Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
BAB 44


__ADS_3

"Abang mau makan malam dulu?!". tanya fauziah saat mereka selesai sholat isya berjamaah.


"Masih kenyang sayang. tadi kan banyak makan martabak". jawab danil membatu istrinya melipat sajadah dan menyusunnya di rak.


Maka fauziah menuju ruang tengah, tempat dia biasa belajar. karena kuliahnya masih dilakukan online.


Danil tidak mengizinkan untuk kuliah offline. dia tidak ingin istrinya kecapek an untuk pulang pergi kekampus.


"Kapan kamu ujian sayang?!". tanya danil duduk di samping istrinya.


Fauziah yang duduk di karpet dan bersandarkan kursi tamu, belajar bermejakan meja tamu.


"Awal bulan bang. tiga minggu lagi". jawab fauziah melihat sebentar kearah suaminya.


Cup..


Danil mengecup kening istrinya.


"Jangan terlalu capek!". ucap danil.


"Cuma sedikit bang, tangung". ucap fauziah.


Fauziah melanjutkan menulis tugasnya. dan danil menemani istrinya belajar. Dia duduk di samping istrinya, sesekali memijit bahu istrinya.


"Abang tidak ada pekerjaan yang akan di selesaikan?!". tanya fauziah.


"Sudah abang kerjakan tadi di kantor!". jawab danil.


"Abang yang kerjakan atau bang mario?!". tanya fauziah.


"Abanglah. yang kerjaan mario ya mario yang kerjaan". jawab danil.


"Ooo...". jawab fauziah


Tidak lama fauziah sudah selesai membuat tugasnya. dan menyusun semua bukunya.


"Selesai!?". tanya Danil.


"Sudah bang!". jawab fauziah.


"Ayo istirahat!". ucap danil membantu istrinya berdiri.


"Masih setengah sembilan bang. belum mengantuk!". ucap Fauziah.


"Iya tahu. kamu pasti capek. dari siang duduk saja". jawab danil.


Hmm...


Fauziah berdiri dibantu suaminya, dan mengikuti suaminya ke kamar untuk istirahat.


Danil memijit kaki dan punggung istrinya. agar bumil rileks.

__ADS_1


.


"Marni. kata papa laporan kepada si danil mantanmu itu di cabut!. kenapa?!". tanya ridho pada marni saat sarapan pagi.


Sebulan telah berlalu, semenjak Danil bertemu ridho dan marni.


Ridho sudah sering menginap di apartemen mereka, menemani marni.


Tapi ...


Dua atau tiga kali seminggu Ridho telat pulang, atau tidak pulang.


Apalagi....


Marni sudah tahu itu.


"Kurang tahu bang. Papa tidak pernah membahasnya". jawab marni menyiapkan sarapan.


Setiap hari sarapan dan makan siang mereka di antar katering. Ridho melarang Marni memasak dan bersih-bersih apartemen.


Pembantu hanya datang untuk bersih-bersih dan memasak untuk makan malam di sore hari menjelang magrib.


"Coba nanti kamu tanya papa. Kenapa tidak ada kelanjutan kasusnya". ucap Ridho.


"Abang saja menanyakan. aku malas membahasnya!". jawab marni.


"Apa kamu kasihan kalau mantan kamu itu di penjara?!". tegas Ridho menatap marni.


Marni menghentikan suapannya, menatap Ridho.


Hff.....


"Abang tanya papa saja. aku tidak tahu kenapa laporan itu di cabut!". ucap Marni dingin.


"Ya.. ya... Aku tidak masalah. Cuma heran saja". jawab Ridho melihat marni yang sudah tidak enak nada bicaranya.


Marni melanjutkan sarapannya tanpa melihat suaminya lagi. Dia bergegas makan sampai selesai. Dan langsung masuk kekamarnya tanpa bicara.


