
"Ada apa pa?!". tanya mama marni pada suaminya.
"Tidak ada apa-apa!". ucapnya pelan.
"Terus. kok langsung berenti konfrensi persnya??". heran mama marni.
"Kita bicara dirumah nanti. kita istirahat dulu. papa capek, mungkin karena semalam kurang tidur memikirkan marni". ucap papa marni masih terus berjalan menuju restoran hotel.
Tiba-tiba ponsel papa marni berbunyi.
"Sebentar, aku mau menerima telfon dari klien! lanjut saja kedalam". ucapnya pada Istrinya, besan dan menantunya.
Lalu berjalan kearah taman samping restoran yang berada di belakang loby.
"Hallo, ada apa?!". ucapnya.
Tidak berapa lama setelah menerima telfon, papa marni menuju restoran, tempat semua berkumpul.
Ada besannya yang bernama Sultan Gemilang Aaa(marganya) beserta istrinya. Alfa Ridho Gemilang Aaa(marga) menantu, suami marni.
Nama papa marni, Pendra surya Bb(marganya) dan istrinya.
Juga ada dua polisi yang ikut tadi.
Sedangkan para bodyguard berada tidak jauh dari mereka.
"Oh ya pak Sultan. Aku dapat telfon dari klienku untuk konsultasi. Aku lupa kalau hari ini ada janji dengannya.
Bisakah bapak sultan atau nak Ridho membatalkan konfrensi pers ini.
Atau bapak polisi memberi keterangan pada wartawan kalau konfrensi persnya ditunda dalam waktu dekat". pinta pak pendra, papa marni pada besannya.
"Hhm.. bagaimana kalau marni saja yang melanjutkan konfrensi persnya pah?!. kan marni yang jadi korban". usul Ridho papa mertuanya.
"Kalau bisa jangan, nanti marni tertekan dengan pertanyaan wartawan yang kadang menyudutkan.
Kasihan dengan kehamilannya kalau marni tersudut oleh pertanyaan wartawan ". jawab Pak Pendra mengelak.
"Iya Ridho. kasihan. Nanti istrimu kelelahan". ucap pak sultan.
"Kalau bapak polisi tidak keberatan. Kita minta bapak bicara nanti kalau kami nanti akan segera mengabarkan kapan waktu yang tepat". pinta pak pendra mengusulkan.
"Hhmm.. sebaiknya Ridho yang mengkonfirmasi ditemani pak polisi bagaimana?!". usul pak sultan papa ridho.
"Aku tidak keberatan pa!. demi nama baik keluarga. Aku akan maju". ucap Ridho.
"Jangan dulu nak Ridho, pak sultan!!. kalau keluarga yang kedepan untuk konfirmasi, akan banyak pertanyaan nantinya.
__ADS_1
Nak Ridho akan diberi pertanyaan juga tentang istrinya kan juga bisa tersudut nanti. Tahulah para wartawan kan pertanyaan nya sering bikin kesal.
Sebaiknya pak polisi saja!!". ucap pak pendra bersikeras.
"Oo.. baiklah. Aku minta pada bapak nanti untuk membantu ya pak!. agar tidak terjadi keributan didepan.
Bilang saja kami sedang rapat keluarga". ucap pak sultan menengahi.
"Baik pak. kami akan konfirmasi nanti". jawab polisi itu.
"Sebaiknya kita makan dulu. selepas makan baru kedepan". ucap pak sultan.
"Bapak dan pak polisi saja ya ng makan. Aku mau segera kekantor. karena klienku sudah menunggu. Ayo ma?!". ajak pak pendra kepada istrinya.
"Sebaiknya makan dulu pak pendra. kan tidak lama untuk makan!". ucap pak sultan.
"Tidak usah. kami nanti saja makan nya. Sehabis bertemu kienku.
oh ya marni, sebaiknya kamu istirahat saja di apartemen. jangan sering keluar untuk beraktifitas biar tidak kecapek an.
