Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
BAB126


__ADS_3

"Ridho. Sudah dua hari ini kamu kok pulang telat?". Tanya sang mama, meletakan dua cangkir kopi di meja makan.


Mereka sedang duduk santai di ruang tengah. Dan baru selesai makan malam.


"Aku sedang sibuk mah. Mencari keberadaan marni". Jawabnya jujur.


"Waktu aku membezuk papa marni dirumah sakit beberapa hari yang lalu. Mamanya bertanya padaku.


Kenapa tidak mengajak marni melihat papanya. Padahal marni sudah hampir dua tahun tidak disini.


Aku mengira kalau marni itu pergi dari sini dan pulang kerumah orang tuanya. Ternyata tidak.


Kemana dia itu pergi?". cerita Rudho pada orang tuanya.


"Memang kamu tidak pernah mencarinya?. Atau mencoba menelfonnya?". Tanya mama ridho.


"Tidak mah. Aku waktu itu kesal. Sudah jelas Marni hamil, papanya masih membahas tentang danil. Dan malah mereka tidak peduli pada marni.


Waktu marni melahirkan pun tidak sekalipun mereka melihat. Seolah mereka mengharapkan marni balik ke...".


"Apa kamu tahu?. Waktu marni melahirkan, papanya sedang di rumah sakit. bahkan dua hari menjelang marni melahirkan pak pendra kritis". Ucap pak sultan pada anaknya.


"Bagaimana papa dan mama marni mengunjungi marni saat melahirkan. Bahkan sampai sekarang papa mertuamu itu sering keluar masuk rumah sakit.


Bukan tidak mau mengunjungi kamu. Tapi tidak mau membebani kamu dan marni. Mereka tidak ingin marni cemas mebdengar papanya yang sakit". Jelas pak sultan.


Ridho termenung. Mendengar penjelasan papanya. Kenapa baru sekarang dia tahu?. Dan baru sekarang papanya menceritakan.


"Kok papa tidak bilang padaku?". Tanya ridho setelah terdiam.


"Papa waktu itu bilang padamu. Bahkan waktu marni akan masuk rumah sakit saat akan melahirkan.


Tapi kamu bilang tidak peduli. Kamu mau menemani istrimu melahirkan.


Hingga anak kalian keluar rumah sakit, papa marni masih di rawat.


Kamu malah cuek saja pada marni setelah itu. Tidak ada sedikitpun menanyakan keadaannya.


Kamu pulang larut malam, kadang tidak pulang. kamu juga sering papa dengar marah tanpa alasan pada marni. Jika dia bertanya. Juga marah saat anakmu menangis tengah malam.


Kamu tahu Ridho?. Marni sering menangis, dan ingin pergi dari sini membawa anak kalian. Tapi dia tidak tahu mau kemana.


Dia tertekan dengan sikap kamu.


Pernah papa dengar dia menangis dan berkata, jika dia pergi dari sini tidak akan pulang kerumah orang tuanya.


Mungkin dia terpengaruh ucapan kamu yang mengatakan orang tuanya sudah membuangnya, dan tidak peduli lagi padanya.

__ADS_1


Dan malam itu kamu malah mengusirnya. Dengan perkataan kasar. Papa sangat kasihan melihatnya". Jelas pak Sultan.


Ridho hanya termenung mendengar ucapan papanya. Tidak menyangka, kalau marni benar-benar tidak pulang kerumah orang tuanya.


Da memang sering mengatakan kalau orang tuanya sudah membuangnya. Dia berkata demikian karena kesal saja.


"Tapi pa. Kata mamanya marni pernah beberapa kali menelfon menanyakan keadaan mereka.


Aku yakin. Ini hanya tipuan marni, agar aku kasihan padanya". ucap Ridho.


"Kamu salah Ridho. Marni juga sering mengirim pesan papa, menanyakan kabar kamu dan anak kalian.


Dia sangat rindu dengan anak kalian. Tapi tidak bisa datang.


Selain takut kamu marah. Dia juga jauh. Tidak akan bisa datang semaunya kesini.


papa juga sering mengirimkan foto anak kalian. Untuk pelepas rindunya. Dia tidak mau apa telfon untuk vidio call". Jelas pak Sultan.


"Dia sering menghubungi papa?!". Ucap Rudho kaget.


"Iya. Tapi nomornya jarang aktif. Akan aktif jika menanyakan kabar anak kalian.


Tapi papa sering kirim foto anak kalian padanya. Biar dia tahu perkembangan anaknya". Ucap pak Sultan.


"Pah. Bisa pinjam ponsel papa. Aku mau menelfon marni. Aku tidak punya nomornya". Pinta Ridho.


Ridho memeriksa pesan marni di ponsel papanya. Memang banyak foto anak mereka yang dikirim papanya.


Marni juga menanyakan kabar dia dan anak mereka.


Dan benar. Nomor yang dipakai adalah nomor lama marni. Dan tidak ada tanda terakhir dilihat ayau esan terbaca.


Ternyata dia tidak hanya jarang mengaktifkan nomor ponselnya. Juga memprivasi nomornya.


Ridho mengulir pesan yang di kirim marni.


Dan.


Tiba-tiba terlihat marni sedang online.


Ridho langsung menekan tombol panggil di aplikasi hijau itu. Tapi beberapa kali mencoba. Marni tidak mengangkatnya.


Malah mengirim pesan, menanyakan kabar anaknya.


👩🏼 Marni


Assalamualaikum pah. Apa kabar.

__ADS_1


Sehat semua kan pa?. Maaf tidak bisa angkat telfon papa. Semoga keluarga disana sehat selalu.


Terima kasih papa sudah mengirim foto anak-anak. Sedikit terobati rasa rindu dihati ini.


Itu bunyi pesan Marni.


Tidak kehabisan akal, Ridho mengurim pesan yang membuat marni cemas. Dan mau mengangkat telfonnya.


🧑


Angkat telfonku Marni. Ini tentang anak-anak.


Singkat saja pesan yang dikirim Ridho di nomor papanya.


Dia langsung menekan tombol pangil. Tidak menunggu lama, hanya dua kali nada tunggu, marni langsung menjawab.


"Assalamualaikum pah. Apa yang terjadi pada anak-anak?. Mereka sehatkan pah?". Jawab marrni cepat.


"Kamu dimana?!". Ucap Ridho tegas.


"A.. Abang?". Jawab Marni kaget.


"Kamu dimana?. Cepat kesini". Perintah Ridho.


"Maaf bang. Aku.. Aku tidak bisa pulang. aku tidak bisa kembali kesana. Aku sudah tidak di butuhkan lagi disana.


Abang juga mungkin sudah kembali pada...". marni tidak meneruskan ucapannya.


"Pokoknya kamu pulang sekarang. Awas kalau tidak pulang!. Akan aku seret kamu!". Potong Ridho kesal.


"Maaf. Tidak bisa bang.


Aku ...".


"Katakan kamu dimana?. Aku jemput sekarang". Potong Ridho.


"Maaf. Assalamualaikum". Ucap marni menutup panggilan.


"Marni... Marni....". Ucap Ridho kesal.


Karena marni menutup panggilan sepihak.


"Ah...!". Kesal Ridho.


.


.

__ADS_1


__ADS_2