
Sudah beberapa bulan tinggal jauh dari orang tuanya. Marni mencoba untuk membangun rumah tangga yang aman dan damai.
Ridho yang sudah berubah. ingin memiliki rumah tangga bahagia seperti tumah tangga orang tuanya.
Ditambah usia Ridho yang sudah memasuki empat puluh tahun lebih. Dia ingin anak-anaknya juga menjalani hidup normal.
Dia tidak ingin putra kembarnya terpapar punya penyakit menyimpang sepertinya dulu. Dipengaruhi oleh guru atau senior disekolah nanti.
Dia sudah merencanakan akan melindungi putra kembarnya dari penjahat kelamin yang sudah mulai menyerang anak laki-laki usia sekolah.
Juga putri bungsunya yang juga butuh banyak perhatian dari kedua orang tuanya. Agar tidak salah jalan saat memasuki masa remaja dan masa sekolah.
"Aku ingin kamu lebih fokus pada anak-anak. Agar mereka terjaga dari orang yang tidak bertanggung jawab". Ujar Ridho.
"Iya bang. Aku juga ingin fokus memperhatikan mereka". Jawab Marni.
Ridho sudah beberapa kali membicarakan ini dengan Marni istrinya. Lebih sering menanyakan kegiatan si kembar saat di sekolah.
"Penyakit menyimpangku jangan sampai dialami si kembar. Aku tidak sangup melihat putraku di perlakukan seperti itu.
Menjijikan". Ucap Ridho pada istrinya.
"Aku paham. Saat ini banyak terdengar anak laki-laki usia dini sering jadi korban oleh senior yang juga masih kecil.
Apalagi kalau penyakit itu telah di terima dari usia dini. Akan sulit disembuhkan". Ujar Marni.
Dia tidak ingin putranya menjadi korban. Makanya saat Ridho suaminya minta dia fokus menjadi ibu rumah tangga, Marni tidak menolaknya.
"Aku bersyukur, kamu dengan sabar menghadapiku dengan penyakit yang aku idap.
Bahkan dengan terang-terangan aku mengatakannya padamu pedangku suka a....
Aku tahu. kamu pasti jijik dengan perbuatanku yang suka celap celup di tempat yang tidak tepat". Ujar Ridho.
Saat ini mereka sedang duduk santai diruang menonton.
Setalah makan malam dan bermain serta belajar bersama putra putri mereka tadi. Dan buah hati mereka sudah tidur.
Jika Ridho lekas pulang, dia akan makan malam dirumah, dan ikut bermain dan membantu belajar si kembar yang baru masuk tk. Juga bermain dengan putrinya.
Juga akan membantu sampai ketiga buah hatinya tidur.
"Aku juga senang abang sembuh. Dan tidak bermain pedang- pedangan lagi". Ujar Marni.
"Aku menyesal. Pusakaku yang sangat berharga digunakan tidak pada tempatnya.
untung ada kamu yang bisa menyembuhkanku. Hingga aku tidak tertarik lagi dengan sejenis.
Pedangku tidak bisa main di sana lagi. Maunya di sini". Ucap Ridho mengelus paha Marni.
Marni memandang suaminya. Dia tahu. Semenjak si kembar lahir, suaminya menjadi sering olah raga ranjang. Walau dia tahu masih sering juga suaminya itu main pedang-pedangan.
Sekarang?. Entahlah.
"Apa selama aku jauh dari abang apa abang jajan untuk..".
"Tidak pernah. selama dua tahun kamu jauh dari abang, abang tidak pernah sekalipun jajan". Potong Ridho.
Apalagi Marni dua tahun berada jauh dari suaminya itu. Yang dia tahu. Dulu saat sikembar lahir, langsung tidur dipisah darinya.
Dan saat masa nifasnya selesai, suaminya selalu minta dilayani. Tiap hari. Liburnya olah raga ranjang hanya saat ada tamu bulanan.
"Apa abang...".
"Aku puasa. Tidak ada jajan atau main pedang-pedangan.
__ADS_1
Selama itu Aku hanya ingat anak kita. Memikirkan mereka". Jawab Ridho jujur.
"kenapa tidak ingat aku atau mencariku?". Tanya Marni.
"yang ada dalam fikiranku, kamu itu kembali ke rumah orang tuamu yang meminta kamu balik pada menantu idaman papa kamu.
Makanya aku tidak mencari keberadaanmu.
Tapi saat terakhir kali papa kamu masuk rumah sakit, aku disuruh papa untuk melihat kerumah sakit.
Dan disanalah aku tahu dari mama. Kalau kamu tidak bersama mereka. Mama bertanya kok aku datang sendiri saja.
Setelah aku tanya papaku. Ternyata kamu juga menghindar jauh dari keluarga kamu". Jelas Ridho.
Marni mengangguk paham.
"Tapi penyakit canduku pada tubuhmu tidak ada obatnya!". Ujar Ridho memeluk tubuh istrinya.
Lalu membopong tubuh istrinya kekamar mereka.
"Aku ingin selalu menginginkan tubuhmu ini Marni". Ujar Ridho.
Dia meletakan tubuh istrinya di tempat tidur. Jemari Ridho menelusuri bibir Marni. Terus kedagu, leher hingga dengan lancar membuka satu persatu kancing baju piama yang di kenakan Marni.
