
"Sayang!. Kita makan siang dimana?!" tanya Danil pada istrinya.
Mereka baru saja berkunjung ke lokasi tempat membuat rumah sakit yang akan di bangun di puncak.
Pembelian lahan sudah di lakukan oleh mario di bantu pejabat dan penduduk setempat beberapa bulan yang lalu.
Tadi Danil melihat lokasi dengan pihak kontraktor yang langsung dia pimpin. Danil dibantu oleh dua orang asisten dan satu tim para arsitek dalam membangun rumah sakit ini.
Semua sangat bersemangat bekerja, karena rumah sakit dibangun oleh yang punya sekalugus kontraktornya.
Kontraktor dan pimpinan rumah sakit orangnya sama. Yaitu Danil.
Semenjak tahun lalu danil ikut turun tangan memimpin dan mengelola semua usaha yang ada di jakarta dan sekitarnya yang diserahkan ayahnya.
Sang ayah hanya mengawasi saja sesekali. Karena juga memimpin beberapa jenis usaha dan perusahaan kontraktor di kampung, sumbar dan riau. Bahkan ada beberapa tender proyek yang di menangkan ke provinsi lain yang ada di pulau sumatra.
"Warung terdekat saja bang". Jawab fauziah.
"Baik!".ucap Danil membawa motornya.
Danil memang sengaja membawa motor. Agar bisa sambil jalan keliling perkampungan.
Villa dan tempat pembangunan rumah sakit memang tidak begitu jauh. hanya sekitar lima belas menit menuruni perbukitan. dan lokasi rumah sakit tepat di jalan utama.
Villa Danil pun tidak jauh keatas, belum ke puncak yang tinggi.
"Disini mau sayang?!". Tanya Danil pada istrinya.
Sebuah warung makan tradisional yang terdapat banyak saung bambu.
"Boleh bang. Aku suka tempatnya. pasti enak makanannya". Ucap Fauziah.
Tempat makan yang ramai pengunjung. Pasti enak masakannya.
"Boleh". Ucap danil menepikan motornya.
Ramai pengunjung untuk makan siang. terlihat dari ramainya motor dan mobil yang parkir, juga pelangan yang sedang makan.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu mas, mbak?!". Sambut pelayan warung makan.
"Kami pesan tempat untuk berdua mbak". Ucap Danil.
"Baik. Mari ikut dengan saya". Ajaknya.
Danil membimbing istrinya mengikuti pelayan tadi menuju sebuah saung yang berada di sebelah samping bangunan utama.
Saung banyak berjejer di sisi perbukitan kecil.
"Silahkan. Ini buku menunya. Mau lihat dulu atau langsung pesan mas, mbak?". Tanya sang pelayan.
Setelah Danil dan fauziah duduk di dalam saung yang berdinding setengah. mereka duduk lesehan dan berdampingan
"Pesan langsung saja.
Kamu mau pesan sayang?!". Tanya Danil melihat buku menu berdua.
"Nasi lengkap saja bang. menu andalan sini saja". Jawab fauziah.
Mbak, aku pesan nasi lengkap saja, dengan lauk ini dan ini. Minumnya air hangat saja. Juga tambah kopi". Ucap danil.
"Baik mas, mbak. Di tunggu ya". Ucapnya.
Danil dan Fauzuah berbincang santai sambil memakan cemilan kerupuk yang tersedia di meja. Ada beberapa jenis kerupuk dan jajanan di letakan.
Tidak lama menunggu pesanan makanan mereka diantar. Karena tidak ada pesanan yang di masak dadakan.
.
"Maaf besan, sudah repot mengantar kuncinya.
Padahal tadi kami mau balik kekamar menjemputnya". Ucap istri pak Sultan berbasa basi.
"Tidak repot kok bu. Aku juga mau membeli sesuatu di mini market. Sekalian dibawa". Jawab istri pak pendra.
Memberikan kunci mobil.
__ADS_1
"Terimakasih bu. Semoga pak pendra lekas sembuh. Dan kembali beraktifitas". tambahnya.
"Terima kasih".
Lalu istri pak sultan berpamitan, untuk pulang. Sementara istri pak Pendra malah duduk di loby rumah sakit. Di tempat pak Sultan dan istrinya duduk tadi.
Dia memijit keningnya. Pusing.
Bagaimana tidak. Sang suaminya, pak pendra. yang sudah jelas dia kena serangan jantung membaca berita yang menyangkut namanya yang dihujat dan hampir merengut nyawanya.
Masih saja berambisi menjadikan Danil untuk jadi menantunya. Hingga istrinya sangat pusing mengadapinya.
Dia sudah senang melihat putrinya marni yang sudah menikah, dan juga sudah mempunyai putra kembar.
Awalnya waktu dia tahu Danil ternyata anak pengusaha daerah yang terkenal di ibukota.
Walau orang tua danil terkenal nama dan nama perusahaannya di kalangan pengusaha dan kontraktor, tapi danil sangat jarang tampil dan ikut ayahnya.
Ternyata Danil belum mau memimpin perusahaan ayahnya yang sudah di berikan padanya. Hingga dia hanya dikenal sebagai karyawan biasa di erusahaannya sendiri.
Mama marni hanya bisa menyesal sudah terlalu jauh menghina Danil saat danil melamar putrinya beberapa tahun yang lalu. Dan menerima Ridho sebagai menantunya.
Dia tahu. Awal pernikahan, marni putrinya itu sangat tertekan dan tidak bahagia. Hingga terjadi pemerkosaan itu hingga dia hamil.
Tapi semenjak putrinya keguguran sang suami menjadi lebih perhatian. dan sekarang sudah melahirkan putra kembar.
Sekarang Ridho sang menantu sepertinya sedikit mengekang putrinya semenjak kajadian itu. Menemani Marni untuk bertemu dengan orang tuanya.
Apa Ridho tahu dengan niat sang suaminya?. Mama marni yakin itu, Sang menantu pasti tahu. karena sudah beberapa kali berita sang suami mendekati mantan sang putri. Danil
Dia tidak ingin rumah tangga putrinya terganggu. Karena dia sudah percaya dengan menantunya itu.
Apapun yang akan di lakukan suaminya untuk mendekati danil dan putrinya, dia akan menentang nya. Agar keluarga kecil putrinya tidak terpecah.
.
.
__ADS_1