Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
148


__ADS_3

Pak pendra semenjak pulang dari rumah sakit tadi, diacuhkan oleh istrinya.


Dia masuk kedalam rumah dibantu oleh supir tadi. Dan semua barang dibawa oleh pekerja rumah.


Sementara istri pak Pendra masuk kedalam rumah tanpa membantunya.


Malah dia langsung menuju kamar untuk membersihkan diri dan juga untuk beristirahat.


Selesai mandi, istri pak pendra melihat suaminya berbaring di atas kasur. Tapi dia tidak mengacuhkannya.


Selesai berlakaian dan bersih- bersih, istri pak pendra pun keluar dari kamar mereka.


"Kemana mah?". Tanya pak Pendra.


Tapi tidak dijawab oleh istrinya. Malah menutup pintu kamar sedikit kasar.


"Astaghfirullah ma... Apa mana mau melihat apa serangan jantung lagi". Ucap pak Pendra keras.


Karena tahu istrinya sudah menjauh dari pintu kamar.


Walaupun terdengar, tapi tidak ditanggapi oleh istrinya.


Malah istri pak pendra menuju kamar putrinya, marni.Dia ingin istirahat.


Walaupun selama suaminya dirawat di rumah sakit bergantian menjaganya dengan keponakan suaminya.


Tapi lelah hatinya kembali terasa saat mendengar ucapan suami nya tadi. Masih mengungkit nama Danil.


Dan dia yakin, putrinya Marni dan suaminya mendengar ucapan sang suaminya tadi.


Dan dia yakin, itulah sebabnya marni tidak jadi ikut mengantar pulang papanya tadi.


Mama marni sudah mencoba menelfon putrinya. Tapi tidak sekalipun terhubung.


'Apa nomornya ganti atau aku di blokir?'. Pikir mama marni.


Hingga makan malampun pak Pendra tidak bertemu istrinya.


"Istriku kemana?!". Tanya pak Pebdra pada pelayan rumah.


Karena hanya dia yang duduk di meja makan. Adik-adik marni sedang kuliah di luar kota. Hanya oapa dan nama marni saja yan moygbada dirumah mereka.


"Ibu sedang dikamar mbak Marni pak". Jawab pekerja rumah.


"Pangilkan. Masa aku makan sendiri saja". Ucap pak Pendra.


"Baik pak". Ucap pekerja rumah.


Maka pergilah pekerja rumah pak Pendra memanggil istri bosnya itu.


Tapi

__ADS_1


"Bilang sama bapak. Biasakan untuk makan sendiri. Karena alu tidsk akan ikut makan bersama lagi.


Bapak itu lebih memilih untuk hidup sendiri tanpa anak. Dan juga tidak akan butuh istri lagi".


Istri pak pendra berbicara keras. Agar terdengar langsung oleh suaminya.


"Tapi buk. Bapak menyuruh memanggil ibu". Ucap pekerja rumah.


"Bilang saja". Ucap istri ak pendra menutup pintu kamar putrinya.


Setelah menerima laporan dari pekerja rumah, kalau istrinya tidak mau makan makam bersama.


Akhirnya pak pendra menaiki tangga menuju kamar putrinya. Dimana istrinya sedang berkurung.


"Mah. Buka pintunya. Kita harus bicara.


Jangan seperti anak kecil.


Apa mama tidak kasihan dengan papa yang baru keluar rumah sakit". Ujar pak Pendra.


Tidak ada jawaban dari dalam. Lama pak pendra mengetok pint kamar.


Akhirnya istri pak pendra membuka pint kamar. Karena suaminya sudah melemah suaranya memanggilnya.


"Apa lagi pah yang akan kita bicarakan. Tidak ada lagi, jika paoa masih bersikukuh menyebut nama Danil.


Tidak ada gunanya lagi.


Marni pasti tidak akan mau kagi nenemui kita. Karena dia kembali tersinggung dengan sikap papa itu". Ucap istri pak Pendra.


"Mah. papa hanya ingin mengembalikan cinta narni mah. Dengan bersatunya mereka papa tidak akan merasa bersalah pada mereka". Ujar pak Pendra.


"Apa papa tidak akan merasa bersalah pada cucu papa?.


Apa papa tidak ingat kalau anak narni itu ada tiga.


Tiga orang pah, tiga cucu paa yang ajan menjadi korban keegoisan papa.


Papa bisa lihat. Marni dan Ridho selama ini baik-baik saja. Tidak ada masalah sedikitpun.


Masalahnya itu selalu berasal dari papa. Jika mereka bertengkar awal masalahnya dari papa.


Ingat ipu pah!". Ucar istri pak pendra kesal.


Mengeluarkan unek-uneknya menatap suaminya.


Dia menarik nafas pelan.


"Aoa papa tidak ingat ucapan papa kemaren. Juga waktu itu.


Ingin melihat Marni bahagia?. Ya biarkan mereka menjalani rumah tangga mereka dengan tenang. Tanpa campur tangan dari kita.

__ADS_1


Sebagai orang tua kita hanya mendo'akan agar mereka baik dan aman dalam mengarungi rumah tangga.


Bukan memecah belah. Seperti tindakan papa". Ucap istri pak Pendra.


"Tapi mah. Nama besar Danil bisa....".


"Itulah keegoisan papa.


Jika papa masih ingin karir papa terkenal dan masih diatas, ya itu kerja keras papa yang harus ditingkatkan lagi.


Tangani kasus yang baik dan tidak menjatuhkan nama papa.


Bukan mendompleng nama dari orang lain. Apalagi orang yang pernah papa hina dan papa rendahkan". Tambah istri pak Pendra.


"Tapi dulu mama juga ikut menghina Danil!". Sangah pak pendra.


"Iya. Tapi mama tidak pernah mengharapkan dia. Sekali tidak mau ya tidak.


Mau dia kaya, direktur terkenal. Atau punya perusahaan banyak. Mama juga tidak mau.


Yang mama mau itu hanya kebahagiaan marni. Rumah tangga marni yang aman.


Apalagi?". Ujar istri pak pendra.


Dia hanya diam mendengar ucapan istrinya.


Dia sadar dengan apa yang dia lakukan. Tapi dia memikirkan karir pengacaranya yang sedikit meredup.


Karena sudah beberapa kali menangami kasus belakangan ini selalu kalah. Dan jadi bahan obrolan dan ejekan di antara sesama pengacara.


"Kalau sampai marni tidak msu lagi menemui kita. Semua itu papa yang salah.


Baru saja putri kita mau menemui kita. papa malah bikin ulah lagi.


Bikin kesal saja". Omel istri pak Pendra.


"Setelah papa sedikit baikan, kita datangi mereka. Papa kangen cucu papa". Ujar oak Pendra.


"Baru ingat ingat dengan cucu?. Selama ini kita tidak oernah bertemu mereka.


Itupun karena papa. Bikin kesal anak dan menantu. Hingga mereka tidak mau membawa anaknya kerumah kita". Ucap mama Marni.


"Ya...".


"Pokoknya kalau papa masih bikin ulah. Mama pergi saja dari rumah.


Karena mama tidak dianggab sedikitpun". Ancam istri pak Pendra.


"Jangan mah. Kalau mama pergi papa dengan siapa?". Ujarnya.


"Nikmati saja hari tua papa sendiri. Mama tidak mau ikut papa lagi"..

__ADS_1


.


..


__ADS_2