Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
146


__ADS_3

"Pah. Kok papa bilang begitu lagi?. Apa papa mau marni tidak mau mengunjungi kita lagi?". Ucap istri pak pendra marah.


Saat ini mereka sedang menuju parkiran. Pak pendra di dorong oleh seorang perawat. Dan diiringi oleh istrinya.


"Mama diam saja. papa tahu, kalau tadi Danil itu ingin menemui marni. Cuma dia malu untuk mengakuinya".ucap pak pendra.


"Papa itu harus ingat umur dan penyakit. Kalau sampai masalah papa yang masih membahas Danil ajan viral lagi.


Serangan jantung papa akan lebih parah lagi.


Dan busa jadi marni tidak akan lagi mau menemui papa".ucap istri pak Pendra.


Dia langsung duduk di jok depan mobil yang menjemput mereka. Tanpa membantu suaminya untuk masuk kemobil.


"Mah. Kok dudukdi depan. Juga tidak mambantu papa masuk kemobil". Ucap pak pendra protes pada istrinya.


"Buat apa dibantu. Papa sudah sembuh kok. Buktinya masih waktu itu sikapnya". Jawab istri pak pendra santai.


Tanpa melihat pak pendra yang di papah supr dan perawat untuk memasuki mobil.


"Mama kok tega begitu sama papa. Tidak mau membantu papa". Ujarnya.


Tapi istrinya malah cuek saja. Berdiam diri duduk di jok depan Mobil.


"Kok lama sekali Marni datangnya. Pasti dia bertemu dengan Danil". Terka pak pendra.


"Tunggu saja mereka sebentar. Mungkin mereka sedang bernostalgia". Tambahnya.


Tidak ada yang menanggapi. Istrinya diam saja. Begitu juga dengan supir pak pendra.


Bahkan istrinya memandang sinis suaminya. Kesal.


Lama pak Pendra duduk menunggu di mobil. Dan sudah mulai bosan karena berada di parkiran.


"Lama juga mereka bercerita. Pasti mereka...".


"Jangan berfikiran yang tidak- tidak pa. Tidak akan pernah terjadi nostalgia-nostalgia an.


Mereka sudah punya keluarga masing-masing.


Apa papa lupa dengan ucapan papa yang kemaren dan yang tadi?. Senang melihat anak kita bahagia dengan keluarga kecilnya.


Apa papa lupa. Dengan ucapan dan perkataan papa itu papa papa sakit dan kena serangan jantung


Juga Marni marah dan tidak pernah mengunjungi kita dua tahun ini.


Apa papa ingin tidak dikunjungi marni lagi?". Ujar istri pak pendra.


Dia duduk di jok depan tanpa melihat suaminya.


"Kemaren itu hanya dilarang oleh suaminya untuk berkunjung. Karena takut marni kembali ada Danil.

__ADS_1


Dan mungkin sekarang Marni sedang berbicara dengan Danil".


"Pak. ini barang bapak dari kamar rawat tadi".


Tiba-tiba datang dua orang satpam membawa tas dan beberapa barang pak pendra.


Dan supir pak pendra memasukan semua barang kedalam bagase mobil.


"Eh. Mana putri saya?. Kenapa kalian yang membawa semua barang saya?". Tanya pak Pendra heran.


"Anak bapak dan suaminya sudah..".


"Oo pasti sedang berbicara dengan teman lamanya". Potong pak Pendra.


"Tidak pak. Mereka sudah berangkat duluan. Sudah pergi". Jawab satpam rumah sakit.


"Pergi??". Kaget pak pendra.


"Iya pak. Kami tadi disuruh mengantar saja. Dan mereka baru saja pergi saat kami berjalan kesini". jawab satpam itu.


"Tapi...".


"Terima kasih pak satpam, atas bantuannya". Ujar istri pak pendra.


Memotong ucapan pak pendra.


"Sama-sama bu. Kami permisi". Ucap satpam itu.


Pada supir suaminya, yang masih berdiri di luar mobil.


"Baik bu". Jawab supir itu.


Menghidupkan mobil. Dan keluar dari parkiran rumah sakit.


"Mah. Ridho kan tadi tidak bawa mobil. Mereka pulang pakai apa?". Tanya pak Pendra pada istrinya.


"Banyak mobil online. Atau di jemput supir Ridho". Jawab istri pak pendra ketus.


"Kan katanya mereka mau...".


"Bukan urusan mereka papa mau pulang atau tidak. Mereka pasti kecewa dengan papa.


Baru saja minta maaf malah bikin ulah lagi. Mama juga tidak akan peduli lagi sama papa". Jawab istrinya.


"Mah. papa...".


"Jangan bicara lagi. Mama sedang tidak ingin mendengar". Putus istri pak pendra.


Membuat pak Pendra terdiam.


Sementara itu Ridho dan Marni pergi dari rumah sakit menggunakan taksi online. Karena buru-buru menjauh dari papanya Marni.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?". Tanya Ridho pada istrinya.


"Maaf. Papa masih sangat keterlaluan. Maaf bang, itu diluar kemauanku.


Aku... Aku tidak bisa menerima ucapan papa tadi. Yang masih...".


"Aku paham.


Selama ini aku kesal dengan ucapan beliau. Melampiaskan marah dan kesalku padamu.


Sekarang aku tidak akan menyangkut pautkan ucapan papa dengan kamu lagi.


Karena sumua itu bukan salah kamu. Papa saja yang egois dan tidak menghargai kita. Terlebih padaku". Ujar Ridho.


Dia tahu istrinya merasa salah dan terbebani dengan sikap dan ucapan papanya.


"Kalau kamu tidak keberatan. Aku melarang kamu untuk menemui papamu.


Bukan memisahkan kamu dan orang tuamu. Hanya untuk menjaga keluarga kita.


Aku tidak mau hanya karena kesal pada mereka, kita yang tercerai berai. Aku ingin menjalani rumah tangga dengan normal. Tidak akan terpisah lagi karena kesalah pahaman". Ujar Ridho.


"Iya. Aku tidak ingin lagi terpisah. Biarlah papa berkata semaunya. Dan aku tidak akan lagi menemui nya". Jawab marni sedikit kesal.


"Sebaiknya begitu. Bukan aku melarang kamu bertemu orang tua kamu. Tapi Sikap papamu itu sangat mengecewakan". Ucap Ridho.


"Iya. Aku juga sangat kecewa". Jawab


Mereka diam sesaat.


"Mau langsung pulang?".tanya Ridho pada istrinya setelah menarik nafas pelan.


"Aku ingin kerumah saja. Kalau abang mau kekantor pergi saja dulu. biar aku sendiri pulangnya". Jawab Marni.


"Baik. antar abang ke kantor dulu. Baru kamu pulang kerumah". Ujar Ridho.


"Baik bang". Jawab marni.


Maka taksi online mengantar Ridho terlebih dahulu ke kantor. baru kemudian mengantar marni kerumah.


Ada sebuah rencana yang difikirkan oleh Ridho untuk kedepannya. Agar mereka tidak terpisah lagi.


Karena dia tahu. Istrinya itu tidak salah selama ini. Hanya papanya yang selalu mencoba menganggu rumah tangganya.


'Awas saja kalau sampai menemui kami lagi. Tidak akan pernah lagi pergi ke rumah mereka.


Dan tidak akan ada kesempatan untuk bertemu dengan istri dan anak-anakku'. gumam Ridho.


.


.

__ADS_1


__ADS_2