
"Sudah hampir seminggu kamu tidak mampir bang Ridho sayang!". ucap Roby, teman main pedang- pedangan ridho.
Ya.. Ridho setelah mengantar istrinya kerumah mertuanya, dia ternyata mendatangi apartemen teman g.. nya.
Dia menyambut kedatangan ridho di apartemennya dengan senang hati. Bahkan dengan pelukan dan ciuman mesra.
Mereka berciuman mulai dari menutup pintu sampai kesofa. hingga......
Mereka ngos-ngosan terlantang di atas kasur dengan tubuh tanpa penutup, alias b....
Entah berapa lama mereka berbuat dosa. Mulai dari ciuman di sambut di depan pintu, sofa ruang tengah, hingga berakhir di ranjang.
Membuat seprai yang tadinya rapi menjadi berantakan tak berbentuk. Pakaian mereka pun berceceran entah dimana.
"Hah... hah.... Bang aku diminta orang tuaku untuk menikah. hah... ". ucap Roby di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu.
"Hah..hah... . sebaiknya kamu menikah hah.. agar keluarga kamu tenang. hah...hahh
Kita masih bisa melanjutkan hubungan ini...hah... secara diam- diam..hh". jawab ridho.
"Apa abang yakin?!". tanya roby menghadap ke arah ridho yang tidur telentang.
Memainkan dada bidang ridho dengan jarinya.
"Iya. kita harus menyembunyikan perilaku kita di depan publik. Apalagi kamu, usia kamu hampir tiga puluh tahun.
Masih bisa untuk membina rumah tangga. walaupun kita penyuka sesama. tapi keturunan juga penting untuk penerus kita". ucap ridho.
"Berarti kita akan jarang bertemu, pasti aku akan kangen!". ucap robi mengelus pusaka ridho yang masih terbangun.
Sshhhh.. erang ridho saat roby meremas pelan .... nya. Roby membuka pengaman yang tadi dipakaikannya pada punya ridho.
Ya.. ridho selalu memakai pengaman semenjak dia tahu istrinya hamil. Karena dia takut akan membawa virus ke istrinya yang sedang hamil.
Ridho jadi percaya diri untuk memberi nafkah batin pada istrinya yang sedang hamil. bahkan dia jadi bernafsu saat melihat perut buncit istrinya itu.
Ridho dan roby sudah sepakat dengan itu. Robypun tidak keberatan ridho memakai pengaman karena alasan kesehatan.
Meski roby pernah protes, katanya kurang enak bila tidak adanya semprotan yang....
__ADS_1
"Pernikahan tidak akan mengubah perasaan kita. Contohnya aku, selain menikmati hubungan kita. aku juga bisa membuat istriku hamil.
Jadi kamu juga harus punya keturunan. untuk penerus diri di masa depan!.
Dan kita masih bisa bertemu kapan saja. karena aku masih suka pedang, walau juga menikmati punya istriku". ucap ridho.
"Hmm baik bang. akan aku pertimbangkan. tapi abang janji. kita harus terus bersama!". ucap roby manja sambil memeluk tubuh polos ridho.
"Iya aku janji. kamu adalah orang pertama yang aku cinta. walau aku bukan pertama kali melayani laki- laki. karena dulu aku korban". ucap ridho.
Setelah berbincang sejenak, dan makan di tengah malam. juga sempat bersih-bersih.
"Bang!!". ucap Roby agresif.
Hingga mereka kembali......
Sementara Ridho main pedang- pedangan, marni di datangi orang tuanya kekamar.
"Mah, sebaiknya kita bicara di kamar marni, mungkin dia akan capek turun naik tangga!". usul pak pendra pada istrinya.
"Iya pah, kita kekamar marni saja!". jawab mama marni.
Maka mereka keluar kamar dan menuju lantai atas, tempat kamar marni berada.
"Belum ma!". jawab marni bangun dari tidurannya.
Jam memang sudah menunjukan pukul sepuluh kurang. Tapi papa marni ingin banyak bertanya kepada anaknya ini.
Mereka duduk di kasur, dan papa marni duduk di kursi yang ditarik dekat ke kasur.
"Papa ingin bertanya, tentang perkosaan itu, kenapa sampai di perkosa dan siapa yang memperkosa kamu.
Apa mungkin orangnya si danil. hingga kamu tidak lagi mencarinya!. dan kenapa kamu bisa hamil. padahal cuma sekali kamu di perkosa.
Sedangkan kamu sudah dua tahun menikah, mungkin sudah ratusan kali kamu melayani suami kamu. Apa yang membuat kamu yakin itu anak hasil perkosaan!". tanya papa marni panjang tanpa jeda. drngan suara agak di kecilkan.
"Pah, kok pertanyaannya panjang. bingung marni menjawabnya". ucap mama marni.
"Biar marni menceritakan semua!". jawab pak pendra.
__ADS_1
"Pah. seperti tadi kukatakan. saat bertemu bang danil, aku tidak percaya kalau dia sudah menikah. karena tidak ada berita di grup kuliah. makanya aku kerumah yang pernah dia tempati.
Dan ternyata dia sudah pindah. karena aku tidak percaya pada keamanan komplek, aku di ajak salah satu tetangga dalam komplek, untuk memastikan kalau danil itu benar sudah pindah.
Dan, dirumah bekas tinggal danil itu aku di perkosa. Bukan hanya satu orang pah, tapi tiga orang!". cerita marni pelan sambil berurai air mata.
mama marni mengelus bahu putrinya.
"Aku digilir. bukan hanya satu kali tiap orang.
Aku tidak bisa menghitungnya, berapa kali aku di gilir mereka.
Yang aku tahu, aku keluar dari perumahan itu sudah lewat pukul sepuluh malam.
Padahal aku masuk ke komplek belum pukul dua. karena aku baru selesai makan siang di kantor waktu itu. langsung pergi kesana.
Aku tidak tahu, benih siapa yang aku kandung. sebab mereka yang mengilir aku semua melepas benih mereka di dalam". ucap marni berurai air mata.
Semua terdiam mendengar cerita marni.
"Apa kamu mengingat wajah mereka?!". tanya papa marni setelah terdiam beberapa saat.
"aku masih terbayang wajah mereka!". gumam marni.
"Apakah mereka ada yang kamu kenal?!".
Marni menggeleng.
"Makanya aku takut untuk keluar, jika aku bertemu di tempat umum, aku takut kalau keluarga bang ridho tahu. pasti aku akan mereka hujat. bahkan dipermalukan atau bisa jadi di racuni!". ucap marni.
"Ya. seperti pesan ayah kemaren. kamu kalau bisa jangan berada di tempat umum. sampai lahiran.
Demi keamanan keluarga kita, kamu patuh saja kepada ridho. mudah-mudahan nanti jika lahir, wajahnya tidak mirip salah satu si pemerkosa". ucap pak pendra.
Marni dan mamanya mengangguk, tanda setuju.
"Terus, kenapa kamu tidak hamil setelah dua tahun menikah?!. aoa ridho tidak subur. dan tidak bida memuaskan kamu?!". tanya pak pendra vulgar.
.
__ADS_1
.
.