
Pak Pendra memasuki gedung pesta pernikahan kenalannya.
Dia pergi bersama dengan istrinya.
Sedang antri mengambil makanan pak Pendra sekilas melihat Danil dan istrinya menuju pelaminan.
Tapi..
Pak Pendra pov
'Kok Danil langsung menuju pelaminan?. Padahal banyak tamu yang sedang antri akan naik kepelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai dan juga kedua orang mempelai.
Tidak lupa untuk berfoto di pelaminan.
Kenapa dia bisa langsung?'.
Pak pendra bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Danil bisa jadi tamu yang spesial.
"Mah. Itu kok Danil langsung naik kepelaminan untuk mengucapkan selamat dan berfoto?". Bisikku pada istriku.
"Mungkin ini pesta kerabat Danil. Atau rekan bisnisnya". Jawab istriku.
Aku sangat iri dengan danil. Punya keluarga yang terpandang, kaya dan juga ternama.
Ternyata dia adalah keturunan keluarga Zulkarnaen. Pengusaha yang terkenal dari Sumbar dan juga sudah masuk nama besar di nasional. Hingga negara tetangga.
Aku masih sangat berharap dia mau kembali pada anakku. Agar..
"Ayo pa". Ajak istriku saat selesai mengambil makanan.
Kami mencari tempat untuk duduk makan. Dan ..
Ku lihat dari tempatku berdiri dia di jamu langsung makan di wilayah vip. Yang semua orang tahu, kalau bagian sebelah sana untuk keluarga dan pejabat yang diundang.
Sementara aku yang termasuk undangan umum. Untuk memilih makanan harus antri, dan untuk duduk makanpun harus mencari dan menunggu tempat duduk.
Saking ramai tamu undangan pesta ini. Juga untuk menuju pelaminan harus antri lagi.
Danil?.
Dua disambut langsubg menuju pelaminan tanpa antri. Menikmati hidangan pestapun langsung dihidang di meja.
Tinggal duduk dan santap.
Kulihat Jedua orang tua penganten ikut turun untuk menemani dia makan.
Kalau dia jadi menantuku. Tentu aku akan ikut disambut dan dihargai.
Semakin menarik hatiku si Danil itu.
"Mah. Aku menyapa Danil jesana sebentar mah". Ujarku pada istriku.
Mumpung Danil sedang kedua orang tua mempelai, yang juga seorang pengusaha terkenal.
Mungkin aku bisa juga mendapat klien seorang pengusaha kaya dan terkenal.
"Habisin dulu makanannya pah. Belum beberapa sendok papa makan". Jawab istriku.
"Aku hanya sebentar mah, mau menemui Danil sambil berkenalan dengan tuan rumah. Yang punya hajat.
Mana tahu mereka mau perusahaannta menjadi klien papa kedepannya". Ujar pak pendra.
"Makan dulu pah". Ujar istriku.
__ADS_1
Memaksaku menghabiskan makanan yang tadi kami ambil antri.
Saat aku selesai makan, ternyata Danil hanya di temani oleh dua orang laki-laki. Yang aku yakin anak yang punya hajat.
Mirip wajah mereka dengan orang tua peganten yang sebelah kiri. Yang aku tahu di pangil pak haji.
Tidak apa. Bertemu anak pak haji pun tidak apa. Sepertinya dia juga pengusaha muda. Aku sering melihatnya di media sosial.
"Hai Danil. Ternyata kita ditakdirkan selalu bertemu ya.
Itu tandanya kita memang cocok untuk jadi keluarga". Ucapku menyapa Danil.
Aku membayangkan jika marni berada di sampingnya. Menjadi istrinya, bukan wanita yang ada di sampingya sekarang.
Dia sangat perhatian pada istrinya yang aku tahu hanya di jodohkan.
Kalau putriku marni yang disana, wanita yang pernah di pacarinya bertahun-tahun. Dan mereka sempat tunangan.
Tentu dua lebih perhatian pada putriku.
"Kalau aku tahu kamu datang kesini, pasti aku akan mengajak marni tadi.
Mungkin kalian bisa .....".
