
Ridho termenung di depan ruang bersalin. Istrinya yang tadi baru di beri suntikan yang dia tidak tahu namanya. Menunggu reaksi dari calon bayi yang akan keluar dengan sendirinya. tanoa operasi.
Dia keluar ruangan, karena tidak tega melihat istrinya menangis menahan sakit
Dia sudah berusaha menenangkan istrinya itu dengan cara memeluk, mengosok pinggang, pingung hingga menelus perut buncit istrinya yang sebentar lagi akan kempes.
Bukan melahirkan bayi hidup.
tap... Air matanya mengalir.
Menyesal?. tentu iya.
Akibat hanya emosi karena gengsi. dia melampiaskan kekesalannya dengan mengauli istrinya setiap malam. tanpa ampun.
Padahal istrinya beberapa hari kemaren mengatakan perutnya kram. tapi ridho tidak mau menanggapinya.
Bahkan. Ridho tidak berani untuk menelfon orang tuanya dan mertuanya.
Takut?. pasti.
Setelah menangis sebentar, menyesali kecerobohannya. Ridho kembali memasuki ruang bersalin tempat istrinya akan di tolong.
Dia mencuci mukanya terlebih dahulu.
Melihat istrinya yang menangis. hati ridho merasa tercabik. Sedih.
"Maaf Sayang!". ucap ridho mengecup kening istrinya.
Marni menangis sambil mengelus perutnya. Sedih karena kehilangan calon bayi. juga menahan sakit.
Ridho mengengam tangan istrinya. dan mengelus perut istrinya dengan tangan yang lain.
"Maafkan papa sayang!". ucap ridho. lalu mengecup perut istrinya itu.
Mereka sama-sama menangis.
Lebih satu jam marni menahan sakit, karena kontraksi yang dipaksa. akibat suntikan agar bayinya keluar.
Akhirnya. menjelang siang marni melahirkan bayi yang sudah tidak bernyawa.
Tangis mereka berdua pecah. melihat bayi laki-laki yang hampur sempurna. walau kecil.
karena tidak tahan. Sore setelah ashar akhirnya ridho menelfon ibunya. Sebab dia tidak tahu, bagaimana dan dimana akan mengubur bayinya.
Hingga.
Dia dimarahi oleh papa dan mamanya. karena mereka gagal menjadi kakek dan nenek.
Padahal Orang tua dan mertuanya sedang berada di tempat pesta yang berada di hotel orang tuanya kelola. sedang berbasa basi dengan keluarga besar pak tarmizi.
Orang tua dan mertuanya segera bergegas menuju rumah sakit. Setelah menerima kabar yang mengejutkan.
Setelah bayi di bersihkan, orang tua rudho dan marni pergi untuk menguburkan ke pemakaman keluarga ridho. Karena permintaan Ridho.
Hingga tinggalah marni sendiri terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Melihat respon kedua mertuanya, marni sangat menyesal. karena bayi tersebut..... Ah sudahlah.
__ADS_1
yang penting, bayi itu punya tempat yang pasti sudah di takdirkan Allah swt. dan semoga ini akan menjadi rahasianya sendiri.
Beberapa jam sebelumnya.
"Silahkan dinikmati hidangannya Pak sultan!". ucap Pak Arman yang sedang berbincang dengan Ayah Danil. Zulfikar zulkarnaen. kakak dari Tarmizi Zulkarnaen.
"Baik Pak Arman. Sudah saya nikmati. lihat saja tu, istri saya tidak berhenti mencicipi hidangannya". ucap Sultan. menunjuk istrinya yang bergabung dengan ibu-ibu lainnya.
"Oh ya pak Sultan. kenalkan ini uda Zulfikar, abangnya pak tarmizi. uda zul inilah yang punya hotel yang bapak kelola ini.
Uda Zul. ini adalah GM hotel punya bapak. Mingkin uda belum pernah bertemu dengan pak Sultan ini!". ucap pak Arman memperkenalkan mereka.
"Senang bertemu dengan Bapak Zul. hampir sepuluh tahun aku mengelola hotel bapak, baru kali ini kita bertemu.
Sungguh satu kehormatan bagi saya!". ucap pak sultan menyalami pak zul.
"Senang bertemu bapak dengan pak sultan. Biasa hanya mendengar nama saja!". sambut pak Zul
"Iya pak. biasa setiap rapat akhir tahun selalu pak Arman yang datang. hingga saya pun hanya sering mendengar nama bapak. Pak zul.
Pak Arman sering mengatakan hotel ini milik pak Zulfikar. haha.. tapi saya hanya sering mendengar namanya saja!". ucap pak sultan sambil tertawa.
