
Roby membangunkan lusi yang tertidur lelah.
"Lusi... lusi... ayo bangun". panggil roby menguncang tubuh lusi. Wanita yang diperawani roby sore hampir malam tadi.
"Lusi bangun. ini sudah malam. ayo bangun". ucap roby.
Lusi mengeliat kan tubuhnya.
"Ayo bangun, kamu mandi sana. kita makan malam!". ucap roby.
"Ah.. shhh... ". ucap lusi mengerang, karena intinya masih terasa sakit.
Tidak berbeda jauh dari tia, lusi juga tertidur dengan polos di bawah selimut tebal.
"Kamu cepat mandi, biar kita makan malam". ucap roby.
"Pukul berapa sekarang pak?!". tanya lusi.
"Pukul delapan!".
Lusi bergerak pelan bangun dari tidurnya.
sssttt...
Lusi mengerang pelan, saat berusaha berdiri.
"Apa masih sakit?!". tanya roby mendekat.
Lusi mengangguk. Dan tanpa basa basi roby mengendong tubuh polos lusi kekamar mandi. dan membantu mengisi air hanggat di bathtub.
"Kamu berendamlah dulu, Kalau sudah selesai panggil aku, biar aku bantu keluar. jika kamu susah berjalan. pintu kamar mandi tidak usah tutup". ucap Roby.
Lusi mengangguk.
Sekitar dua dua puluh menit, lusi selesai berendam dan mandi. Roby yang menengok ke pintu kamar mandi melihat lusi keluar berjalan pelan, memakai bathrobe. segera dia mendekat.
__ADS_1
"Apa bisa berjalan?!". tanya roby.
"Bisa pak. walau masih perih ssstthh..". jawab lusi.
"Coba aku lihat, apa robeknya besar". ucap roby mengantar lusi untuk rebahan di kasur.
"Tidak usah pak, sebentar lagi juga sembuh". ucap lusi.
"Jangan membantah. sebentar lagi akan digunakan lagi. jadi harus cepat sembuh!". ucap roby.
"akan diulang pak?!". tanya lusi pelan.
"Iya!". ucap roby memaksa melebarkan kedua kaki lusi hingga nampak inti lusi yang memerah.
Roby mengelus inti dan puncak lusi yang memerah. lalu meniupnya beberapa kali.
"Sssshhhhh...". erang lusi terangsang.
"Pantas sakit. masih memerah". ucap roby masih meniupnya.
Setelah memasang baju pemberian roby. mereka keluar kamar. ternyata ridho dan tia juga sedang menuruni tangga.
"Masih sakit!". jawab roby.
Mereka menuju meja makan, mendampingi wanita mereka.
"Ganas juga kamu Roby. berapa kali kamu gempur dia?!". tanya ridho menyendok nasi. lalu untuk tia yang duduk di sampingnya.
"Hanya satu kali. Kan biasa bang masih bersegel. pasti lama sakitnya!!". ucap roby juga membantu lusi mengambilkan nasi.
"Hah... sekali?!.
Apa kamu menerobos paksa pertahanan lusi. hingga sesakit itu sampai sekarang!?". ucap ridho.
"Kan belum tiga jam pertahanannya jebol. tentu masih sakit!". elak roby.
__ADS_1
"Pasti kamu main coblos saja. Tia saja sudah tiga kali dari sore tadi aku gempur. tidak seperti lusi sakitnya. cuma jalannya saja ngangkang!". ucap ridho menyuap nasi ke mulutnya
"Tiga kali bang?!. apa tia sudah...".
"Tia masih perawan. cuma aku membuatnya rileks, hingga dia nyaman saat malakukannya. makanya dia tidak begitu kesakitan walau sudah tiga kali!". ucap ridho.
"Apa tia tidak menjerit sakit saat pertama?!".tanya lusi.
"Menjeritlah. mungkin kalian dengar tadi sore. lihat saja ini..". ucap ridho membuka maju kaosnya.
Dan terlihat banyak cakaran di punggungnya.
"Parah juga kamu tia!!". ucap roby.
Tia hanya menundukan kepalanya, menghadap ke piring nasinya.
"Tapi dia hebat, bisa menyeimbangi gempuranku, hingga tiga kali!". ucap ridho bangga.
Lalu mereka makan dengan lahap. karena dari siang belum makan, dan. kehabisan tenaga sore tadi.
"Makan yang banyak. kalian harus bertenaga malam ini". ucap ridho.
Dan benar. mereka berganti pasangan main.
Lusi yang di gempur ridho merasa nyaman saat melayaninya.
"Dengan bapak aku sangat nyaman dan sangat menikmati!". ucap lusi saat ridho selesai.
"Memang roby bagaimana?!". tanya ridho menuruni tubuh lusi.
"Sudah dua jam berusaha diatas, tidak tembus juga. pas saya yang berusaha. eh malah langsung main serobot. sakit pak!.
tidak memikirkan ituku masih sakit, dia mengempurku tanpa ampun. hingga lecet dan sakit". jelasnya.
"Dia belum berpengalaman. biasa, bujang lapuk!". ucap ridho.
__ADS_1
.
.