
"Biar aku mengendongnya". Ucap Ridho.
Saat Marni ingin mengambil putrinya yang tertidur dari gendongan Ridho.
Marni mengangguk, dan dia membantu kedua putra kembarnya untuk turun dari mobil.
Mereka sampai dikosan marni. Kosan yang terdiri dari tiga lantai. Dan terdapat banyak pintu yang menghadap jalan perumahan. Juga ada yang menghadap belakang.
Banyak karyawan pabrik yang tinggal disini. Karena kosan ini mengutamakan privasi yang tinggi.
Walau kosan ini bercampur antara laki-laki dan perempuan. Tapi yang laki-laki tinggal di lantai dasar dan bagian belakang.
Marni tinggal di lantai dua dua pintu arah kiri. Dan tangga keatas ada di tengah bangunan.
Marni membimbing putra kembarnya menaiki tangga, di iringi oleh Ridho di belakang.
Lalu membuka kunci pintu kamar kosannya.
Marni mengambil bantal untuk putrinya tidur.
Ridho memperhatikan kamar kosan Marni. Hanya ada satu ruangan. Ada kamar mandi di dalam kamar itu.
Tapi tidak ada dapurnya. Dan hanya ada satu mejik com kecil dan beberapa piring dan gelas yang terletak di atas meja kecil di samping kasur busa kecil yang di bentang di lantai.
Juga hanya ada lemari plastik di dekat pintu kamar mandi, dan satu koper marni yang terletak di samping lemari plastik itu.
Juga..
Tidak ada ac, hanya ada kipas besar yang berdiri di kaki kasur lantai.
Ridho sangat trenyuh melihat kamar marni yang jauh dari kata mewah.
__ADS_1
Memang kalau dibanding kamar yang ada di rumah orang tuanya atau kamar di apartemennya. Sangat jauh.
"Istirahatlah bang. pasti abang juga capek". Ucap marni.
Hanya ada satu bantal dan satu guling dikamar marni. Itupun sudah dipakai oleh anak-anak.
Ketiga anak merekapun sudah tertidur. Mungkin kelelahan di perjalanan tadi.
juga mungkin bangun subuh untuk betangkat ke bandara pagi tadi.
Marni duduk di dekat pintu. Pintu sengaja tidak di tutup rapat. Agar sedikit ada angin dari luar.
Dan kamar marni juga diberi tirai dekat pintu, agar suasana kamar tidak langsung terlihat dari luar.
Marni juga sudah minta izin bisnya, untuk tidak kembali ke perusahaan. Karena kedatangan suami dan anak-anaknya. Dan sang bos mengizinkan.
"Kamu nyaman tinggal disini?". Tanya Ridho.
Memecah keheningan. melihat sekeliling kamar kosan Marni.
Banyak karyawan pabrik yang tinggal disini". Jawab Marni.
"Sangat jauh dari kamu yang dulu. Saat masih di jakarta". Ucap Ridho.
"Iya. Dulu aku tinggal menikmati semua yang ada. Sekarang aku hanya mampu menyewa kamar ini. Alhamdulillah". Jawab Marni.
"Maaf atas keegoisanku waktu itu. Aku kalut, melihat tingkah papa kamu. aku juga takut kamu akan...".
"Kan sudah aku katakan. Sikap dan tindakan papaku tidak ada pengaruhnya padaku.
Aku tidak bisa melarangnya. Dan aku juga tidak mau mengikuti kemauanya!". Potong Marni.
__ADS_1
"Iya. Aku tahu.
Tapi aku masih was-was. Apalagi papa kamu bersikap tidak terkendali.
Hingga aku juga ikut di buli. Sebagai mebantu yang tidak bisa diandalkan, dan ..". Ridho tidak melanjutkan lagi.
Mereka saling diam. Lama. Hingga terdengar suara azan ashar.
Sementara Ridho sholat, Marni keluar sebentar untuk membeli cemilan untuk anaknya.
selesai sholat ashar, mereka berada di dalam kamar kosan marni.
Ketiga putra putrinya masih betah rebahan setelah melaksanakan sholat tadi. Ridhopun ikut rebahan didekat si kembar, berbantalkan kasur busa.
Mungkin capek seharian di perjalanan. Dari jakarta ke pekan baru dengan pesawat. Sekitar dua jam.
Dan dari kota pekan baru ke kabupaten siak menggunakan mobil kurang lebih dua jam lerjalanan.
Entah pukul berapa mereka bangun pagi tadi. Dan menjelang zuhur mereka sudah berada di perusahaan tempat marni bekerja.
Entah tertidur atau cuma merem. Marni tidak mau menganggu suaminya itu.
Marni menutup pintu kamarnya, karena tidak ingin terganggu teman dan tetangga kosan yang mungkin sebentar lagi pulang dari pabrik dan perusahaan.
Dia malah ikut tiduran di samping putrinya yang selalu tersenyum memandangnya.
Mungkin dia bahagia bertemu ibu kandungnya.
Marni menciumi wajah putrinya. Bergantian dengan kedua putra kembarnya yang juga ikut rebahan di sampingnya.
.
__ADS_1
.
.