"Begitulah pak. sayapun sibuk mengelola usaha saya di kampung.
Sebenarnya usaha hotel ini untuk anak sulung saya. tapi dia sekarang ingin fokus di usaha yang lain. Itupun baru dia mau melaksanakan dua tahun ini!". jawab uda Zul.
"Wah hebat putra bapak. Pasti dia sangat hebat, sama seperti bapak yang sukses sebagai pengusaha". ucap pak sultan.
"Pak Sultan!". tiba-tiba pak pendra nenyapa besannya pak sultan.
"Siapa mereka pak?!". tanya pak Pendra.
"Oh ya kenalkan. ini pak Zulfikar, dan ini pak Arman!
Pak Zul, pak Arman, kenalkan ini besan saya pak pendra namanya". jelas pak sultan memperkenalkan mereka". ucap pak sultan.
"Saya pak pendra, mungkin bapak kenal dengan saya. saya pengacara yang sering di minta menangani masalah artis dan publik figur!". ucap pak pendra memperkenalkan dirinya.
Mereka bersalaman.
"Oh ya. aoa pekerjaan Pak Zul dan pak Arman?!". tanya pak pendra sombong.
"Saya punya usaha toko bangunan dan usaha kontraktor kecil-kecilan di kampung halamanku". jawab pak Zul merendah.
"Oo toko bangunan!". ucap pak pendra.
Pak Sultan merasa sedikit tersinggung dengan ucapan besanny yang metendahkan pak zul.
"Berapapun besarnya Pengusaha di daerah tidak bisa di bawa ke kota besar ini!". ucapnya bertambah sombong.
"Pak pendra. pak Zul ini..".
"Pengusaha dari daerah, yang ingin bergabung dengan pengusaha ibukota!". potong pak pendra.
Pak Arman dan pak Zul hanya geleng-geleng kepala. melihat kesombongan pak pendra yang katanya pengacara terkenal.
"Pak pendra. Beliau adalah punya hotel ini. Pak zul ini yang sudah mempercayakan pada saya untuk mengelola, dan ini pak Arman sepupu pak Zulfikar yang mengusulkan saya pada pak zul. beliau teman saya". Ucap pak Sultan geram.
__ADS_1
Karena meremehkan pak Zul yang lebih kaya dari mereka.
"Hah. bagai mana bisa?!". tanya pak sultan kaget.
"Bisa lah pak. uda Zul ini punya toko bangunan. tapi tidak satu atau dua. ada di beberapa kota di sumbar, bahkan Riau. karena dia seirang kontraktor yang....".
"Sudahlah. Saya memang dari daerah kok!". potong Pak Zul.
Memotong ucapan pak Arman.
"Tapi Uda...".
Pak zulfikar mengangkat tangannya.
Hingga pak Arman kembali diam.
"Ayah, om tarmizi memangil. untuk foto bersama!". pangil Danil pada pak Zul
Menunjuk pelaminan. Dimana om tarmizi melambaikan tangan.
"Maaf ya pak. Kami kesana dulu!". ucap pak Zulfikar.
"Eh nak Danil?!. ini orang tuanya?!". tanya pak sultan.
"Iya pak. ini ayah saya!". jawab danil tersenyum.
"Pantas anaknya berhasil memimpin perusahaan, orang tuanya juga pengusaha sukses!". ucap oak sultan.
"Pak sultan bisa saja!". jawab pak Zul.
"Mari pak, kami kesana dulu!". ucap danil.
Dia tidak begitu menghiraukan pak pendra. karana tidak ingin menyapanya.
Pak pendra hanya melongo melihat danil dan pak zul berjalan menuju pelaminan.
"Apa mereka saudara yang punya pesta?!". gumamnya.
"Pak zul adalah abang pak tarmizi. Apa bapak tidak melihat seragam yang mereka kenakan?!". ucap pak sultan kesal.
Ya. Semua memakai seragam yang sama. melihat Danil mesra dan tersenyum membimbing istrinya menuju pelaminan bersama keluarga besarnya, membuat pak pendra sedikit menyesal.
Jika dia dulu membiarkan marni menikah dengan Danil. tentu marnilah yang di bimbing Danil.
Ah... sunguh menyesal aku. kalau aku tahu dia...
"Apa?. marni masuk rumah sakit?". ucap pak sultan.
Membuyarkan lamunan pak pendra.
Hingga mereka sekarang berada di pemakaman keluarga besar pak sultan. menguburkan calon cucu mereka.
.
.
.
__ADS_1