merasa ragu lagi. Akan tetapi, saat melihat kedua bola mata Hassan yang tengah menunggu kelanjutan dari ucapannya, seketika merasa bersalah.
"Apa pendapat Mas Asa tentang Tante Fatimah?"
Mendengar nama tante favoritnya keluar dari mulut sang ayah, membuat bibir mungil itu melengkung lebar. Binar antusias pun jelas nampak di sana sehingga Aiman pun bisa menebak seberharga apa arti dari keberadaan Fatimah dalam hidup si kecil.
"Tante Fati itu cantik, baik, sholehah, senang sekali memberikan hadiah sama Mas Asa, terus dia juga gak pernah marah. Pokoknya Mas Asa suka banget sama Tante Fati," ujarnya dengan binar bening yang tidak bisa menutupi ketulusan hati dari Hassan.
Pria dewasa itu menghela napas, lalu dibuangnya dari mulut. Kini, adalah waktu yang tepat untuk dirinya bertanya. "Apa Mas Asa mau … Tante Fati … em, menjadi i–ibu Mas Asa?" tanyanya terbata.
Kedua kelopak mata itu berkedip lucu. "Apa abi akan menikah dengan Tante Fati?"
...****************...
Mampir kuy!
__ADS_1