
Pesta di balroom hotel mewah terus berlanjut. Selain tidak ada hubungan dengan mereka. keluarga besar danil juga tidak mengetahuinya.
Menjelang magrib pesta besar sudah usai. Tinggal nanti malam kedua pengantin akan mengadakan jamuan makan malam bersama temannya.
Semua keluarga juga sudah pergi beristirahat di kamar hotel yang berada dilantai sebelas. semua kamar di gunakan untuk keluarga besar kedua pengantin.
Kemaren semua menginap di rumah om tarmizi, karena mereka ingin ada acara arak-arakan di perumahan sebelum berangkat.
Dan juga saat sampai di hotel, Agar terlihat kompak.
Mau tidak mau, danil ikut menginap di hotel ini. karena ibu dan etek danil sudah membawa istrinya itu masuk kekamar mereka. Hingga danil juga ikut memasuki kamar yang dia pakai saat istirahat siang tadi.
.
Marni yang sedari tadi sendiri dikamar rawat rumah sakit, di ruang vvip. hanya bisa tiduran telentang.
karena kata dokter dia tidak boleh bergerak. karena proses melahirkan bayi yang sudah tidak bernyawa memakai suntik agar bayi keluar sendiri.
walau tidak secara paksa. pasti rahimnya akan terkejut. makanya marni tidak boleh bergerak. agar tidak terjadi pendarahan.
Selepas magrib, datanglah ibu marni terlebih dahulu keruang rawat marni.
Tadi saat pemakaman bayi, ibu marni sudah di suruh menjaga marni. tapi dia ingin melihat pemakaman calon cucunya itu. makanya marni tadi sendiri tinggal.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?!". tanya mama marni.
"Sudah mendingan Mah!". jawab marni lemes.
"Kamu yang sabar ya. semoga...".
"Ma.. !".
Marni menarik mamanya mendekat kearah samping kepalanya.
__ADS_1
"Mama harus janji. jangan bahas tentang bayi itu ya ma. biarlah mereka menganggab itu anak bang ridho. Agar bayi itu tenang di pemakaman keluarga bang ridho". bisik marni kepada mamanya.
"Baik sayang. kamu tenang saja!". bisik mama marni.
"Yang lain mana mah?!". tanya marni.
"Sedang ke musholla, sholat magrib. sebentar lagi juga datang!". ucap mama marni.
Marni hanya mengangguk saja. sambil memandang langit-langit kamar rawat inap.
"Kamu makan ya sayang. biar tenaga kamu lekas pulih!". ucap mama marni.
Karena mama marni melihat makan malam yang diantar petugas makanan di rumah sakit, masih penuh tanpa tersentuh.
Tentu dia tahu, siapa yang akan menyuapi marni. marni tidak boleh bergerak, dan dari tadi marni sendiri saja di ruangan ini.
"Tidak lapar mah!". tolak marni.
"Harus makan sayang..".
Mereka melihat marni yang tidak mau makan.
"Makanlah marni. kamu butuh tenaga untuk penyembuhan. makan ini saja. tadi mama mampir di kantin rumah sakit, membeli sup. agar kamu bisa makan.". ucap ibu mertua marni.
"Tidak usah....!".
"mau mama yang suapi atau suami kamu?!. kamu harus makan". ucap mama mertua.
Sambil membuka bungkusan sup yang dia beli.
"Mah, nasi rumah sakit saja. sup itu banyak rempahnya. kita tidak tahu apa boleh marni memakqnnya atau tidak. kita belum konsultasi sama Dokter!". ucap papa mertua.
"Oh iya. mama lupa. Tadi mama beli karena aromanya sangat mengoda saat kita lewat. makanya tidak kepikiran.
__ADS_1
Kamu juga belum makan Ridho. makan saja sup ini!". ucap mama mertua.
"Tidak selera ma". jawab ridho.
"ayo makan!". ucap mama marni.
Marni makan dengan malas. Padahal pagi tadi marni hanya makan roti dan teh. siang juga tidak makan. karena bertarung sakit di ruang bersalin.
Suaminya juga tidak menawarkan makan. mungkin juga dia tidak makan juga. karena panik, sedih dan menyesal.
"Kamu juga harus makan banyak. bagaimana kalau kamupun sakit. sementara istrimu butuh perhatia lebih!. untuk berjaga juga!". ucap mama ridho kembali membuka sup tadi.
dan menuangnya ke mangkok yang sudah ada nasi.
Ridhopun di paksa mamanya untuk makan sup tersebut. hingga ridhopun makan dengan malas sup yang mamanya beli.
Marni terpaksa menghabiskan makanannya, ridhopun begitu.
Selesai marni dan ridho makan, kedua orang tua merekapun pulang karena sudah larut.
"Kamu ridho, jagalah istrimu sampai sembuh. kalian butuh dukungan untuk saling menguatkan!". ucap papa ridho.
"Iya pa!". jawab ridho.
Setelah kedua orang tua mereka pergi. Ridho mendekati istrinya. dan mengelus kepala istrinya.
"Maaf!". ucapnya lagi.
Marni hanya mengangguk. Dia sedih karena calon bayinya meninggal.
Melihat suaminya menahan tangis karena sedih dan menyesali perbuatannya. marni jadi ikut sedih juga.
Walau hatinya sakit, tapi melihat suami menangis. Hatinya sangat luluh, sangat tersentuh hatinya yang terdalam. namanya perempuan tentu punya perasaan lebih pada suami.
__ADS_1
.
.