Sementara bibir dan lidah Ridho mencium bibir dan wajah Istrinya.
Baju di bagian dada marni sudah terbuka. Hingga jemari tangan Ridho menyusup kebalik penyangga dada istrinya.
Ridho sudah siap mengungkung istrinya.
"Aku ingin selalu menyentuhmu sayang. Kamu dan tubuhmu ini candu bagiku". Ujar Ridho.
Setelah puas bermain dan ******* bibir istrinya. Lidah Ridho menyusuri leher istrinya. Hingga turun kedada.
Tangan Ridho bahkan dengan lincah melepas penyangga dan pakaian istrinya. Hingga tubuh atas Marni telah polos.
Mulutnya sudah ******* salah satu puncak yang ada di dada istrinya. Dan satu tangan lagi meremas pelan. Bergantian.
Marni yang mulai merasakan garah. Dimana sang suami bermain di titik sensitif yang ada di tubuh bagian atas.
Mencium, menyesap hingga Menyedot pucuk tertinggi di dada marni. Membuat marni mendesis tertahan.
Apalagi mendengar Ridho menyebut namanya. Membuat marni melambung tinggi.
Ridho yang sudah ahlii dan tau titik sensitif istrinya semakin liar mengerayangi tubuh atas istrinya.
Bibirnya bermain di dada istrinya, tangannya juga lancar menurunkan celana piama yang hanya berkaret sampai keujung kaki marni. Begitu juga dalaman.
"Hmmm.... cup.. cup....".
Bibir Ridho menjilat dan mengecup pusar istrinya. Membuat marni terus mendesis tak tertahan.
"Ini pusat canduku pada tubuhmu sayang. yang tidak ada obatnya. Aku hanya ingin tubuhmu saja. Tidak ada yang lain".
Ujar Ridho melebarkan kedua paha istrinya. Ridho duduk di antara kedua kaki istrinya.
Dan.
"Ssshhhh.. Abang..". desah marni memejamkan matanya.
Saat ibu jari suaminya mengelus lembut sambil berputar pada pusat intinya yang menonjol.
"Iya sayang. Nikmati saja Aku suka". Ujar Ridho.
"Serukan terus namaku sayang". Tambah Ridho.
__ADS_1
"Cup.... Cup... Cup....".
Bibir Ridho mengecup puncak inti yang menonjol itu beberapa kali.
Lalu lidahnya ikut mengelus lembut puncak kecil yang tersembnyi itu. Membuat Marni mendesis tertahan.
"Sruppp... Cup...".
Dengan lembut juga Ridho menyedot inti itu hingga keluar dari persembunyiannya.
Membuat Marmi sedikit mengangkat pinggulnya. Mengikuti tarikan sedotan bibir suaminya menyedot intinya.
"Sshh... Abangh". Desah marni.
Ridho yang mendengar istrinya mendesah. Semakih kuat menyedot inti itu. Inti yang candu dia sedot dengan bibirnya.
Selain puncak dada istrinya, puncak inti istrinya yang tersembunyi ini juga candu baginya untuk bermain lama-lama.
"Nikmati sayang. Semua yang ada di tubuhmu adalah milikku seutuhnya...". Racau Ridho.
Dia semakin menggila menengelamkan wajahnya untuk menyesap ganas disana.
Selain bibirnya bermain liar. Salah satu tangan dan jari jemarinya juga ikut bermain di surga dunia istrinya.
Membuat Marni semakin meracau hebat.
"Abangh... Aku... Aku....".
Marni mengelinjang hebat, saat pelepasan orgasmenya.
Bagaimana tidak. Suaminya dengan ganas bernain di inti tubuhnya dengan waktu yang cukup lama.
"Aku suka kamu bisa menikmati permainanku sayang. Ujar Ridho.
Dia yang masih duduk di antara kedua paha istrinya tersenyum melihat istrinya yang sedang nenikmati pepepasan.
Dengan cekatan Ridho membersihkan Sisa-sisa orgasme istrinya dengan tisu.
Dia tahu. Istrinya kelelahan saat pelepasan tadi. Membiarkan sejenak untuk istirahat, dan menormalkan nafas sebentar.
Tapi jarinya masih aktif membelai pucuk tersembunyi yang sedikit menyembul. Karena sedotan ganas bibirnya.
Hingga...
Setelah nafas istrinya kembali normal. Ridho kembali menungkung istrinya. Untuk...
"Sayangh... Aku ... Ah... Marni...". racau Ridho.
Dia bergerak liar di atas tubuh istrinya, menikmati menu utama olah raga ranjang.
Setelah sekian menit Ridho bergerak, membenamkan pusakanya ketubuh istrinya.
Dimana semenjak usia remaja beberapa tahun yang lalu salah tempat. Dan salah dalam penggunaan. telah kembali mengunakan pada tempat yang semestinya.
Lahan halal yang ada di seorang istri. Dan dia yang bergelar suami.
Hingga terjalinlah pernikahan yang di ridhoi allah.
Halal dan berkah.
"Ah... Ah.. Sayangh...
Terimakasih sudah mau menjadi istriku. Tempat halal pelampiasan nafsuku...
Terima kasih.. Sshhh..".
__ADS_1
Racau Ridho saat pedangnya menumpahkan sesuatu yang ada di bawah sana pada lahan halal milik istrinya.
.