Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
155


__ADS_3

"Tumben papa ingat anak?. Biasanya tidak mau datang kesana". Ujar istri pak pendra.


"Ingin lihat Marni saja mah. Semenjak dia melahirkan anak keduanya dua tahun yang lalu, kita tidak pernah mengunjunginya di rumah mertuanya.


Padahal setiap papa masuk rumah sakit, kedua mertuanya selalu datang membezuk papa.


Papa merasa malu mah. Pak Sultan dan istrinya berlaku baik pada kita.


Tapi apa anak kita juga di perlaku kan baik juga di sana oleh mereka Papa ingin lihat mah". Ujar pak Pendra.


"Kenapa ingatnya sekarang pah?. Waktu itu mama ingatkan untuk melihat putri kita yang baru melahirkan, papa malah tudak mau.


Bahkan papa masih pada niat dan pendirian papa. Yang selalu menyebut nama Danil. Juga waktu keluar dari rumah sakit waktu itu.


Papa itu tidak menghargai menantu kita yang sudah....".


"Iya.. Iya.. Papa salah.


Sekarang papa mau bertemu mereka. Mau minta maaf dan akan menerima semua.


Papa juga sudah lelah ma, berkonflik terus anak menantu". Jawab pak Pendra.


Istri pak Pendra sangat senang mendengarnya. Dengan ucapan suaminya tadi, dia akan bisa menemui cucu mereka Sesering mungkin. yang sudah dua tahun tidak dia kunjungi.


Padahal masih satu kota. Tidak bertemu seumur putri kecil Marni anaknya. dua tahun.


Pak Pendra pov


Kulihat senyum istriku saat aku bilang ingin mengunjungi putri kami.


Dua tahun kami tidak mengunjugi putri kami itu. Yang aku ingat semenjak dia melahirkan putrinya.


Aku yang kesal. semenjak aku tahu dia hamil anak kedua, aku sedikit menjauh. Karena niatku untuk mengembalikannya pada cintanya yang terhalang oleh restu kami.


Aku melarang istriku untuk sering melihatnya. Hingga anakku itu melahirkan. Aku baru menemui, hanya dirumah sakit.


Aku sudah membuat rencana. Agar aku tidak merasa bersalah pada mereka.


Akan aku buat dia di tinggalkan suaminya. Agar bisa kembali pada cintanya.


Tapi. Hampir dua tahun ini, penyakitku sering kambuh. Agak sibuk sedikit langsung drop.


Menangani kasus pun aku sering serangan jantung. Hingga aku sedikit melupakan niatku itu.


Juga tidak pernah menemui putriku.


Kemaren aku sakit, menantuku datang membezuk. Selama dua tahun ini dia tidak pernah datang.

__ADS_1


Walau kedua orang tuanya datang. Tapi dia dan putriku tidak pernah.


Beberapa hari setelah putriku datang, aku merasa sehat. Putriku terlihat bahagia. Selalu ber bimbingan tangan dengan suamiya saat datang dan pergi.


Hatiku kembali goyah saat bertemu Danil. Mantan pacar putri ku marni.


Hingga ucapanku terlontar.


'Marni ada di dalam, temuilah. Kamu pasti ingin bertemu marni'


Entah karena ucapan agar Danil menemui putriku yang ada di ruang rawat. Marni dan suaminya tidak mengantarku pulang kerumah.


Bahkan sudah lebih seminggu aku dirumah juga tidak ada mereka berkunjung.


Aku yang mulai sibuk dikantor, lupa dengan tidak pernah datangnya putriku.


Ketika aku bertemu dengan Danil di sebuah pesta. disana terlihat Danil seperti tamu spesial.


Disanalah aku merasa tersentil dengan ucapan Danil.


Mengatakan hal yang sering aku lakukan. Bisa jadi suami dan mertua putriku tersinggung dengan ucapan dan perlakuanku selama ini.


Sepulang dari pesta itu. Aku kepikiran putriku. Apa dia diperlakukan baik oleh keluarga suaminya.