Aku berbicara tentang putriku. Cinta matinya waktu itu. Yang aku yakini masih menarik perhatiannya walau sudah punya anak.
Tapi..
Saat aku bilang padanya
"Tidak berdosa untuk.....
Aku merasa terhina. Seperti ...
Apa Ridho memperlakukan dengan baik putriku
Atau...
Aku harus menemui marni. Ingin melihat keadaan putriku dirumah orang tua suaminya.
Apa dia diperlakukan baik disana.
Aku takut, putriku di...
Pak pendra pov end
.
Dengan percaya diri pak Pendra menemui Danil yang sedang berada di meja vip.
Dia datang dan bergabung, ikut berbicara akrab.
Danil yang sedikit risih, karena pak Pendra berbicara tidak ada menghargai istrinya, yang sedang duduk di sampingnya.
Malah membicarakan dan menyanjung tentang putrinya. Padahal putrinya sudah bersuami dan punya anak.
'Sangat gila dia'. Pikir Danil
Dia tidak begitu menanggapi ucapan pak Pendra. Yang..
"Apa kabar nak Danil. ternyata kita ditakdirkan untuk selalu bertemu.
Mungkin ini tandanya kita serasi untuk dijadikan keluarga". Ucap pak Pendra menyapa Danil.
__ADS_1
Ucapan pak pendra yang awalnya hanya basa basi. Malah melebar, dan bikin telinga siapa saja yang mendengar terasa panas.
Bagaimana tidak.
"Tidak berdosa kok berpoligami. Juga banyak Janda dan Duda hidup bahagia dengan adanya cinta diantara mereka.
Aku rasa kamu pasti bisa begitu". Ucap pak Pendra.
Membuat Danil hilang rasa hormatnya pada pak pendra. ingin rasanya Danil menampar mulut nya yang tidak bisa mengontrol ucapan.
Selain tidak menghargai istrinya yang sedang duduk di samping nya. Juga bisa di artikan dia merendahkan menantunya juga.
Danil menarik nafas pelan, dan menghembuskan kasar.
"Maaf pak. Aku sudah punya istri yang sangat aku cintai.
keluarga kami sangat bahagia tanpa berniat untuk menghadirkan orang ketiga dalam rumah tangga kami.
Dan jika nanti aku ditakdirkan allah untuk jadi seorang duda.
Maaf.
Aku tidak tertarik untuk menikahi janda yang tidak bisa menjaga keluarganya hanya demi uang, harta dan jabatan.
Dan aku lebih menghargai keluarga yang yang mendukung pilihan anaknya. Bukan membuat mereka bercerai hanya karena ingin jabatan dan ingin terkenal.
Aku lebih menghargai wanita baik- baik untuk berada di sisiku.
Bukan mengagungkan cinta yang sudah lama hilang. Demi sesuatu ambisi". Ucap Danil melihat tajam pak Pendra.
Lama Danil menatap sinis pak Pendra.
Lalu danil berucap lagi.
"Menghagai dan menghormati anak sendiri adalah tanggung jawab orang tua.
Apalagi tugas seorang mertua juga harus menjunjung tinggi kedudukan seorang menantu.
Yang sudah bersedia menerima dan mengemban tanggung jawab seorang ayah di pundaknya. Yang bergelar menantu.
Kalau seorang menantu tidak dihargai sedikitpun. Tentu dia juga kurang menghargai istrinya.
Bahkan akan memperlakukan istrinya semena-mena.
Apakah pak pendra tidak takut. Jika putri tercintanya tidak di hargai atau malah....
Maaf...
Selama ini putri bapak tidak salah.
Dan jika semua terjadi sekarang, Itu adalah keinginan bapak sebagai orang tua.
jika putri bapak mendapat perlakuan yang.....".
Danil tidak melanjutkan ucapan yang mungkin membuat panyakit jantung pak Pendra kambuh.
Biar Dia sendiri yang mencari jawabannya.
Tanpa bicara pak Pendra meninggalkan meja dimana Danil duduk bersama istri dan Haikal.
Dia langsung menuju dimana istrinya duduk.
.
__ADS_1
.