Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
BAB 80


__ADS_3

Ridho yang baru saja mengambil obat istrinya, cepat menuju lif dan memencetnya. Dia langsung masuk kedalam lif ketika pintu lift terbuka.


Dia langsung menencet angka delapan pada tombol lif saat pintu tertutup.


'Aku harus pastikan dengan istrinya si danil, apa istri dia melahirkan bayinya hidup atau....'. gumam ridho.


Entah kenapa, dia sangat penasaran dengan danil dan istrinya.


Tidak hanya tentang bayinya, juga kenapa danil bisa berada di lantai delapan ruang rawat inapnya.


Apa dia yang tidak tahu, kalau di lantai delapan juga ada ruang rawat inapnya.


Ting.


Lift yang dinaiki Ridho sampai di lantai delapan. Saat lif terbuka, disana sudah terdapat sebuah loby kecil yang langsung berhadapan dengan lift. dan dinding kaca yang menutupi sekeliling loby tersebut.


Bahkan sepertinya tidak ada lorong atau ruangan yang terlihat. seperti yang ada di lantai bawah.


Hanya ada satu set sofa mewah yang ada di tengah ruangan berdinding kaca yang tertutup gorden coklat dari dalam.


Ridho berdiri di depan sofa, melihat kesekeliling loby kecil ini.


'Ruangan apa ini?. kenapa tadi lift yang dinaiki sampai ke lantai delapan?!'. ucap ridho dalam hati.


Pintu masuk menuju ruangan di balik kaca saja tidak kelihatan. karena semua kaca yang terbingkai stainles sama bentuk dan ukurannya.


juga gorden tebal menutupi ruangan yang di sebelah. hingga ridho tidak tahu, ruanga apa uang ada di balik kaca tersebut.


'Ah mungkin istri si danil dirawat di lantai tujuh, atau enam. kan dua lantai itu yang ruang rawat vvip'. ucap danil dalam hati.


Lalu dia kembali menekan tombol lif dan turun satu lantai, ketempat istrinya dirawat. dan menunggu untuk di jemput, katena mereka akan pulang.

__ADS_1


"Kami sudah siap untuk pulang?!". ucap Ridho.


Saat dia memasuki kamar rawat istrinya. Dan istrinya sedang duduk bersandar di tempat tidur rawat inapnya.


Ridho membantu istrinya duduk. menjuntai.


"Sudah bang. apa sudah abang ambil obatnya?!" Tanya marni.


"Sudah. kita bisa langsung pulang. Apa kita tidak mengabarkan pada papa dan mama?!. kalau kita pulang hari ini!". tanya ridho.


"Aku sudah mengabarkan mama, kalau aku pulang siang ini!.


Mama bilang, kalau aku istirahat di rumah mama. tapi aku bilang, kalau aku ingin istirahat di apartemen saja". jawab marni.


"Aku terserah kamu saja, senyaman kamu.


Tapi kamu harus janji, kamu harus banyak istirahat dan tiduran sampai kamu sembuh.


Tidak boleh banyak gerak. semua akan dibantu pekerja rumah yang akan menemani kamu selama aku tidak di rumah.


Matni hanya menganggukkan kepala.


Ridho membopong istrinya dan mendudukan di kursi roda. Lalu mengambilkan tas tangan marni yang ada di meja samping tempat tidur.


Ridho memeriksa lemari dan semua rak, apakah ada barang yang tertinggal.


Setelah selesai, ridho mendorong kursi roda istrinya keluar kamar rawat inap istrinya.


Dan ..


Saat ridho dan marni yang berada di dalam lif yang sedang turun. dan berhenti di lantai enam.

__ADS_1


Masuklah Danil dan seorang dokter pria kedalam lif yang hanya ada ridho dan marni.


Ridho memundurkan kursi roda yang dia pegang, dan dia pindah berdiri di samping kursi roda istrinya.


Marnipun menundukan wajahnya, melihat tas tangan yang ada di pangkuannya.


Danil dan dokter yang baru masuk, langsung berdiri di dekat tombol lift. dan dokter itu menekan angka dua dan mereka berdiri di tengah, tepat depan pintu lif.


Tidak ada tegur sapa sedikitpun antara danil, ridho dan marni. seperti tidak saling kenal.


Lift juga berhenti di lantai empat, masuk beberapa perawat dan juga pengunjung yang mungkin baru saja membezuk keluarga atau teman.


Danil dan dokter melangkah ke sebelah tepi. agar semua yang ingin masuk kedalam tidak terhalangi.


"Pak dokter pak afda!". Sapa salah seorang perawat.


"Hhmm!". sang dokter menjawab sapaan perawat.


Danil hanya menganggukan kepalanya. tersenyum sekilas membalas sapaan perawat tadi, walau dia tidak kenal.


Sampai lantai dua, danil keluar dari lift. tanpa melihat dan tanpa suara. Ada beberapa orang yang akan masuk lift.


"Kenapa diam, tidak menegur dia?!". tanya sang dokter pada danil.


Danil hanya mengangkat bahunya acuh.


"Haha...ha...!". sang doter tertawa.


"Kamu tahu tidak. dia itu di rawat karena...".


"Aku tidak peduli. tidak ingin tahu. karena aku tidak ingin melihat kebelakang!". jawab danil berjalan menjauh.

__ADS_1


.


.


__ADS_2