
"Aku akan ke pekan baru pah. Aku akan menemuinya. Dan akan membawanya pulang". Ucap Ridho.
Setelah tahu keberadaan Marni.
"Tapi kita tidak tahu dia di pabrik mana. Kan di pekan baru banyak pabrik triplek dan kertas.
Juga ada di beberapa kota sekitar pinggiran pekan baru". Jawab pak Sultan.
"Kan papa bisa bertanya pada teman papa. Di pabrik daerah mana Marni dimasukannya bekerja. Apa nama perusahaan tempat Marni bekerja.
Jadi aku bisa langsung ke daerah dan perusahaan tersebut". Jawab Ridho.
"Papa pernah bertanya pada bu noni waktu itu, dia bilang marni berada di daerah perawang apa siak. Papa juga kurang tahu.
Bisa saja kotanya luas, dan juga mungkin banyak pabrik sejenis di sana.
Entah dibagian apa marni itu bekerja". Jawab pak sultan ragu.
"Yang penting aku kesana pah. Kan bisa kirim pesan pada marni jika aku sudah disana.
Tidak mungkin juga dia berani mengelak lagi untuk bertemu. Aku yakin itu". Jawab Ridho bersemangat.
Dia yakin akan bertemu dengan marni. Dan akan membawanya pulang.
Dia juga merasa bersalah dengan marni yang ternyata tidak ada menganggunya selama ini.
Malah dengan tega dia berbuat jahat pada istrinya itu.
"Papa cuma berpesan. bicara baik-baik dengan Marni. bawa dia pulang. Papa ingin kamu kembali bersatu dengan istrimu. Kasihan anak-anak kalian.
Kamu juga berantakan hidupmu semenjak di tinggal Marni. Dia tidak salah. Karena semua yang dikakukan papanya tidak dia tahu.
Kamu juga, tidak bisa menahan emosi dan juga kamu egois. Tidak memahami istrimu, malah mem provokatori sikap orang tuanya, hingga dia juga engan bicara dengan orang tuanya itu". Ucap pak Sultan mengeluh sikap anaknya.
Ridho hanya termenung, mendengar ucapan papanya.
"Besok datanglah kepekan baru, temui bu noni. Biar ada kenalan bu noni membantu kamu di sana.
Juga bisa dengan cepat kamu menemukan Marni.
"Baik pah. Aku berangkat pagi besok". Tegas Ridho.
.
"Sini dulu Marni. Ada yang ingin aku sampaikan". Ucap Danil.
Dia tidak bisa turun. Selain memeluk putrinya, juga dia ingin bicara dengan marni dekat istrinya.
__ADS_1
Mereka bertemu di jalanan dekat panorama.
"Kamu kenal dia?". Tanya salah satu teman marni.
Marni mengangguk.
"Ayo sana. Mungkin dia ada pesan penting". Tambah yang lain.
"Iya sana Marni. Kami tunggu kamu disini". Ucap yang lain.
Dengan ragu marni menuju bendi yang dinaiki Danil dan keluarga kecilnya.
"Kamu kemana saja. Suami dan mertua kamu kalang kabut mencari kamu". Tanya Danil tegas.
Marni sedikit ciut melihat mantan pacarnya itu.
Fauziah mengelus lengan suaminya. Biar berbicara santai.
Dia turun dari bendi itu. mengulurkan tangan untuk salaman. Dan diterima oleh marni.
Dia berdiri disamping marni. Yang diam tanpa bicara.
"Kamu sekarang tinggal dimana marni?". Tanya Fauziah lembut.
Dia berusaha berbicara dari hati ke hati pada marni Tapi marni tidak menanggapinya.
Fauzuah mengelus lengan Marni.
Marni menunduk, air matanya mengalir. Sakiy, sedih, rindu. Rasanya campur aduk.
"Aku tidak diacuhkan oleh orang tuaku. juga suamiku.
Suamiku kesal dengan sikap papaku yang...". Marni tidak melanjutkan ucapannya.
Fauziah mengelus terus bahu Marni yang terisak.
"Bang Ridho mengusirku. makanya aku pergi". Ucal Marni setelah menangis sebentar.
"Apa kamu tidak ingat dan rindu pada anakmu?". tanya Fauziah
"Sangat. Aku sangat merindukan mereka. Tapi aku malu untuk pulang". Jawab marni.
"Dudah berapa lama kamu pergi?. Dan tinggal dimana?". Tanya Danil.
Lama marni tidak menjawabnya.
"Dimana marni?. Nanti kalau balik ke jakarta kita bareng". Ujar Fauziah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa.
Aku sudah dua tahun pergi dari sana. Aku juga tidak tinggal disini. Aku tinggal di pekan baru. Bekerja disana.
Ini juga sedang liburan akhir pekan sambil temanku pulang ke oariaman". jawab Marni.
"Astaghfirullah Marni. Dua tahun kamu meningalkan anakmu?. Pantas suamimu uring-uringan mencari kamu.
Hingga dia mengira aku yang menyembunyikan kamu. Selama itu kamu tidak pulang". Ucap Danil kaget.
Marni dan Fauziah hanya diam.
"Besok Pulanglah kamu. Temui anak dan suami kamu". perintah Danil.
"Aku..".
"Sayang. Kasih Marni uang buat ongkos kejakarta.
Kamu harus segera pulang marni. Ingat anak kamu!". Ucap Danil.
Fauziah mengambil uang dari tasnya. Dan memberikan uang tunai pada Marni.
"Jangan Zie. Aku tidak...".
"Simpan saja. Kapanpun kamu akan pulang. pasti butuh ongkos". Ucap Fauziah. Memasukan uang kedalam tas Marni.
"Segeralah pulang. Walaupun marah pada suami. Anak jangan lupa. Mereka butuh kamu". Ujar Fauziah.
Marni hanya mengangguk.
"Mampir kerumah yuk. Ajak temanmu". Tawar Fauziah.
"Tidak usah Zie. Aku harus balik siang ini. Karena besok kami hatus bekerja". Jawab Marni.
"Kamu bekerja di mana?". Tanya Fauziah.
"Di pabrik triplek.
ya sudah. Aku mau gabung dengan temanku lagi.
Terimakasih". Ujar Marni.
Setelah Fauziah menaiki bendi kembali, barulah Marni bergabung dengan temannya.
Temannya memandang Marni penuh selidik.
"Mereka temanku di jakarta". ucap marni.
__ADS_1
.
.