Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
109


__ADS_3

Selesai sholat zuhur dan makan siang, Danil dan rombongan berangkat menuju puncak.


Mobil sudah di siapkan dua buah. Mobil peetama dinaiki oleh dua orang asisten Danil yang akan membantu danil saat bekerja di proyek nya. juga seorang pengasuh Dylan. dan dua orang pengawal.


Semua barang keperluan danil dan keluarga kecilnya seminggu juga di mobil ini.


sementara Danil, fauziah dan putranya di mobil kedua. Dimobil yang Danil naiki juga ada seorang pengawal yang duduk di jok depan mendampingi supir.


Para pengawal juga untuk supir cadangan nantinya.


Lebih kurang tiga jam perjalanan, mereka sampai di puncak di depan villa om tarmizi.


Tadi mereka juga mampir sebentar di tempat wisata di pinggiran kebun teh. Sekedar istirahat dan bermain.


"Tidak capek anak ayah?!". tanya Danil pada putranya yang sedang bersemangat saat menuruni mobil dan di gandengnya.


"Tidak ayah!". jawabnya.


"Pintar anak ayah!".


Lalu Dylan melompat-lompat di halaman villa yang luas. walau halaman rumah mereka juga luas, dan tidak seluas di sini.


"Ayah. mau kesana!!". tunjuk Dylan.


Dia melihat sebuah rumah pohon yang dibuat di atas pohon mangga, dan di sangga beton berbentuk batang pohon.


Tidak tinggi rumah pohonnya, karena pohon mangganya juga tidak begitu tinggi.


"Ayo!". Ajak Danil,


Dia membawa putranya berjalan menuju pohon mangga yang ada rumah pohonnya.


Fauziah mengikuti suaminya menuju rumah pohon. Mereka naik.


Ternyata isinya ruangan kecil yang mana terdapat rak buku di salah satu dindingnya.


Ruangan ini seperti perpustakaan mini. juga ada meja kecil menghadap jendela, dengan duduk lesehan. agar membaca buku sambil menikmati pemandangan alam.


Aoalagi suasana sore yang indah. Wala suhu sedikit dingin bagi mereka yang biasa tinggal di kota.


Ocehan Dylan memenuhi ruangan rumah pohon ini. banyak yang di tanyakan, dan di jawab oleh Danil.


Mereka bermain sebentar, dan Fauziah melihat buku yang tersusun di rak.


Banyak macam buku yang ada. buku cerita, novel. bahkan buku tentang ekonomi dan pedoman jadi pemimpin juga ada.

__ADS_1


Mungkin rumah pohon ini di buat untuk santai sambil belajar. liburan, tapi ilmu di serap juga.


Danil dan Dylan sibuk bermain dan bercengkrama.


Fauziah juga ikut duduk di dekat mereka. yang sesekali mengajak fauziah bertanya sesuatu hal. Juga tertawa saat ada ucapan lucu.


"Bang, aku masuk dulu ya!. mau ke kamar kecil!". ucap fauziah.


"Baik sayang!. nanti kamu istirahat saja di rumah. sebentar lagi aku dan dylan menyusul". ucap Danil.


Sementara yang lain membawa barang bawaannya kedalam villa.


Villa ini dikenal dengan villa om tarmizi, dan semua keluarga besar bisa memakai jika saat liburan.


Sedangkan orang tua danil tidak membeli villa di sini. dia lebih banyak membuatnya di kampung. khususnya sumbar.


Fahziah memasuki ruang tamu villa yang sangat lega, dan lapang.


"Kalau ibu fauziah ingin istirahat, mari saya antar kekamarnya!". ajak seorang wanita pelayan villa.


Dia menyambut fauziah yang baru memasuki villa.


"Baik, terima kasih.


Oh ya pak. tas dan koper yang itu dan itu bawa ke kamarku ya. semua perlengkapan abang dan aku!". ucap fauziah pada seorang pengawal.


lalu mereka mengiringi ke lantai atas.


Setelah menunjukan kamar yang akan Fauziah dan Danil tempati. pelayan villa dan pengawal kembali turun kelantai bawah.


Di lantai bawah, kepala pelayan villa menunjukan kamar untuk pengasuh Dylan juga pengawal.


Karena lantai atas hanya untuk keluarga.


Selesai dengan hajatnya, fauziah sekalian mandi. karena sudah sore, dan hampir magrib.


Selesai mandi, fauziah membuka koper pakaian yang dia bawa tadi. lalu menyusun dan merapikan di dalam lemari.


Tidak berapa lama setelah Fauziah menata pakaian, masuklah danil kedalam kamar.


"Mana dylan bang?!". tanya fauziah.


Karena suaminya masuk kamar sendiri saja.


"Sedang di mandikan mbaknya!". jawab danil.

__ADS_1


"Abang segera mandi juga!. sebentar lagi magrib!". suruh Fauziah pada suaminya.


Sementara suaminya mandi, fauziah menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.


.


"Bagaimana keadaan papa?!". tanya mama marni.


Saat ini dia berada di ruang intensif tempat pak pendra di rawat.


"Lumayan mah!". jawab pak pendra lemah.


Tadi dokter mengizinkan istrinya bertemu sebentar. tapi tidak boleh berbicara banyak.


"Pa. papa istirahat saja dulu. jangan banyak fikiran.


Ingat pesan dokter tadi!. tidak boleh banyak bicara dan gerak!". ucap mama marni.


"Iya mah!". jawab pak pendra.


Istrinya memijit ujung jari kakinya, agar pak pendra nyaman.


Saat ini masih pukul delapan malam.


"Mah. marni ada kesini tidak?!". tanya pak pendra.


"Kemaren malam waktu papa masuk igd ada pah, bersama ridho. sekarang mungkin tidak bisa kesini, anaknya tidak bsa di tinggal. kan dia punya anak kembar!". ucap istri pak pendra.


Pak pendra hanya mengangguk. pak pendra sudah dua malam di ruang intensif. dan selalu di jaga sepupu marni saat malam.


"Papa cepat sembuh. biar kita bisa menjaga cucu. dan suruh marni sering berkunjung!". ucap mana marni menyemangati suaminya.


"Tapi aku masih teringat Danil mah. seandainya...!".


"Jangan bawel pah. ingat pesan dokter. kalau ingin sehat dan umur panjang!!". ucap istrinya kesal.


Karena suaminya masih membicarakan danil.


Pak pendra hanya bisa diam. karena dia masih memimpikan danil jadi menantunya.


Tapi saat ini dia masih di rumah sakit. untuk penyembuhan.


tapi dia sudah merencanakan sesuatu. yang tidak diketahui istrinya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2