Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
114


__ADS_3

"Aku dapat kabar dari mama. Papa katanya akan dipindah ke ruang rawat siang ini!". Ucap marni pada ibu mertuanya.


Saat ini mereka sedang menata sarapan pagi yang sudah dibuat oleh pekerja rumah.


"Nanti mama ajak papa saat papa istirahat siang". Jawab ibu mertua.


Marni tiap pagi tidak sibuk mengurus si kembar, dan memasak. dia hanya fokus melayani suaminya.


Setelah mandi sebelum subuh, langsung sholat berjamaah dengan suaminya, dia akan keluar kamar sebentar menuju ruang keluarga untuk memberi asi si kembar.


Setelah memberi asi si kembar, dia akan membantu suaminya menyiapkan pakaian untuk pergi bekerja.


Dan si kembar akan kembali di bawa baby sitternya.


"Kamu juga kerumah sakit?!". Tanya ibu mertua.


"Iya bu. Diantar bang Ridho sore, sepulang dari kantor". Ucap marni.


Ibu mertua mengangguk.


"Sama mama dan papa saja nanti siang kerumah sakit". ucap papa mertua saat baru sampai di meja makan.


"Sama bang ridho saja pah. Nanti siang abang akan cepat pulang". Jawab Marni.


Dia sudah berjanji pada suaminya, jika mengunjungi papanya dia harus pergi dengan suaminya, agar papa marni tidak bicara asal lagi, ingin menjodohkan anak yang sudah punya suami dan anak.


"Sebaiknya memang begitu Ridho. Kamu sangat jarang mau bersilaturahmi dengan keluarga mertuamu.


Jarang berkunjung, dan jarang mau ikut bergabung di acara keluarga". Ucap pak Sultan.


"Papa kan tahu. Ak sibuk akhir- akhir ini. Bukan tidak mau". Jawab ridho.


"Papa paham kok". Jawab sang papa. Melihat putranya.


Ridho mengangguk saja. Mungkin memang papanya sudah paham, karena semalam curhat dan berceria panjang dengan papanya.


Juga menceritakan kelakuan paoa mertua yang kelewat batas.


Ridho sangat tidak suka jika papa mertuanya selalu menyinggung nama Danil. Dia merasa segala sesuatunya dibandingkan dengan danil.


'Danil sekarang gagahlah, pimpinan perusahaan besarlah, penurus keluarga kaya lah. Hingga Ridho merasa papa mertuanya itu menilai sesuatu dengan uang dan harta.


Itu di ketahui oleh papa mertua nya saat danil sering tampil mewakili perusahaan. Juga pengakuan beberapa klien yang nenakai jasa pak pendra.


Kalau Danil pimpinan sekaligus penerus keluarga Zulkarnaen, terkenal dengan banyaknya jenis usaha yang di geluti keluarga besar. Bukan hanya pengusaha lokal, tapi sudah nasional, juga merambah ke negara tetangga.

__ADS_1


Dulu waktu dia baru menikah dengan Marni, papa mertua suka membahas mantan pacar marni yang kere dan tidak punya masa depan.


Dia mengatakan kalau mantan pacar anaknya itu hanya akan menumpang hdup pada keluarganya yang terkenal sebagai pengacara ternama. Hingga mengatakan tidak selevel dengan mereka.


Tapi, semenjak mengetahui siapa Danil sebenarnya, yang awalnya dianggab akan karyawan biasa dan akan menumpang hidup dengan keluarganya. Ternyata danil keturunan pengusaha terkenal dan ternama. Membuat papa mertua jadi berubah.


Mencari kesempatan untuk dekat, berusaha menawarkan kerjasama agar memakai jasa pengacaranya dan mengatakan akan menjalin kekerabatan dengan erat.


Sungguh memuakkan untuk di dengar.


Maka Ridho melarang istrinya untuk bertemu keluarganya sendiri. Harus dia temani kalau marni ingin bertemu orang tanya.


