
"Ha... Ha... Ha.....
Masih dikejar ceritanya?". Ucap mario.
Saat Danil menceritakan pertemuannya dengan pak pendra Barusan.
Danil tudak jadi keliling rumah sakit untuk jalan sambil melihat- lihat.
Dia kembali masuk keruang kerjanya. Karena malas bertemu pak Pendra tadi.
"Aku dan anak menantunya sudah menutup kesalah pahaman. Eh si bapak masih belum mau menyerah". Ucap Danil.
"Ya namanya juga usaha. Pasti akan di kejar teruslah". Jawab Mario.
Danil hanya diam. Gerah untuk membahas yang tidak penting.
"Harusnya kamu itu langsung bilang padanya kalau kamu tidak berminat dengan janda. Biar dia menyerah mengejar kamu.
Atau kamu bilang saja istrimu lebih cantik dari putrinya. Biar dia langsung down". ucap Mario.
"Maunya sih begitu. Tapi aku kasihan juga.
Bagaimana kalau dia serangan jantung saat mendengar ucapan ku yang terdengar sadis.
kalau sampai berhenti jantungnya, aku pasti akan merasa bersalah". Jawab Danil.
"Ya terserah lah. Yang penting jangan sampai terjadi lagi kesalah pahaman antara kalian lagi.
Tentang orang tua itu biarkan saja. Mungkin dia sedang butuh perhatian dan pamor untuk mengangkat namanya lagi". Ujar Mario.
"Iya". Jawab Danil duduk santai di kursi kebesarannya.
Sementara Mario terus memeriksa berkas yang ada di delannya dan mengerjakan pekerjaannya yang tertinggal tadi.
Danil membuka kembali berkas yang tadi sudah ditanda tangani.
"Selesai". Ucap Mario.
Dia memasukan semua berkas tadi kedalam tas kerjanya. Dan menelfon seseorang.
Ternyata dia memanggil sang wakil direktur yang tadi menemani mereka. Tapi karena ada pekerjaan lain, dia pergi krruangannya.
__ADS_1
"Semua berkas ini sudah di periksa dan di tanda tangani Danil. Laporan keuangan juga sangat memuaskan". Ucap Mario.
"Iya. Aku suka cara kerja kamu dan tim yang ada di rumah sakit ini. kedepannya aku yakin akan lebih baik lagi". Ucap danil pada wakil direktur.
Dokter yang menjabat sebagai wakil direktur dan juga sepupu Danil.
"Terima kasih bang.
Mengenai untuk merekrut dokter itu bagaimana?". Tanya nya.
"Kita rekrut dokter yang baru tamat dan berpengalaman. Aku rasa yang kebih muda lebih teliti. Karena ingin nenunjukan ilmu dan kemampuan yang baru di raih.
Dan juga kan dokter senior masih bisa membimbing". Jawab Danil.
"Betul". Jawab mario.
"Kami pergi dulu. Kalau ada yang dibutuhkan kabari saja. Kami akan datang.
Aku percaya kemampuan kamu". Tambah Mario.
"Terima kasih.
Oh iya. Aku mau usul.
Dan mereka kita bagi saja nantinya". Ucap Sang wakil direktur.
"Setuju. Dan di pengumunan rekrut dokter dan tenaga kesehatan di tulis untuk rumah sakit sana juga.
Agar mereka bisa menyiapkan diri". Ujar Danil.
"Boleh juga". Ucap mario.
Mereka bersiap untuk pulang, dan keluar dari ruang direktur utama rumah sakit ini.
Di lepas sang wakil di depan ruang direktur saja. Dan Danil dan Mario berjalan menuju basement rumah sakit. Dimana mobil mereka parkir.
"Kalau kamu tidak sengaja bertemu dengan orang tua mantanmu itu.
Tawarkan saja dia. Jika ingin punya nama besar. Bilang nenek dari perusahaan Lautan Biru butuh suami.
Dan pasti akan cepat terkenal dia itu". Ujar Mario saat mereka sudah berada di atas mobil.
__ADS_1
Dan keluar dari parkiran rumah sakit.
"Mudah-mudahan tidak akan pernah bertemu". Ujar Danil.
"Jangan begitu. Kita masih satu kota. Pasti akan bertemu kapan saja tanpa diduga.
Buktinya saja kamu bisa bertemu dengan Marni di bukittinggi. Kan pertemuan tidak sengaja bisa terjadi.
Harus siap sedikit tega berbicara. Jangan seperti biasa, bertemu hanya diam tanpa mau mem balas ocehannya.
Sesekali balas secara berseloroh, agar tidak asal bicara lagi". Ujar Mario.
"Ok. Aku akan bersikap tegas dan sedikit sadis jika bertemu". Jawab Danil.
"ok.
Kamu langsung kuantar pulang saja. Atau ada yang mau di beli". Ujar Mario.
"Langsung saja. Aku ingin cepat sampai dirumah". Ucap Danil.
"Bilang saja kangen istri. Ingin eham...". Tebak Mario.
"Iya lah. Aku sudah puasa empat hari. Karena waktu selesai acara pesta Nabila di kampung.
Kami sama-sama kecapekan, karena sering tidur larut". Jawab Danil.
"Jujur amat Niel.. Ha.. Ha..". Ucap Mario.
"Biar kamu cepat bawa mobilnya. kamu kan tahu rasanya puasa". Jawab Danil.
"Ok. Aku akan cepat membawa mobilnya. Tapi jangan salahkan aku jika kita terjebak macet". Ujar Mario.
"Itu sih keadaan kota besar. Tifak bisa dipungkiri lagi". jawab Danil.
"Ha.. Ha... Ha..".
Tawa Mario pecah.
.
.
__ADS_1
.