
"Kita sampai di kelok sembilan bang. Jembatan layang yang terkenal seindonesia". Ucap Marni membangunkan suaminya.
Ya. Mereka telah sampai di kelok sembilan menjelang subuh.
"Wah bagus ya. Kita berhenti sejenak pak". Ajak Ridho.
Mereka berhenti sejenak untuk sekedar istirahat dan melihat jalan layang di malam hari. Dan mereka sholat subuh di kampung di bawah sekitar kelok sembilan.
Dan masuk payakumbuh menjelang terang.
"Kita ke lembah harau dulu ya pak, bu. pagi seperti ini sangat sejuk dan indah". Ajak sang supir.
Maka merekapun mampir di lembah harau sebentar, berfoto. Dan sarapan pagi di warung sekitar kantor bupati sebelum menuju lembah harau.
Lalu ke tempat viral lain lagi. Kapalo banda. Untuk main air dan mandi- mandi.
"Wah, tempatnya cantik mah. Mandi-mandi sambil menyebrang sungai. Tapi dangkal". Ucap si kembar.
Mereka bermain-main di air yang sejuk. Apalagi mereka belum mandi pagi ini.
Main air dan sekalian mandi, biar segar malanjutkan perjalanan.
"Iya. Aku tidak menyangka. Didalam hutan ada tempat secantik ini. Aku kira jalannya buntu tadi". Tambah Ridho.
"Iya pak. Kita datang di pagi hari, masih belum ramai. Kalau sudah agak siang akan ramai lagi". Ucap Pak supir.
Ya. Mereka datang masih pukul sembilan. Masih sepi. Jadi mereka puas bermain dan berfoto. karena seperti tempat milik pribadi.
Marni dan Ridhopun ikut main air. Dan sekalian mandi.
"Mama. kita pakai baju samaan yuk. Kemaren nenek membeli untuk kita. Katanya biar kompak". Ucap si sulung.
"Iya. Kita belum pernah foto keluarga". Tambah kembar kedua.
"Boleh. Nanti mama ambilkan". Jawab Marni.
Maka, merekapun berpakaian, memakai baju sama. Seperti seragam keluarga berbahan batik. Berwarna biru.
Buat Marni dan si bungsu, terusan batik seperti gaun. Dan sikembar dan papanya, kemeja.
Selesai mandi dan berganti pakaian. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kota bukittinggi.
Sambil ngemil makanan khas payakumbuh di atas mobil. Tadi mereka membeli gelamai dan batiah pada penjaja makanan di tempat wisata.
__ADS_1
"Berapa jam kebukittinggi dari sini pak?". Tanya Ridho pada supir.
"Satu jam lebih pak. inshaa allah menjelang makan siang kita sampai bukittinggi.
Dan kita bisa makan siang restoran di sana". Ucap supir.
Benar saja. Menjelang waktu Zuhur. Mereka sudah sampai di bukittinggi.
"Kita sholat dulu di mesjid sana. Dan baru pergi makan siang". Ucap Supir.
Menunjuk mesjid di jalan kota. Marni dan Ridho mengajak anak- anaknya untuk sholat.
Selesai sholat mereka menuju pusat kota. Untuk makan sekalian bermain.
"Kok macet pak?!". Tanya Ridho.
Jalanan menuju pusat kota macet.
"Ada pesta pernikahan pak. tadi di dekat mesjid ada yang cerita. Seorang pengusaha lokal sedang pesta. Putrinya menikah.
Lihat saja, bungga lapannya saja sepanjang jalan. Benar-benar orang kaya". Ucap Supir.
"Oo. Keluarga kaya sepertinya". Jawab Ridho.
Melihat jalanan yang ramai, dan banyak bungga papan ucapan selamat. Tamupun ramai datang.
'Inikan rumah orang tuanya Danil. Apa mungkin adik Danil yang menikah'. Pikir Marni.
Dia melihat kearah rumah megah itu. Rumah yang dulu pernah dia kunjungi. Diajak Danil.
Dia menundukan wajah, sambil melihat putrinya. melupakan semua kenangan yang lama dilupakan.
Tapi. Ingat lagi saat melihat rumah orang tua Danil.
Mobil sangat lama berjalan. Macet karena ramainya tamu yang datang.
Juga mobil yang menaik turunkan tamu pesta. menghadiri pesta pernikahan.
"Ridho!!".
Panggil seseorang dari luar mobil yang dinaiki Marni beserta suami dan anak-anaknya.
Karena kaca mobil ridho terbuka setengah. Dan Kebetulan Ridho duduk d depan.
__ADS_1
Tadi selepas sholat di mesjid, kaca mobil memang dibuka. Selain ingin menikmati kota, bukittinggi juga sejuk. Tidak perlu pakai pendingin udara.
Awalnya Ridho mengacuhkannya. karena menganggab seseorang memanggil nama yang sama dengan namanya.
Tapi. Ternyata Danil yang memanggilnya.
"Mampir kerumah yuk. Mumpung kalian sudah disini". Ajak Danil.
"Terima kasih Danil. Kami cuma kebetulan lewat. Mau jalan-jalan keliling kota". Jawab Ridho menolak ajakan Danil.
"Iya aku tahu. Kalian sedang liburan. Tapi aku yang mengajak untuk mampir. Sebagai teman dan kenalan kalian di kota ini.
Ayo!". Ucap Danil membuka pintu depan tempat Ridho duduk.
Ridho kaget. katena tiba-tiba di tarik Danil untuk turun dari mobil untuk mampir.
"Ayo Marni. Ajak semua untuk mampir". Ucap Danil.
Setelah berhasil membawa Ridho turun dari mobil.
"Turun saja bu. ini sudah macet". Usul pak supir yang menemani mereka.
"Bapak sekalian. .".
"Aku nanti saja bu. Nanti kabarkan saja kalau sudah selesai. biar aku jemput kesini". Ucapnya.
Marni terpaksa turun. Tidak lupa mengambil tas tangannya. Dan membantu merapikan pakaian anak-anaknya. Walau tadi sudah rapi saat selesai sholat.
Tapi ini, menghadiri pesta. Pesta besar malah. Kelas pengusaha lokal dan juga nasional.
Pasti banyak orang penting yang datang.
Dia sebenarnya malu. Karena pakaian mereka tidak untuk menghadiri pesta, walau seragam dan masih cocok untuk ke pesta.
Tapi disini. Tamunya tampil wah menghadiri pesta. Untung saja mereka selalu tampil rapi. Apalagi suaminya selalu berpakaian rapi dan gagah. Juga putra kembarnya yang ikut gaya papanya.
Jadi tidak begitu kentara untuk suami dan putra kembarnya.
Untung baju terusan batik dia dam putrinya lumayan bagus. Walau dia merasa kurang percaya Diri untuk hadir ke pesta.
Sebelum benar-benar masuk ke tenda pesta, marni sempat beberapa kali menyemprotkan farfum pada tubuhnya dan anak-anaknya.
Dan, dibagian belakang tubuh suaminya. Agar wangi.
__ADS_1
.
.