
Walaupun Marni berada di kota surabaya hampir tiga bulan. Marni menyempatkan diri untuk menelfon mamanya sesekali.
Tapi tidak pernah membahas yang lain. Mamanya pun tidak membahas tentang kepindahan marni.
Pak pendra dan istrinya sepakat untuk tidak mengungkit hal itu. Mereka ingin berdamai. Tidak membuat marni dalam bingung, antara menjaga perasaan orang tua dan suami. Keduanya sama- sama penting dalam hidupnya.
"Bagaimana kabar kamu nak. Apa suami dan anak-anakmu sehat semua Marni?".tanya mama marni.
Saat ini marni dan mamanya sedang telfonan. Tadi marni menelfon mamanya untuk menabyakan kabar.
"Alhamdulillah mah semua sehat". Jawab marni.
"Mama dan papa apa kabar. Addk sering oulang kan?". Tanya marni.
"Alhamdulillah papa dan mama sehat. Adek sering pulang kok. Mereka juga sudah lulus kuliah kok.
Dan meteka juga sedang mencari pekerjaan disini". ujar mama marni.
Marni memang mempunyai dua orang adik.
"Oo. Semoga mereka segera dapat pekerjaan mah".
Sedikit lama Marni berbincang dengan mamanya.
"Ksmu sering-seringlah mampir. Mama kangen sama kalian.
Sudah dua tahun lebih tidak bertemu". Ujar mama marni sedih.
"Inshaa allah mah. Jika ada waktu luang kami akan datang. Sekarang sikembar sudah masuk sekolah". Ujar marni.
Orang tua marni belum di beri tahu kalau marni di surabaya. Setahu mereka anak mereka berada dikota sebelah yang hanya beberapa jam saja jaraknya.
"Sudah dulu ya mah. Besok kita berbincang lagi". Ucap Marni.
Marni menelfon hanya malam hari, menjelang tidur.
Setelah makan malam bersama dan sholat isya berjamaah. Marni membantu putra kembarnya untum tidur. Juga putrinya.
Marni tinggal di sebuah perumahan sederhana. walau perumahan biasa, tapi rumah di sini bagus-bagus.
Karena semua penghuni rata-rata pedagang dan pengusaha.
Marni menempati rumah dua lantai. Rumah minimalis. Tidak kecil, juga tidak besar.
Satu kamar di lantai bawah dan dua kamar di lantai atas.
Rumah yang Marni sekeluarga tempati berada dekat dengan gerbang perumahan.
Semakin kedalam perumahan, semakin mewah dan besar rumahnya.
__ADS_1
Ridho bekerja sering lembur sampai pukul sembilan malam. dan selalu pulang kerumah. Tidak pernah dia tidak pulang, karena dia sangat butuh istrinya setiap malam.
Setelah buah hati nya tidur, marni memeriksa pintu karena dia juga akan beristirahat.
Ridho suaminya belum datang, mungkin sebentar lagi. Karena tadi dia bilang pulang pukul sembilan.
Setelah mengurangi lampu yang ada di dalam rumah, tinggal lampu ruang depan dan dapur saja yang hidup.
Marni akan menunggu suaminya pulang. Menyiapkan minum dan air hangat untuk mandi suaminya.
Tidak lama Ridho pulang. Dan marni menyambutnya.
Rutinitas harian Marni yang sibuk menjadi ibu rumah tangga. Karena marni melarang suaminya untuk memakai pembantu.
Dia ingin menganti waktu yang lalu. Dua tahun jauh dari buah hati dan ingin menganti kebersamaan yang terlewat.
Selesai mandi dan makan malam Marni menemani suaminya memeriksa pekerjaannya sebentar.
"Bagaimana sekolah Abang dan adek tadi?". Tanya Ridho.
"Baik bang. Mereka sangat senang masuk sekolah". Ujar Marni.
Sikembar sudah didaftarkan di tk yang tidak jauh dari perumahan mereka tinggal.
Tadi pagi saat Ridho berangkat bekerja, terlebih dahulu mengantarkan marni kesebuah tk untuk mendaftarkan si kembar.
"Besok kamu yang mengantar mereka kesekolah, pakai mobil kita. Abang akan ada mobil kantor yang akan abang pakai". Ujar Ridho.
"Kamu tidak apa kalau tidak ada pembantu?". Tanya Ridho.
"Tidak apa bang. Aku juga lebih nyaman sendiri menjaga mereka". jawab Marni.
"Senyaman kamu saja. Tapi kalau kamu butuh bantuan seorang pembantu katakan saja.
Ambil yang tidak menginap untuk cuci dan setrika dan bersih-bersih. Biar kamu bisa fokus menjaga anak-anak.
"Nanti saja di fikir bang. Untuk saat ini masih bisa di kerjakan sendiri". Ujar Marni.
" Ok". Jawab Ridho.
Mereka rebahan, untuk segera tidur. Karena sudah lewat pukul sepuluh malam.
"Kita akan bekerja sama mendidik dan menjaga anak kita hingga dewasa.
Aku tidak ingin putra kembar kita mudah di pengaruhi lingkungan yang tidak baik.
Apalagi bertemu dengan pria dewasa yang ....
Hingga sepertiku dulu. Menyimpang. Aku sangat menyesal. Karena tidak bisa melindungi diriku sendiri". Ujar Ridho.
__ADS_1
"Iya bang. Aku juga pernah berfikir bugitu. Menjaga dan melindungi mereka dari kejahatan penyuka sesama jenis.
Karena aku...".
"Pasti kamu dulu sangat kecewa padaku. Karena penyakitku itu". Potong Ridho.
Ridho memandang istrinya tersenyum. Marni pun balik menandang Suaminya.
"Sekarang aku bisa meninggalkan semua. Aku sudah Sembuh. Dan kamu obatnya.
Dulu aku terjebak kenikmatan yang tidak wajar. Hingga aku ketagihan dengan hubungan yang sewajarnya.
Hubungan suami istri". Ujar Ridho menarik istrinya kedalam pelukannya.
Menciumi wajah istrinya dengan lembut.
Awalnya hanya menciumi wajah, bibir dan dekapan mesra. Hingga.
"Aku sayang kamu Marni..hhh.hh". Desah Ridho mengungkung istrinya.
"Aku juga sayanghh abang sshh". Desah marni.
Mereka menyalurkan dan menyatakan semua ungkapan hati yang terpendam.
Perasaan cinta yang mereka rasakan menjadikan kehidupan rumah tangga mereka terasa sempurna.
"Kamu obat penyembuh penyakitku sayang. Terima kasih sudah menerima semua kekuranganku.
Kamu canduku
Ahhh.. Aku sayang kamu marni sayangh". Ucap Ridho mengila mengagahi istrinya.
"Hh..hhah... Abangh".
Marni mendesah nikmat di bawah kungkungan suaminya. tersanjung karena ungkapan cinta suaminya semakin melayang.
Bahkan reaksi tubuh marni yang sedang melayang tinggi menjadi kebahagiaan bagi Ridho. Apalagi racauan Marni yang selalu menyebut namanya di setiap hentakan tubuhnya.
"Aahh ... Sayangh".
"Abang ....".
Mereka berdua menikmati puncak dari olah raga ranjang mereka.
"Terima kasih sayang. istriku yang aku cintai". Ucap Ridho.
Memeluk istrinya dengan posesif.
Hingga mereka tertidur kelelahan.
__ADS_1
.
.