
"Abang Dylan mau naik bendi juga pulang nanti kerumah nenek yah". Ucap dylan.
Saat ini Danil dan fauziah sedang pergi joging pagi di taman jam gadang. Mereka membawa kedua buah hatinya.
Seperti biasa Danil yang mengendong putrinya dengan gendongan di perut. Sementara Fauziah membimbing Dylan.
"Iya sayang. Nanti kita pulang naik bendi lagi". Jawab fauziah.
Mereka berjalan keliling taman, sambil sesekali berfoto. Baik sendiri, maupun bersana.
Bahkan putri danil yang sudah bisa berjalan sendiri juga sesekali di bimbing.
Cuaca cerah pagi tidak begitu terik. Hingga kedua buah hati Danil dan Fauziah tetap nyaman bermain.
"Berdiri disini sayang. Biar ayah foto". Ucap Danil pada istri dan anaknya.
Mereka berfoto bersama di beberapa tempat. Jiga minta difotokan pada pengunjung lain.
Lalu mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan. Fauziah duduk sambil melihat suaminya yang membimbing putrinya.
Sedangkan Dylan berjalan mengikuti ayahnya yang sedang membimbing adiknya.
"Mau jajan tidak?". Tanya Danil pada istrinya.
"Beli cemilan bang". Jawab fauziah.
"Baik. Kita kesana!". Ucap danil menunjuk arah pasar atas.
Mereka berjalan berbimbingan menuju pasar atas. Dengan danil mengendong putrinya. Sementara Dylan berjalan beberapa langkah didepan mereka.
Ada sepasang mata berlinang yang sedang memandang mereka berjalan menjauhi taman jam gadang.
'Kapan aku bisa bertemu ketiga buah hatiku. Aku kangen mereka'. Gumam marni.
Ya. Tadi saat mobil di parkir teman marni, mereka menuju taman ham gadang untuk berfoto dan santai sejenak.
Tidak tahunya marni melihat Danil sang mantan pacarnya sedang bermain di taman jam gadang dengan keluarga kecilnya.
Melihat kemesraan keluarga kecil sang mantan, membuat marni ingan dan kangen dengan anaknya.
Hingga meneteskan air mata.
"Mbak marni. Ayo kita foto-foto". Ucap teman perempuan marni.
__ADS_1
"Eh. Mbak menangis?". Tanya perempuan yang lain.
Mereka semua ikut memandang kearah pandangan marni.
"So sweet".
"Keluarga bahagia. Aku juga ingin punya keluarga seperti itu". Ucap teman perempuan Marni.
"Aku juga. Tapi tidak ada wanita yang mau denganku". Tiba-tiba ajo ikut berkomentar.
"Iya. Aku juga ingin menikah. Bagaimana rasanya kalau kita kawin". Tambah teman laki-laki yang satunya.
"Mbak marni yang sudah menikah, pasti sudah tahu rasanya kawin". Ucap teman perempuan.
Marni melihatnya kaget. Kok dia jadi contoh. Sementara keempat temannya melihat marni.
"Bagaimana rasanya mbak?!". Tanya teman perempuan yang satunya.
"Ah...!". Kaget marni di tanya hal yang sensitif.
"Rasanya". Ulangnya.
"Nikah dulu. Baru tahu rasanya". Jawab marni tegas. Juga malu.
Lalu berjalan kearah sisi taman yang lain.
"Ayo. Dimana!". Jawab marni.
"Selesai disini kita ke kebun binatang, benteng fort de kock, panorama, lobang jepang, ngarai..".
"Apa sempat jo. Nanti kesorean ke payakumbuh". ucap temannya.
"Tidak. Kita cuma sebentar sambil jalan kaki saja". Jawab ajo.
karena bukittinggi kota yang sering dia kunjungi semenjak kecil dulu. Selain dekat dengan kota kelahirannya juga saudaranya banyak di kota ini.
"Apa tidak capek jalan kaki?". Tanya salah satu perempuan.
"Tidak. Malah ribet pakai mobil. Selain susah cari parkiran juga akan makan waktu menuju mobil". Jelas ajo.
"Iya.lebih enak jalan jaki. Untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain tifak makan waktu lama.
Paling jauh cuma jalan sepuluh menit". Jawab Marni.
__ADS_1
"Kok mbak tahu?". Tanya mereka bersamaan.
"Dulu aku pernah punya pacar orang sini. Dari jam gadang jalan ke kebun binatang sekitar lima menit. Ke benteng cuma menyebrang jembatan.
Dan ke panorama tepian ngarai cuma lima belas menit jalan santai dari benteng. Dan lobang jepang ada di panorama itu". Jelas marni.
Berjalan mengikuti ajo.
"Wah sudah hafal ya mbak. Apa suami mbak orang sini juga?". Tanya teman perempuan.
Ikut mengiringi dengan yang lain.
"Bukan. Suamiku orang medan". Jawab Marni..
"Oo". Jawab mereka bersamaan.
Sekitar satu jam mereka berada di jebun binatang dan benteng fort de kock. Mereka berjalan menuju panorama. Menuruni jalanan yang ada perumahan dan hotel.
Lalu menyusuri jalan dekat panorama hingga mereka sampai di gerbang panorama itu.
Tapi. Sekali lagi Marni melihat Danil dan keluarga kecilnya di atas bendi.
Putra sulungnya yang duduk di samping kusir bendi. Yang dipegang oleh fauziah. Dan Danil memeluk putrinya.
Mereka tertawa sambil berfoto.
Dan..
"Marni!!". Panggil Danil.
Marni kaget, Danil memanggilnya.
"Uda beranti sabanta".
Perintah danil menyuruh Kusir bendi memberhentikan kudanya.
"Marni. Sini sebentar". Panggil Danil menyuruh Marni mendekat.
Karena Danil dan keluarga kecilnya berada di atas bendi.
Fauziah melihat suaminya dan marni bergantian.
Heran.
__ADS_1
.
.