Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
149


__ADS_3

Sepulang dari kantor Ridho menemui papanya. Pak sultan. Mereka berbicara di ruang kerja papanya.


Dia ingin membicarakan yang dia alami pada papanya. Dan juga meminta pendapat sang.


Apa yang akan dia lakukan. Karena menyangkut keutuhan keluarga kecilnya.


"Mau bicara apa?. Bukannya menemui anaknya, malah mau curhat". Ujar pak Sultan.


"Begini pa....


..."


Ridho menceritakan apa yang di dengar dan ucapkan papa mertua nya tadi. Juga yang pernah dikatakan waktu itu. Masih hal yang sama.


Hingga membuat dia dan istrinya terjadi kesalah pahaman.


"Masih belum sadar juga dia. Sudah sering sakit-sakitan, dan beberapa kali kena serangan jantung. Tetap juga berbicara asal". Ujar pak Sultan.


"Itulah pa. Aku harus menjaga keluargaku". ucap Ridho.


"Harus. Keluarga kamu tanggung jawab kamu. Jangan salahkan lagi marni dalam hal ini.


Selama ini dia tidak salah. Hanya papanya yang mencari masalah buat putrinya.


Sebaiknya kamu pindah saja kekota sebelah. Agar kamu dan keluargamu tidak bertemu sesering mungkin.


Biar mertuamu itu sadar dari keserakahan dan kekhilafannya selama ini". Usul pak sultan.


"Boleh juga pa.


perusahaan ku tempat bekerja sekarang punya cabang rumah produksi di surabaya.


Dan pernah bilang ingin mencari yang akan mengelola disana. Aku coba bicara besok dengan beliau.


Aku akan ajak anak dan istriku kesana pa.


Jika masih dekat dengan mertuaku berdosa rasanya. Karena kesal dan mengomel dalam hati. Bahkan ingin melawan saja rasanya.


Lebih baik aku menghindar saja, agar tidak akan berkecil hati terus jika bersama". Ucap Ridho.


"Papa setuju. Lagian disurabaya ada teman papa. Kalau kamu butuh pekerjaan. Akan papa coba tanyakan". ucap pak Sultan.


"Aku coba perusahaan rumah produksi bosku dulu pah.

__ADS_1


Aku juga ingin buka usaha toko kecil- kecilan disana. Biar marni tidak bosan. Juga bisa ikut menjaga sambil menjaga anak-anak.


Aku tidak mengizinkan marni untuk bekerja". Ujar Ridho.


"Itu lebih baik. anak-anak terjaga dengan baik dan lebih dekat dengan orang tua". Ucap pak Sultan.


"Besok aku akan bicarakan di kantor dengan bosku". Ucap Ridho.


"Diskusikan juga dengan istrimu. Biar dia juga bisa mempersiapkan diri untuk pindah.


Walaupun dia juga baru beberapa hari pulang kerumah ini". Ucap pak Sultan.


"Baik pa". Jawab Ridho.


Maka dia keluar dari ruang kerja papanya. Tepat saat azan nagrib berkumandang.


"Eh. Kamu sudah pulang Ridho". Ujar mama Ridho.


Saat bertemu di depan tangga.


"Sudah ma, dari tadi. Ini juga dari ruang kerja papa". Jawab Ridho.


"Aku mau keatas dulu ma, mau bersih-bersih". Ucap Ridho.


"Baik ma". Jawab Ridho.


Selesai makan malam dan bermain sebentar dengan ketiga buah hatinya, Ridho mengungkap kan rencananya pada istrinya


Saat ini mereka sedang dikamar mereka. Ridho mengajak istrinya duduk di sofa besar yang ada di dalam kamera.


Dan mereka duduk berhadapan, dengan sebelah kaki menjuntai.


"Begini Marni. Rencananya aku ingin mengajak kamu dan anak- anak untuk pindah kesurabaya". Ujar Ridho memulai pembicaraan.


Marni mendengar dengan tenang.


"Sebaiknya kita menghindar dan menjauh dari papamu.


Bukan memisahkan kamu dan orang tuamu.


Tapi ini hanya semata untuk keluarga kita. Aku tidak ingin kamu selalu merasa tidak nyaman jika mendengar ucapan papamu.


Tidak baik rasanya jika kita terus dalam rongrongan papamu yang. maaf tidak bisa di pegang omongannya.

__ADS_1


Akan selalu terjadi kesalah pahaman". Ucap Ridho


Marni mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Setiap kesalah pahaman diantara mereka, selalu berasal dari papanya.


"Jadi kalau kamu setuju. Secepatnya kita pindah. Aku akan minta izin pindah ke pimpinanku". Tambah Ridho lagi.


"Aku akan ikut abang, mana yang terbaik buat keluarga kecil kita, alu setuju". Jawab Gita.


Memberi keputusan secepatnya. Agar suaminya bisa mekanjutkan rencana.


"Baik. Besok pagi kamu bereskan pakaian kita yang akan dibawa. Bawa banyak sekalian, tapi tidak semua. Yang perlu saja". Ucap Ridho.


"Apa pemilik perusahaan abang mau mengizinkan untuk abang pindah?". Tanya Marni.


"Mudah-mudahan. Beberapa hari yang lalu pemilik perusahaan pernah bilang, akan mencari yang akan memimpin rumah produksi nya yang ada di surabaya.


Makanya besok pagi akan abang tanyakan lagi". Jelas Ridho.


"Mudah-mudahan belum ada yang mengisi. Dan kita bisa segera kesana". Ujar Marni.


Ridho mengangguk setuju.


"Tapi abang coba telfon sekarang. Biar kita tenang". Ucap Ridho.


Setelah beberapa saat terdiam.


Dia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas. Dan menelfon pemilik perusahaannya.


"Bisa sayang.


Ternyata belum ada yang menempati. Dan bos juga akan mengatakan pada orang kepercayaan perusahaan disana malam ini juga.


Dan katanya kita bisa kesana lusa". Ucap Ridho memberi tahu istrinya.


"Alhamdulillah". Jawab Marni.


"Besok abang kekantor untuk menyelesaikan pekerjaan. juga mengambil berkas untuk pindah dari pemilik perusahaan, yang akan abang bawa". ucap Ridho.


"Baik bang. Semoga disana kita bisa memukai kelangsungan keluarga kecil kita". Ujar marni.


"Semoga". jawab Ridho.


.

__ADS_1


.


__ADS_2