
Orang itu kaget melihat wanita yang dirangkul Danil sedang hamil.
Hffff.
Orang itu menarik nafas kesal. melihat kemesraan danil pada istrinya.
Apalagi pandangan mata danil yang menatap tajam padanya.
Lift berhenti di lantai tempat tujuan danil. Dan danil bersiap untuk keluar membimbing istrinya.
"Apa kamu yakin dengan anak yang dikandungnya itu anak kamu. jangan-jangan kamu hanya ingin lari dari kenyataan kalau kamu tidak bisa jadi menantuku!!.
Dengan mengakui dia itu istri kamu, aku tahu kamu itu pasti belum menikah. siapa yang mau menikahi seorang yang hanya pegawai rendahan, dan miskin". ucapnya sebelum danil dan fauziah benar-benar keluar dari lift.
"Terimakasih atas sanjungannya kepada saya. Kenalkan, Ini adalah istri saya, namanya fauziah, dan sekarang sedang hamil tujuh bulan.
Saya harap ucapan bapak pengacara yang terhormat tidak pernah bapak sesali kedepannya. Dan saya harap kita tidak pernah bertemu lagi jika hanya untuk menghina dan merendahkan". jawab
Danil menatap tajam sebelum dia benar-benar keluar dari lift.
Ternyata dia adalah Papa Marni. pak pendra dan ada dua orang bersama papa marni. yang danil tidak tahu mereka siapa. Rekan kerja atau pegawainya.
"Satu lagi". ucap danil setelah keluar dari lift. tapi kaki dan separo badannya nya masih di dalam lift.
"Walaupun aku pegawai rendahan. Aku tidak pernah mengemis kepada bapak. apalagi meminta untuk menjadi menantu seorang pengacara yang terhormat seperti bapak.
Bahkan saya merasa sangat beruntung tidak jadi menantu bapak". ucap Danil dan keluar dari lift.
"Sombong!!.. Apa yang kamu banggakan. kamu hanya pegawai yang tidak punya masa depan". ucap papa marni kesal.
Danil berlalu berjalan dari sana, dia mengacuhkan ucapaan papa marni yang terdengar kesal. tanpa melihat lagi.
__ADS_1
"Siapa pak pendra dia pak?!. kok pak pendra begitu kesal melihat dia!". tanya salah seorang dari yang ada di dalam lift.
"Orang tidak penting, hanya seorang pegawai rendahan yang dulu ingin jadi menantu saya. Tapi saya tidak mau karena anak saya sudah ada yang melamar.
Keren sih tampangnya, tapi kalah kaya dari menantu saya". kesal pak pendra bercerita pada mereka yang ada dalam lift.
"Bukannya dia Pak Afda. pimpinan dari perusahaan AZ putra utama?!". ucap salah satu dari mereka.
"Afda dari mana?!. namanya Danil putra. kata anak saya, dulu dia memang bekerja di AZ.
Mungkin saja sekarang sudah di pecat!". jawab pak pendra kesal.
"Tapi dia benar-banar pak Afda yang....".
"Kamu pasti salah lihat. tampang boleh keren, tapi kamu bisa lihat dia kan, tidak ada tampang orang kaya, apalagi seorang pimpinan!". potong pak pendra.
"Saya tidak salah lihat kok pak. saya pernah bertemu tidak sengaja dengan dia awal bulan kemaren. bahkan kami bersalaman.
Waktu itu perusahaan yang minta bantuan hukum di firma bos saya. Mereka sedang mengadakan pertemuan terlebih dahulu sebelum bertemu dengan bos firma saya.
"Bermimpi kamu Bin..!. mungkin sekarang kamu sedang mabuk! akibat minum". ejek pak pendra.
"Iya bintang. kamu itu tadi banyak minum apa!!. bilang dia pimpinan perusahaan AZ, sudah jelas di si Danil". ucap yang satu lagi.
"Iya. Asisten saya sudah berapa kali bertemu dengan si danil. bahkan beberapa tahun yang lalu saat dia masih Magang dan setelah itu jadi pegawai rendahan di AZ itu!.
Eh bisa-bisanya kamu bilang dia pimpinan AZ. benar mabuk kamu bin". potong pak pendra.
"Ah terserah kalau tidak percaya kalau dia itu pak afda pimpinan AZ.
Aku tidak mabok. Minum apa yang bikin mabok tadi?. kan di rapat tadi cuma minum cola dan cemilan kerupuk ayam.
__ADS_1
Pelit sekali klien yang akan pak pendra dan boss ku tangani. masa kasus besar begitu mengajak pertemuan hanya minum cola di restoran cepat saji.
Asisten bapak saja tidak kenyang makan satu ayam dan segelas cola!". jawab yang mereka pangil bintang.
"Hehe...he... tau saja kamu Bin!. sehabis ini kita makan nasi soto yuk!". ajak Asisten pak pendra.
"Tanya bos kamu saja. kenapa menerima menangani kasus tersebut!". jawab pak pendra.
Mereka menuju parkiran yang berbeda lantai dengan Danil tadi.
.
Sementara itu Marni sedang dalam perjalanam menuju rumah orang tuanya, diantar oleh Danil. Dia tadi minta izin pada suaminya untuk menginap di rumah orang tuanya.
"Aku tidak bisa menemani kamu menginap!". ucap Ridho pada marni.
"Mau main pedang-pedangan?!". tebak marni.
Ridho hanya diam, tidak menangapi ucapan istrinya.
"Kamu menginaplah dua malam, dan abang jemput sabtu sore sepulang kerja!". ucap ridho saat memasuki perumahan mertuanya.
"Baik". jawab marni.
Ridho mengantar istrinya sampai dalam rumah mertuanya.
Tadi siang mama marni menelfon. minta marni kerumah mereka. tapi marni bilang ingin menginap tempat orang tuanya.
Makanya setelah makan malam dia di antar suaminya..
.
__ADS_1
.
.