
"Danil. apa kamu tidak dihubungi lagi sama papanya marni?!". tanya mario sore ini saat jam kantor selesai.
Mereka sedang bersiap untuk pulang.
"Aku harap setelah mendengar rekaman itu marni dan papanya tidak menelfon atau mencariku lagi.
Dan aku harap kamu dan teman kamu yang tahu dengan kejadian yang menimpa marni cukup jadi rahasia kita saja.
Jangan sampai berita ini tersebar. kasihan dia dan suaminya. biar anak itu diasuh oleh mereka". ucap danil.
"Kasihan marni di cerai suami atau anak yang dikandung marni??". ucap mario menaik turunkan alisnya mengoda danil.
"Aku kasihan pada diriku sendiri. pasti akan diserang atau didatangi. Setidaknya di carilah dimana keberadaanku.
Aku hanya ingin hidup aman. itu saja. tanpa diganggu". jawab danil.
"Hmm.. paham!. jangan khawatir. mereka dipastikan tidak akan mencari kamu lagi. percaya deh". ucap Mario.
"Besok pukul berapa pertemuan dengan perusahaan Gemilang?!". tanya Danil.
"Pukul tiga siang. di restoran bahagia. Kita berangkat pukul setengah tiga, biar tidak telat sampai". jelas mario.
"hmm baik. Aku mau ajak Fauziah. sekalian akan periksa ke dokter kandungan.
Tolong kamu daftarkan pukul lima. agar kami tidak magrib disana". ucap Danil.
"Baik. aku akan daftarkan". jawab mario.
Dan merekapun pulang, karena sudah sore.
.
Para Wartawan dan pemburu berita masih ada yang tinggal di depan hotel tempat konfrensi pers tadi.
Walaupun tadi pagi menjelang siang kedua polisi sudah memberi peryataan kalau konfrensi pers ditunda.
Polisi mengatakan kalau karena keluarga korban, marni. sedang terganggu kesehatannya. dan tidak bisa melanjutkan konfrensi persnya.
Tapi masih ada yang bertahan. berharap sore ini diberi kejelasan oleh penuntut. apakah masih melanjutkan laporan atau tidak.
Sampai waktu Ridho keluar dari loby hotel dia dicegat beberapa wartawan, menanyakan bagaimana kelanjutan kasus yang menimpa istrinya.
"Bapak Ridho. bagaimana kelanjutan kasus yang menimpa istri bapa?!"
__ADS_1
"Apa pihak terlapor sudah di jemput polisi?!".
"Apa istri anda terganggu kesehatannya karena masalah yang dihadapinya?!".
"Apakah tidak terjadi masalah dengan kehamilan istri bapak??!".
Banyak ocehan para pencari berita bertanya pada Rudho. yang masih bertahab berada di depan loby.
Ridho kaget, tidak menyangka masih ada beberapa wartawan menunggu di depan loby.
Padahal tadi sudah dikonfirmasi oleh pak polisi kalau belum bisa memberikan keterangan.
Tapi masih ada tujuh atau dalapan orang wartawan yang bertahan.
"Hh.... maaf semua. untuk saat ini kami belum bisa melanjutkan masalah ini.
Sebab istri saya tidak bisa bertemu dengan banyak orang. Dia masih trauma dengan obrolah yang menyudutkannya.
Saya harap, berita ini tidak dibesar kan lagi. Sekarang kami sedang fokus memberikan perhatian lebih, agar kesehatan istri saya dan calon anak saya sehat". Jawab ridho bijak.
"Bagaimana dengan terlapor pak?!".
"Itu masalah dengan polisi. kami sudah menyerahkan semua kepada kepolisian.
Tapi kami belum bisa menghadiri pangilan polisi untuk memberi keterangan lebih lanjut.
Maaf. saya harus menjemput istri saya. permisi". ucap Ridho menghindar dari pertanyaan wartawan.
Dia keluar hotel menuju parkiran, dimana mobilnya berada.
Padahal tadi dari ruang kerja papanya bisa langsung ke basement, tapi dia tidak tahu kalau wartawan masih berada di depan loby.
Sesampai dirumah mertuanya, ridho langsung disuruh mertuanya menuju kamar istrinya. karena istrinya sedang beristirahat.
"Assalamualaikum pah, mah". ucap ridho saat memasuki ruang keluarga.
Dimana tadi bibi art sudah membuka kan pintu, dan bilang mertuanya ada di ruang keluarga.
"Oh nak Ridho sudah sampai. Marni ada dikamarnya. sedang istirahat.
langsung saja temui marni dikamar!". ucap ibu mertua.
"Baik mah. pah aku keatas dulu". ucap ridho pada mertuanya.
__ADS_1
"Ya. silahkan!". jawab pak Pendra pada mebantunya.
Ridho menaiki tangga kelantai dua menuju kamar istrinya.
Selqma dua tahun lebih menjadi menantu di rumah ini. Ridho baru beberapa kali menginap di rumah mertuanya.
Karena setiap marni ingin menginap ridho sering tidak bisa.
Kalau untuk berkunjung masih sering. tapi hanya sebentar saja, untuk menghadiri makan malam atau acara keluarga.
Dia membuka pintu kamar istrinya. Dia melihat istrinya yang rebahan di kasur, membelakangi pintu masuk.
Dia tahu istrinya itu tidak tidur. hanya rebahan saja. mungkin capek, ingin istirahat.
"Marni. apa kamu tidur?!". panggil Ridho pada istrinya.
"Eh abang sudah sampai". ucap marni memutar tubuhnya menghadap suaminya.
"Tidak baik tidur menjelang magrib. Kita pulang yuk!". ajak ridho.
"Bagaimana mobilku?!". tanya marni.
"Biar saja disini. jika kamu butuh nanti di jemput". jawab ridho.
"hmm.. baik". ucap marni bangun dari rebahannya.
Ridho membantu marni untuk berdiri.
Walaupun Ridho cuek pada marni, kadqng tidak peduli dan terkesan tidak acuh. tapi ridho sebagai suami tidak pernah berbicara kasar atau keras kepada marni.
Dia selalu bersikap lembut kepada marni. kalau dilihat orang lain. merupakan suami yang sayang istri.
Makanya marni tidak bisa marah atau membangkang pada Ridho.
Hanya satu yang membuat marni jijik dan marah pada Ridho. Dia penyuka pedang.
Entah apa yang difikirkan Ridho, dia yang jelas mengaku pada istrinya kalau dia penyuka pedang. dan dia mau memberi nafkah batin satu kali seminggu. tiap hari selasa. tidak tahu alasannya.
Marni yang awalnya jijik saat suaminya memberi nafkah bathin. tidak bisa apa-apa, selain berdosa menolak suami beribadah. ternyata Ridho bisa membuat marni mengerang hebat saat menerima pelayanan suaminya.
Kenapa? karena hanya ridho yang aktif memberi kepuasan pada istrinya. marni?. hanya ikut permainan saja.
Dan tidak sekalipun Ridho mengeluh kapasifan marni.
__ADS_1
.
.