
"Kamu kenapa tidak pernah mengabarkan aku?!". Tanya Ridho pada Marni.
Saat ini mereka sedang tidur telentang di kasur hotel.
Tadi marni ingin tidur dengan putrinya. Tapi dilarang Ridho.
Karena Ridho ingin bicara banyak dengan Marni.
"Aku tidak ingin menganggu abang. Juga, aku merasa sudah tidak dibutuhkan lagi. Sudah ada anak sebagai penerus marga abang.
Seperti ucapan abang waktu itu". Jawab Marni pelan.
Dia ingat waktu si kembar lahir. Ridho pernah bilang kalau sudah ada penerus marganya. Karena yang lahir anak laki-laki.
Marni takut salah bicara. Dan membuat suaminya tersinggung.
Dia sudah mencoba untuk menjauh selama dua tahun ini. tapi luluh hatinya saat bertemu dengan buah hatinya kemaren.
"Aku dan anak-anak butuh kamu. Walaupun mereka penerus marga, mereka butuh kamu sebagai ibunya. Juga aku membutuhkan istri". Ujar Ridho.
"Aku.. Aku.. Aku rasa abang.. Balik jadi..".
"Tidak. Aku tidak pernah kembali. Karena aku sudah sembuh. Dan kamu penyembuhku". Potong Ridho.
Tahu, kemana arah ucapan istrinya.
Lalu Ridho miring menghada istrinya yang tidur telentang. Memandang langit-langit kamar hotel.
"Perlu kamu tahu. Semenjak kamu pergi hari itu. Aku tidak pernah melakukannya. Jangankan dengan pria naupun wanita.
__ADS_1
Hasratku hilang begitu saja bersamaan hilangnya kamu.Entah kenapa. Aku cuma berhasrat saat ingat kamu.
Pernah aku mencoba membawa seorang model pendatang baru kehotel, beberapa kali. Karena sudah tidak tahan.
Tapi. Saat aku sedang on dan siap tempur, aku lemas lagi. Hingga aku tidak ada hasrat untuk itu". Terang Ridho.
Marni sedikit tidak percaya. Ridho yang waktu itu tidak bisa lepas darinya untuk ah uh tiap hari. Hingga anak kembarnya tidak tidur dengan mereka.
Bahkan Ridho yang semula penyuka sesama, tidak bisa istirahat untuk sekedar pelepasan pejuh.
Hingga marni hafal saat ridho sedang on.
Sekarang pun marni bisa melihat, kalau suaminya itu sedang ingin. Terlihat dari gerak tubuh dan tarikan nafasnya. Yang sedikit memburu.
Tapi marni bersikap diam saja. Sedikit takut, jika suaminya langsung menerkamnya.
Bukan apa-apa. Walau mereka masih suami istri sah. Tapi sudah dua tahun marni tidak melakukanya.
"Kita balik kejakarta ya. Kita jalani rumah tangga dengan normal. Tidak berjauhan seperti ini". Ucap Ridho sekali lagi.
"Baik bang!". Jawab Marni.
"Terima kasih". Ucap Ridho.
Dia mrnjangkau mengambil jemari tangan Marni yang berada diatas perutnya. Dan mengenggam erat.
Lalu menarik bahu istrinya, agar miring menghadapnya.
Mereka saling menatap. Lama.
__ADS_1
"Kamu istriku. Tidak akan tergantikan. Jadilah istriku sampai tua". ucap Ridho mengelus rambut marni.
Marni mengangguk.
Ridho memeluk istrinya itu. Sudah dua tahun mereka berpisah, karena kesalah pahaman. Saling diam, dan tidak berbicara terbuka.
"Maukan malam ini kamu melayaniku?. Aku sudah dua tahun tidak merasakan semua". Pinta Ridho jujur.
Marni sedikit takut, sudah dua tahun tidak tersentuh. tapi dia tidak berani menolaknya. Karena takut dosa.
Akhirnya marni mengangguk menyanggupi. Membuat Rdho tersenyum. Menaiki tubuh istrinya itu.
Meski sudah dua tahun tidak menyalurkan hasratnya. Ridho tetap bermain lembut, tidak buru- buru atau bersikap kasar.
Karena dia tahu, istrinya terlihat tegang. Mungkin takut akan sakit.
Dengan gesit tangan dan bibir Ridho menjelajahi tubuh istrinya itu, biar nyaman.
Hingga ******* dan erangan dari mulut istrinya terdengar, saat lidahnya bermain di inti tubuh marni. hingga hasratnya semakin naik. Dan..
"Terima kasih sayang. Aku merasa kembali menjadi lelaki sejati". Ucap Ridho.
Memeluk tubuh yang sama-sama polos dibawah selimut. Karena sama-sama melepaskan rindu.
Ridho bahkan melakukannya berulang, hingga tubuh Marni remuk. Di gerayangi.
Mereka tertidur dengan nyenyak, selain capek. Mereka juga merindukan pelukan yang sudah dua tahun hilang.
.
__ADS_1
.
.