
Ridho yang kesal pada marni, mengirimi marni pesan yang beruntun. Tidak hanya untuk menanyakan dimana, dqn kenapa tidak pulang dan kenapa tidak memberi kabar.
Tapi juga pesan yang membuat marni engan untuk membalasnya.
Ridho masih saja mengatakan marni yang egois, ingin kabur darinya. Dan lari darinya.
"Kenapa tidak dibalasnya?. Apa dia memang sudah tidak mau kembali. Dan melupakan anaknya". Geram Ridho.
Pesan yang ridho kirim semenjak hari kamis, dan sekarang sudah hari minggu pagi. Tapi marni masih belum membalasnya.
Aktif pesan hijaunya pun semenjak kamis malam.
Itu membuat Ridho semakin emosi. papanya melihat Ridho uring-uringan.
Ananya yang mendekatpun sering dia marahi tanpa sebab.
"Ada apa lagi Ridho?. Kamu kok uring-uringan begitu?.
Anakmu ingin bermanja dengan kamu saja kamu marahi". Tanya pak Sultan.
Pak sultan menyuruh baby sitter cucu perempuannya membawa keruang bermain.
Padahal tadi mereka sedang sarapan bersama di minggu pagi ini.
"Marni pah. Dia tidak merespon pesanku. Bahkan waktu aku menelfonnya memakai ponsel papa dia matikan secara sepihak.
Aku kirim pesan pun hanya di baca. Tidak ada membalasnya sedikitpun.
Apa dia benar-benar tidak ingat dengan anaknya". Jawab Ridho geram.
"Hhffff..
Pesan apa yang kamu kirim?. Ciba papa lihat?". Ucap pak Sultan.
Ridho memberikan ponselnya
"Astahhfirullah Ridho. Kalau kamu menerima pesan seperti ini apa kamu tidak kecewa?. Tidak akan sakit hati membacanya?.
Kamu bilang marni pergi dari rumah untuk bersenang-senang dengan lelaki lain dan mengatakan kabur dari tanggung jawab mengasuh anak.
Apa kamu ingat?. Waktu anak-anakmu lahir kamu tidak membarkan marni mengasuh anaknya. Dia hanya bisa mengendong dan memegang anaknya hanya saat memberi asi saja. Selebihnya baby sitternya yang mengerjakan.
__ADS_1
Juga Waktu putrimu lahir, kamu tidak sekalipun melihatnya. Hanya pulang malam. Bahkan berhari- hari tidak pulang.
Dan. Kamu mengusirnya saat putrimu baru berumur empat bulan.
Apa kamu tahu apa dia hidup tenang dan cukup di luar sana?. Apa kamu ada memberi dia uang saat dia pergi?
Perlu kamu tahu. Bisa saja dia menjadi gelandangan di luar. Tanpa uang. Tanpa keluarga yang peduli.
Dia tidak mendatangi orang tuanya. Tidak mengabarkan keadaanya pada kita.
Juga ternyata dia tidak datang ke mantannya yang kata kamu kaya itu.
Apa kamu ada peduli waktu itu?.
Kenapa baru sekarang kamu tanya dan dengan berani kamu menghujatnya?". Ucap pak Sultan marah pada Ridho.
"Selama ini aku tidak tahu pa. Aku mengira dia kembali pada orang tuanya". Jawab Ridho pelan.
Pak Sultan sudah sering meng ingatka anaknya. Tapi Ridho yang egois tidak menanggapinya.
"Kamu tahu Marni dimana sekarang?". Ucap pak Sultan.
Setelah dia diam beberapa saat.
"Dia ada di Riau, bekerja di pabrik triplek. Dengan gaji kecil".
"Kok papa tahu?!". Kaget Ridho.
"Waktu dia kamu usir. Papa diam-diam mengikutii dia. saat papa menawarkan untuk mengantar kerumah orang tuanya dia tidak mau.
Dia merasa telah dibuang irang tuanga. Dan tidak mau pulang. Papa juga tawarkan untuk tinggal di suatu tempat. Dia juga tidak mau.
Katanya dia akan keluar kota saja atau luar pulau saja. Dia tidak ingin berada disini lagi. Dia sangat tertekan.
Maka papa tawarkan untuk ke pekan baru. Dan temui bu Noni, kenalan papa. Supaya dia di beri pekerjaan di sana.
Ternyata dia hanya bawa uang untuk ongkos saja. Papa juga tidak bawa uang lebih malam itu. Hanya cuku untuk beberapa hari.
Sesampai disana dia tidak mau bekerja di hotel. Makanya bu Noni menawarkan bekerja di pabrik triplek, karena ada kenalannya yang membantu.
Dan marni menanya kabar anaknya sekali sebulan.
__ADS_1
Dia tudak pernah mengeluh atau bercerita. Hanya menanyakan anak-abak. Tapi papa sering kirim foto anak kalian". Jelas pak Sultan.
Ridho hanya mendengar sedih cerita papanya tentang istrinya itu.
"Marni ada bawa atm. Tapi aku blokir tiga hari setelah dia pergi". Gumam Ridho.
"Kamu lihatkan? Hampir dua tahun dia hidup diluar sana. Tapi tidak sekalipun dia mengabarkan dia kesusahan.
Bahkan orang tanya saja tidak tahu kalau putrinya tidak disini. Apalagi yang kamu curigai pergi mencari mantannya". Sondir pak Sultan.
"Aku akan mencarinya. Aku lihat bagaimana dia bertahanselama ini. Apa dia bertahan dengan menjual...".
"Ridho. Kalau kamu ingin menghinanya, kebih baik kamu ceraikan saja dia. Kalau kamu masih curiga dengannya.
Juga, kalau sampai marni seperti ucapanmu tadi. Dosanya kamu yang menanggung.
Karena sebagai suami kamu tidak memberi nafkah yang layak padanya". Tegas pak Sultan.
Ridho termenung mendengarnya.
.
"Terimakasih mak, ayah". Ucap Marni dan teman-temannya.
"Sering-seringlah datang untuk berkunjung. Biar si ajo sering pulang. Dia pulang hanya jika ada acara. Selebihnya tidak". Curhat maknya ajo.
"Ada yang sedang di jaga mungkin mak. Makanya betah bekerja". Jawab usil temannya.
"Boleh. Mak ingin punya mantu segera. Kalau ajo mau menikah mak sudah siapkan dananya". Jawab mak ajo.
"Ayo jo. Segeralah kenalkan calon istri kamu pada mak kamu". Tambah yang lain.
"Betul jo. Segerakanlah". Ujar lang lain lagi.
"Ah sudah. Kalau sudah waktunya akan aku bawa kok". jawab Ajo.
"Ayo kita berangkat. Biar nanyi bisa mampir sebentar d bukittinggi dan payakumbuh". Ajaknya.
Setelah sarapan pagi merekapun berangkat.
.
__ADS_1
.