"Mama siap-suap saja. Banti sebelum kerumah sakit papa jemput mama". Ucap pak Sultan pada istrinya.


Mereka sudah selesai makan, dan akan berangkat bekerja.


"Baik pah!". jawab istri pak sultan.


"Papa berangkat dulu!". Ucap pak sultan meninggalkan meja majan.


"Baik pah". jawab marni dan Ridho.


Mama Ridho mengiringi suaminya keluar. melepas suaminya oergi bekerja.


"Ingat ya. Kamu aku antar kerumah sakit. Jangan ikut papa dan mama". Ucal Ridho mengingatkan.


"Baik bang". Jawab marni.


Ridhopun bangkit dari duduknya. Berjalan keteras samping. Dimana putra kembarnya sedang berjemur dengan baby sitternya.


Marni mengiringi suaminya.


Ridho bergantian mengendong putra kembarnya, sambil mencium pipi dan wajah putranya. Hingga putranya mengeluarkan suara lucunya dan tertawa.


Sikembar belum berumur enam bulan, sudah cepat tumbuh kembangnya.


"Cepat besar ya anak papa. papa pergi bekerja dulu ta". Ucap Ridho.


Dia selalu berpamitan dengan putranya.


.


"Abang pukul berapa lihat proyeknya?!". tanya fauziah.


"Pukul sepuluh. Nanti kita pergi kesana. Untuk melihatnya". Jawab Danil.

__ADS_1


Mereka saat ini sedang sarapan di villa. Padahal belum setengah tujuh pagi. Dan Dilan putra mereka masih belum keluar dari kamarnya. Mungkin saja dilan mengulang tidur setelah sholat subuh tadi.


Kan suhu puncak dingin, cocok untuk kembali tidur. Apalagi embun pagi di luar villa masih tebal.


Fauziah mengangguk paham, sambil menyuap makanan. Dia sangat lapar. Mungkin di puncak suhunya dingin. makanya pagi sudah lapar.


Mereka duduk berdampingan, bisa dikatakan berdekatan, karena Danil nerangkul istrinya saat sarapan.


Tangan kanan menyuap, tangan kiri merangkul bahu istrinya. Alasannya dia kedinginan.


Mereka ditinggal berdua saja di ruang makan. Semua pekerja kembali kedapur, ada yang memasak, ada juga yang mem bersihkan halaman villa.


"Tambah supnya sayang. Biar tubuhnya hangat dan staminanya pulih kembali". Ucap Danil.


Dia menambahkan nasi dan suwiran ayam kepiring istrinya. Juga soun dan kuah sup.


"Kebanyakan bang". Ucap Fauziah.


"Tidak apa, kamu harus banyak makan. Kan kita bekerja sambil liburan.


Mudah-mudahan sepulang dari sini, kita dapat bonus adik Dylan di perut kamu!". Ucap Danil mengelus perut rata istrinya.


"Ish abang.. Malu". Bisik fauziah.


"Kenapa malu?. Mereka mengerti kok". Jawab Danil mengecup pucuk kepala istrinya yang terbungkus jilbab instan jumbo.


"Masih basah rambutnya?!". Ucap danil tersenyum.


Dia menyelipkan tangannya ke balik jilbab besar yang dipakai istrinya. Dan mengelus penggung istrinya yang lembab oleh rambut basah istrinya.


"Ayo lekas habiskan makanannya. Biar abang bantu keringkan rambutmu. Nanti kamu kedinginan memakai baju lembab". Ucap Danil.


Fauziah hanya manyun menyuap sarapan sup ayam.


Danil hanya tertawa melihat istrinya cemberut, karena semalaman dia buat bergadang dan lelah.


Hingga tadi pagi saat mandi dan sholat subuh. Danil mengendong istrinya, karena tidak kuat berjalan ke kamar mandi.


Untung saat selesai sholat subuh, danil memijiti kaki dan pinggang istrinya. Hingga Fauziah bisa berjalan dengan pelan menuruni tangga menuju meja makan. Walau dibimbing Danil dengan mesra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2