Laporan orang tua marni terhadap Danil memang sudah di cabut . Seperti usulan asisten pak Pendra, laporan tersebut di cabut dengan alasan tidak ingin menganggu kehamilan marni.


Tapi pak pendra tidak pernah mem beritahu marni. Dan Ridho tahu dari papanya. Padahal pak Pendra tidak pernah memberi tahu siapapun kalau laporan tersebut di cabut.


"Marni. Aku pergi bekerja dulu. Kamu istirahat saja. jangan fikirkan yang aku tanyakan tadi!". ucap mario.


Dia menemui marni kedalam kamar, dan marni duduk di sofa kamar yang berada di dekat jendela apartemen.


Marni yang sedang memandang suasana kota dari jendela kamar apartemennya yang berada di ketinggian. Di lantai empat puluh sembilan, dari lima puluh lantai apartemen.


Marni hanya diam. tidak menangapi atau sekedar melihat suaminya.


"Bagaimana kalau kamu jalan- jalan ke mall atau ketaman. Ajak saja teman atau mama". ucap Ridho pada marni.

__ADS_1


"Tidak. aku di rumah saja!". jawab marni.


"Hmm. apa kamu tidak bosan. ini sudah hampir sebulan kamu resign bekerja. kamu tidak pernah keluar". ucap Ridho.


"Sedang malas bang. aku masih sering mual dan pusing!". jawab Marni.


"Apa perlu kita liburan ke bali atau ke luar kota?!. kami mau kemana?!". tanya Ridho mendekati marni.


Dia duduk di samping marni dan merangkul bahu istrinya. Berusaha membuat istrinya berbicara. Dia tidak suka di diamkan. Karena marni kalau marah akan diam saja.


"Abang minta maaf. Abang cuma bertanya, jangan dimasukan kehati. kasihan anak kita.


Kalau kamu bersedih dia akan ikut sedih". ucap Ridho lembut sambil mengusap perut isrinya yang mulai membuncit.


"Aku tidak suka mendengar nama dia. membahasnya. karena aku tidak ingin tahu lagi tentang dia lagi.


Dan untuk masalah laporan itu aku juga tidak tahu menahu". ucap Marni.


"Maaf....". jawab ridho mengelus rambut marni, dan memeluknya.


Marni hanya diam, memandang jauh keluar jendela.


"Kita pergi periksa yuk!. selalian jalan liburan!". ajak Ridho.


Ridho mau agar istrinya tidak diam saja, dan mau di ajak liburan.


"Aku mau pindah klinik untuk periksa!". jawab Marni.


"Baik. kita periksa di rumah sakit dekat atau klinik dekat sini saja. Kamu mau periksa pagi ini atau siang?!". tanya Ridho.


"Apa abang ada waktu pagi ini?!". Tanya marni.


"Baik. kamu bersiaplah. abang akan suruh asisten abang untuk mendaftar. Biar tidak antri lama". jawab Ridho.


Ridho melihat jam di dinding kamarnya.


"Masih setengah tujuh. Kita bisa periksa pukul delapan!". ucapnya.


"Apa abang tidak telat nanti bekerja?!. tanya marni.


"Telat sedikit tidak apa. nanti siang saja abang selesaikan pekerjaan abang!". jelas Ridho. "Bersiaplah!". tambahnya.


Maka Marni di antar ke rumah sakit ibu dan anak yang berada di dekat kantor Ridho.


Karena pendaftaran sudah di lakukan asisten ridho, maja marni tidak terlalu lama antri, dan kurang pukul sepuluh marni sudah selesai periksa dan antri obat.


"Kamu langsung pulang atau jalan dulu?!". tabya Ridho pada marni.


"Aku langsung pulang saja, mau belanja cemilan di mini market di dekat apartemen saja". jawab marni.


"Hmm.. baik. abang temani belanja sampai pulang! baru abang balik kekantor". ucap Ridho.

__ADS_1


.


.


__ADS_2