Maka malamnya aku mengajak istriku untuk mengunjungi rumah besanku. Rumah dimana selama ini putriku dan keluarga kecilnya tinggal.


Sambutan besanku sangat baik, tidak ada wajah marah atau kesal. Masih berbicara dengan ceria.


pak Pendra pov end.


.


"Kenapa marni tidak bilang kalau dia sekarang tinggal diluar kota mah?". Tanyaku pada istriku.


Saat ini pak Pendra dan istrinya sedang berada di atas mobil, pulang dari rumah besannya.


"Semenjak Marni melahirkan dan kita tidak pernah mengunjunginya. dia sesekali menelfon mama. Tapi tidak pernah bilang kalau sudah diluar kota". Ujar istri pak pendra.


Ya. Tadi pak sultan bilang kalau Ridho ditugaskan di cabang provinsi lain untuk bekerja.


"Kenapa tidak mengabarkan pada kita mah. Kalau mereka sudah pindah?". jawab pak Pendra kesal.


Istri pak Pendra menarik nafas pelan. Juga menghembuskannya pelan.


"Pah. Kita sepertinya harus mem buka mata dan telinga.


Selama ini kita sudah terlalu egois pada putri kita. Marni. Dia kita pusahkan dari pacarnya, yang bahkan dulu kita restui mereka untuk tunangan.

__ADS_1


Tapi kita dengan egois dan menutup mata memutuskan sepihak pertunangam anak kita. Dan menikahkannya paksa.


Sekarang. Setelah anak dan menantu kita sudah bahagia, paoa malah menganggu rumah tangganya.


Memisahkan mereka. Apa papa lupa dengan cucu kita pah?. tiga orang cucu kita pah!.


Apa kita tega memisahkan mereka?.


Mereka tidak salah pah. Yang salah itu kita.


Kita yang memaksa Marni untuk menikah. Dan sekarang dia sudah bahagia dengan keluarganya.


Do'a kan saja mereka selalu bersama dalam keluarga kecil mereka". Ujar istri pak pendra.


Pak Pendra mendengar penuturan istrinya. yang intinya hampir sama dengan yang diucapkan Danil kemaren.


Walau ucapan Danil kemaren sedikit menyentil hati dan menyinggung perasaan pak Pendra.


"Benar mah.


Selama ini papa yang terlalu egois. Memaksa semua keinginan papa tanpa memperdulikan perasaan anak kita.


Dia tidak salah. Dia menerima saja semua yang papa ucapkan.


Mungkin selama ini hanya di pendamnya sendiri.


Papa ingat, waktu dia di perkosa dia tidak pernah menceritakannya pada kita.


Mungkin itu juga dia tidak mengatakan kepindahannya ke luar kota kepada kita". Ujar pak pendra.


"Marni ada menelfon mama sekitar beberapa hari papa keluar rumah sakit.


Dia bilang akan jarang menemui kita. Katanya dia sibuk mengurus putranya yang akan masuk sekolah.


Mama waktu itu iya kan saja. Tidak tahu kalau dia sudsh bulan di kota ini". Ujar istri pak Pendra.


Pak Pendra mengangguk paham. Mungkin putrinya mulai menjauh supaya tidak terjadi perselisihan dan beda pendapat lagi.


"Biarlah mah. Mungkin selama ini papa banyak salah pada mereka. Dan terlalu egois dan memaksa pada Marni.


Kalau Marni menelfon mama, sampaikan maaf papa padanya, dan kapan-kapan kita akan mengunjungi mereka.


Bilang padanya, kalau dia tidak salah. Papa yang selama ini ternyata salah.


Salah papa. sebagai orang tua tidak memberi kesempatan untuknya menjalani semua sesuai keinginannya.


Papa juga akan minta maaf pada Danil dan keluarganya. Agar papa bisa tenang dihari tua papa". Ujar pak Pendra.

__ADS_1


.


.


__ADS_2