Kalau kamu bosan di apartemen kamu minta izin nak Ridho untuk tinggal dirumah sesekali". ucap pak pendra pada marni.
"Iya Ridho. kamu izinkanlah sesekali istrimu menginap di tempat mama!. Selalu menginap di apartemen". tambah mama Ridho, ibu mertua marni.
"Sebaiknya sekarang Marni tinggal di rumah saja. apalagi sedang hamil muda. pasti sedang malas untuk beraktifitas.
"Boleh juga, Ibu hamil pasti ingin di temani, berintegrasi atau sekedar bercerita. agar tidak bosan". tambah mama mertua marni.
"Hmm...kami bicarakan dulu nanti pah, mah. nanti kami beritahu". jawab ridho.
"Senyaman kalian saja. kami ikut saja yang terbaik buat kalian". ucap mama marni, tidak mau mereka tersinggung.
Semua setuju dengan ucapan ridho. semua kan keinginan mereka
"Aku permisi dulu ya pak sultan, bu sultan. sudah ditunggu klien, tidak enak lama mereka menunggu". ucap pak pendra.
"Ya.. ya.. silahkan pak pendra". ucap pak sultan besannya.
Pak sultan berjalan kearah lif untuk menuju basemant hotel, tempat parkir mobil.
Dia berjalan tergesa menuju mobilnya parkir, sehingga istrinya terbirit-birit berjalan menyeimbangi jalan suaminya.
"Pah... kenapa jalannya buru-buru?!. mama susah nih jalannya!!". ucap istri pak pendra yang bernama Nora.
"Mamah lelet jalannya. aku buru-buru!. cepat sedikit jalannya!". jawab pak pendra pada istrinya.
"Apa papa tidak lihat mama pakai sepatu tinggi?!. kalau mama jatuh papa sanggub membopong mama!!". teriaknya.
__ADS_1
Hhffff....
Pak Pendta menarik nafas dan menghembuskan kasar. Sambil berhenti mununggu istrinya yang tertinggal agak jauh. beberapa mobil.
Dan membantu membukakan pintu mobil untuk istrinya masuk dan duduk. Dan dia menuju jok kemudi.
Sebelum berjalan pak pendra mengetikan sesuatu di ponselnya. lalu menghidupkan mobil untuk pergi.
Mereka keluar dari parkiran hotel. Terlihat masih banyak para wartawan berdiri di depan hotel, bahkan mungkin diloby hotel juga ramai. Menunggu konfrensi pers yang di janjikan tadi.
"Mah.. kabarkan pada marni supaya datang kerumah pukul dua. Ada yang mau papa bicarakan. tapi bilang datang sendiri saja. tanpa di dampingi Ridho". perintah pak pendra pada istrinya.
"Kenapa tidak di dampingi ridho pah. kan mereka selalu datang berdua jika berkunjung.
Tidak enak kalau melarang mereka datang berdua". ucap bu Nora sambil mengambil ponselnya dari tas.
"Bilang saja. Kan marni juga datang sendiri tadi pakai mobil!". ucap pak pendra.
"Tapi pah....".
"Bilang saja. jangan banyak tanya!!". teriak pak pendra.
"Pah?!. kok mama di bentak?!". ucap bu nora marah.
hhfff...
Pak pendra menepikan mobilnya di dekat sebuah toko.
"Kamu dengar. dan jangan menyela perkataan ku saat bicara". ucapnya.
"Kenapa?!".
"Pokoknya diam. sampai aku selesai bicara. karena aku tidak mau bicara dua kali dengan emosi. jelas". ucapnya tegas menatap istrinya.
Bu nora mengangguk.
hhfff
"Marni tidak hamil anak Ridho..".
Bu nora ingin bicara. tapi pak pendra meletakan jari dibibirnya agar bu nora diam.
.
.
.
__ADS_1