
Beberapa bulan sudah berlalu. putra kembar marni sudah berumur enam bulan.
Tapi marni masih saja jadi ibu untuk menyusui saja. hari-hari marni cukup menemani dan melayani suaminya.
Putra kembar nya bisa saja tidak begitu dekat dengannya, akibat hanya memeluknya saat menyusui saja.
Dan saat malam putra kembarnya selalu tidur dengan baby sitternya saja.
Hingga marni merasa bosan dengan hari-harinya, yang hanya seperti boneka pajangan.
Setiap hari berdandan cantik dan selalu berada di dekat suaminya saat di rumah.
Bukan tidak bersyukur dengan kehidupannya. dimanjakan mertua dan suami. Tapi dia merasa bosan saja dengan kesahariannya.
Alasan suaminya yang ingin sembuh dari penyakitnya merupakan suatu yang sangat mengembirakan bagi dia pribadi.
Tapi. malah dia jadi pemuas nafsu suaminya itu. Entah apa yang menyebabkan suaminya bernafsu tinggi. hingga hampir tiap hari minta dilayani.
Demi suaminya sembuh, dia dengan ikhlas melayani suaminya. Yang penting dia sekarang bisa menjadi menantu dan istri yang bisa menyenangkan mertua dan suaminya.
.
Danilpun sekarang sudah sering tinggal di rumahnya yang di perumahan. Tinggal di gedung kantor hanya jika hari-hari tertentu.
"Niel, pukul sepuluh ada meeting dengan perusahaan H. eksportir dari kota b.
Mereka ingin mengirim barang melalui kita!". jelas Mario.
"Baik. dimana tempatnya. kan tidak sampai makan siang!". ujar danil.
Dia jarang mau rapat sambil makan siang. karena danil lebih mengutamakan makan siang bersama anak dan istrinya.
Kecuali rapat kantor atau perusahaan yang dia pimpin, baru dia mau rapat menyita waktu makan siangnya.
"Tidak. kita rapat di cafe S, dekat perumahan. bisa langsung pulang saat waktu makan siang!". jelas Mario.
__ADS_1
"Ok. siapkan saja semua keperluan untuk nanti!". ucap danil.
"Nanti, aku kabarkan saat kita berangkat!". ucap mario sesaat sebelum keluar ruangan Danil.
"Sip!". balas Danil.
Benar, pukul sepuluh kurang Mario dan danil keluar kantor menuju cafe tempat mengadakan rapat.
Tidak jauh, hanya tujuh menit berkendara dari kantor danil. dan sekitar lima menit dari cafe kerumah tempat tinggal danil sekarang.
Kantor danil dan rumahnya memang tidak jauh.
"Danil?!". ucap seseorang saat danil berjalan dari parkiran menuju dalam cafe.
"Ya!". jawab danil.
Melihat orang yang menyapanya. Danil hanya mengangukkan kepalanya sambil tersenyum sedikit.
"Maaf Danil. bisa bisara sebentar?". ucap orang itu.
"Sebentar saja Danil. tiga menit!". paksanya.
Danil melihat Mario sebentar. dan mario mengangkat tiga jarinya.
"Ok!". ucap danil.
Dua menuju sudut taman cafe, di pohon.
"Iya. ada apa ya pak?!". tanya danil.
Setelah berdiri di sisi pohon.
"Aku minta maaf. aku tahu kamu masih mencintai putriku. maka aku akan mengizinkan kamu untuk menikahinya.
marni juga masih mencintai kamu. Dan kalian bisa balikan. untuk menyatukan cinta kalian yang terhalang restu. Sekarang aku mengizinkan kalian.
__ADS_1
Aku menunggu kamu melamar putriku!".
Ternyata Papanya marni. pak pendra.
Danil hanya diam. membiarkan dia berbicara. tidak ada niat untuk menyela. dan Danil melihat dengan tatapan yang sulit diartikan.
Melihat danil hanya diam melihatnya. pak pendra seperti diatas angin. dia yakin Danil mau menjalin hubungan dengan putrinya lagi. hingga dia terus berbicara.
Dengan inti perkataannya menyuruh danil menunggu janda putrinya.
"Alu tahu marni tersiksa drngan pernikahannya. Sama dengan kamu yang juga terpaksa menikahi istrimu. cintamu masih pada marni!". ucapnya tanpa jeda.
Hingga.
"Sudah selesai bicaranya pak?!". tanya danil pelan.
"Aku berharap kalian bersatu mem perjuangkan cinta kalian. aku restui kalian untuk bersana!". ucap pak Pendra tanpa menjawab ucapan Danil.
Danil melihat orang tua mantan pacarnya itu. walau dia kesal tapi tidak memperlihatkan kekesalan nya.
Danil pergi tanpa mengucapka apa- apa. takut emosinya tidak dapat di kendalikan.
"Aku harap kamu melamar anaku segera setelah dia resmi bercerai!". ucap pak pendra agak keras suaranya.
Membuat Danil menghentikan langkahnya. dan menghadap orang tua mantannya yang tidak tahu malu.
"Simpan semua ucapan anda. dan renungkan apa yang sudah anda ucapkan tadi!". ucap danil.
Lalu pergi dari depan pak pendra yang terdiam.
Dia kira dengan ucapannya akan menarik simpati Danil.
.
.
__ADS_1