
Danil dan fauziah sampai di rumah mereka pukul setengan sepuluh.
Dan semua belanjaan fauziah tadi sudah berada di rumah mereka yang berada di gedung kantor.
"Apa abang sudah ganti uang mereka?!". tanya fauziah saat memeriksa semua belanjaan.
"Sudah. tadi abang pesan sama mario untuk mentransfer ke rekening mereka!". jawab Danil.
Fauziah mengangguk saja tabd paham.
"Sayang, beres-beresnya besok saja. kan tidak ada yang harus masuk kulkas.
Sudah malam. Sebaiknya kamu bersih-bersih dan istirahat. Besok saja periksa, sekalian mempak barang". ucap danil menarik istrinya yang sedang memeriksa barang menuju kamar.
Setelah bersih-bersih mereka tiduran.
Danil memijit kaki istrinya, yang langsung tertidur. mungkin karena capek jalan-jalan sore, hingga malam.
.
Marni yang di tanya papanya hanya diam. dia tidak mau menceritakan perilaku ridho, suaminya.
Pertama kalau papanya tahu, tentu akan marah besar dan kedua, dia tifak mau membuka aib suaminya. karena setiap suaminya memberi nafkah batin dia selalu menikmatinya.
"Kami awalnya menunda hamil pa". jawab Marni asal.
Mama dan papa marni hanya menganguk paham.
"Terus waktu kemaren bertemu si Danil kebapa ada foto kalian berbicara? kapan kalian bertemu?". tanya pak pendra.
"Hhmm... itu. Aku cemburu dan sakit hati. tiga kali bertemu dan ketiga kali malam itu. dia sangat mesra dan memanjakan istrinya.
Juga saat periksa kehamilan di klinik, aku dan bang ridho juga pernah bertemu mereka.
Aku tahu istrinya hamil, tapi dia seperti sengaja membuatku cemburu.
Awalnya aku mengira kalau bang danil memanas-manasi aku, karena di tingggal nikah!". ucap marni.
__ADS_1
"Apa selama kamu menikah, kalian pernah bertemu?!". tanya pak pendra.
"Tidak pernah pah. Dia seperti di telan bumi. menghilang!.
Dua atau tiga bulan aku siap menikah, aku pernah mencarinya. di kantornya, tapi tidak bertemu.
Sebelumnya juga sudah mencari ke kantornya. dan kata orang di sana dia sudah pindah. Makanya aku mencari kerumahnya dan di sana malah aku di perkosa". jawab marni.
"Dulu danil bekerja di AZ Putra Utama kan?!". tanya pak pendra pada marni.
"Iya, waktu itu dia bekerja di AZ sebagai staf biasa di bagian keuangan. Perusahaan AZ itu punya omnya bang danil. Om tarmizi kalau tidak salah namanya.
Aku dulu pernah beberapa kali bertemu dengan om tarmizi itu. Waktu aku bertanya kesana, bagian resepsionis AZ bilang bang danil sudah pindah.
bisa saja dia pulang kampung membantu usaha toko ayahnya. Dan kebetulan saat bertemu dia juga sedang ada kerjaan di kota ini!.
Malah waktu terakhir bertemu, saat periksa di temani bang Ridho. mereka jalan kaki ke klinik!". tambah marni.
"Hhmm.. berarti kalau dia memang tidak di kota ini. kamu bisa dikatakan aman. sebab rahasia kamu tidak akan bocor!". ucap pak pendra.
"Mudah-mudahan!". jawab marni
"Sebaiknya kamu istirahat!". ucap pak pendra bersiap untuk keluar kamar marni.
"Iya pah!". jawab marni.
Pak pendra berjalan keluar kamar anaknya bersama istrinya.
Tiba-tiba dia ingat sesuatu
"Oh ya. tadi papa bertemu dengan Danil sepulang rapat di mall. dia bersama seirang wanita hamil besar. dia bilang itu istrinya.
Kamu tahu?. Anak buah teman papa yang ada bersama papa tadi bilang, kalau dia itu pimpinan perusahaan AZ.
Dan dia bilang namanya bukan Danil. tapi.... kalau tidak salah dia bilang Af, atau Afda.
Benar-benar lucu dia. malah dia bersikukuh bilang danil pimpinan AZ, saat papa bilang dia mabuk". ucap pak pendra tertawa.
__ADS_1
"Afda.... Af....". gumam marni memikirkan sesuatu.
"Pah... aku ingat, danil itu panggilan orang terdekat dan teman yang pernah dekat dengannya.
Dari dulu dia memang di panggil Afda. dosen dan teman lain jurusan juga memanggil Afda!!". ucap Marni.
"Yang benar kamu?!!". ucap pak pendra kaget.
"Iya pah. Semenjak kenal dengannya, aku memang memanggil Danil. bahkan di grup angkatan pun tidak banyak yang memanggil afda. jadi lupa kalau danil pangilan umumnya adalah Afda". jelas marni.
"Apa benar dia pimpinan dari perusahaan AZ putra Utama?!". tanya pak pendra.
"Kalau itu kurang tahu pah. tapi bisa jadi, kan perusahaan paman nya. mungkin dia di suruh pamannya itu memimpin.
karena setahu aku om tarmizi juga punya perusahaan kontraktor, dan juga punya sebuah hotel besar.
Aku tidak tahu nama hotelnya. hotel itu kabarnya di kelola oleh sepupunya pak tarmizi. yang bekerja sama dengan temannya yang mengerti tentang bisnis hotel. itu setahuku dulu". jelas marni.
Pak pendra mengangukan kepala paham. 'Akan aku selidiki!' gumam pak pendra.
"Siapa nama omnya si Danil itu?!". tanya pak pendra pada marni.
"Om Tarmizi!". ucap marni.
"Oh... kamu istirahatlah. jangan banyak fikiran. dan jangan sampai suamimu tahu, kalau kamu pernah di perkosa. bisa bermasalah nanti kita kedepannya". ucap pak pendra pada marni berlalu dari kamar marni.
Dan kembali kekamarnya diiringi oleh istrinya.
"Coba kamu selidiki siapa pimpinan AZ. apa benar si danil itu yang memimpin!!. dan siapa pak tarmizi yang sebelumnya memimpin AZ". ucap pak pendra menelfon asistennya.
"Bagaimana kalau benar dia pimpinan perusahaan itu pah?!. apa yang akan papah lakukan!". tanya mama marni.
"Tidak mungkin dia yang jadi pimpinan. paling cuma mengantikan omnya itu sementara.
Mana ada omnya itu mau saja memberikan perusahaan untuk keponakannya". jawab pak pendra.
.
__ADS_1
.
.