
"Selamat siang. Seperti yang semua tahu, rapat rutin kita akan membicarakan hal yang dirasa perlu.
Juga menerima usulan atau masukan dari rekan semua untuk kemajuan rumah sakit ini". Ucap mario membuka rapat rutin bulanan.
Danil selaku pimpinan rumah sakit memimpin rapat dengan tenang. Dan rapat berjalan lancar kurang dari dua jam.
Selesai rapat Danil dan mario menuju ruang pimpinan. Dimana ruang kerja Danil di rumah sakit ini.
"Banyak juga berkas yang akan di periksa". Ujar Danil saat duduk di kursi kebesarannya.
"Lumayan. dan semua itu butuh persetujuan dan tanda tanganm kamu". Ujar Mario.
Mario juga membuka berkas pekerjaannya di atas meja tamu yang ada di dalam ruang Danil ini.
"Aku tahu. Semua sudah kamu kerjakan dengan baik. Danaku tinggal periksa dan tanda tangan saja". Ujar Danil membaca dan menanda tangani berkas yang ada.
"Sudah biasa". Jawab Mario.
"Itu berkas apa?. Tanya Danil.
Melihat berkas yang diambil mario dari tas kerjanya. dan dibuka Mario di atas meja.
"Oo. Ini berkas pekerjaan pembangunan rumah sakit di puncak.
Tadi di bawa pegawai yang baru datang dari sana". Jelas Mario.
"Apa ada masalah?". Tanya danil.
"Tidak. cuma memantau perkembangan saja". Jawab Mario.
"Sudah sampai tahap apa pembangunannya?". Tanya Danil
Sambil berjalan menuju sofa tamu yang ada di tengah ruangan. Dimana Mario sedang memeriksa berkas.
"Sedang pengecoran lantai dua". Jawab Mario.
Rumah sakit rencananya berlantai tiga. Dan kantor di bagian atas lantai tiganya." Jawab Mario.
Danil dan mario memeriksa dan berdiskusi tentang pembangunan rumah sakit.
Melihat laporan pembangunan dan foto yang dikirim oleh pengawas pembangunan.
"Seperti yang terlihat di foto. Semua berjalan lancar dan pembangunannya sangat mengutamakan keseimbangan lingkungan yang asri.
Hingga tidak banyak merubah pohon yang ada di sekitar pembangunan.
Tumbuhan yang tidak kena oleh bangunan, tetap dibiarkan. Hingga rumah sakit terlihat menyatu dengan alam". terang Mario.
__ADS_1
"Bagus. Aku suka desainnya dari awal. Dan saat survei beberapa bulan yang lalu, aku juga suka kosep yang mengutamakan menjaga alam sekitar.
Jadi siapapun yang berobat disini tidak akan bosan menunggu saat berobat". Jawab Danil.
"Iya. Itulah kenapa waktu itu ayah kamu ingin membangun rumah sakit disini sangat didukung masyarakat sekitar.
Makanya saat pembelian lahan tidak begitu sulit. Bahkan yang punya tanah di sekitar lahan yang pertama kita beli. Datang menawarkan tanah mereka.
Dan lahan yang kita dapat malah tiga kali lipat dari rencana awal". Ujar Mario.
"Alhamdulillah". Jawab Danil.
Danil kembali memeriksa berkas yang ada di meja kerjanya.
"Sudah selesai. Ayo kita kembali ke kantor". ujar Danil.
"Ini juga kantormu juga. Selesaikan semua pekerjaan disini dulu. Nanti kita langsung pulang dari sini". Ujar Mario.
"Semua sudah selesai kok. Semua berkas sudah aku periksa dan aku tanda tangani". Jawab Danil.
"Baik. Tapi aku belum selesai memeriksa berkas ini. Apa kamu mau menungguku sekitar lima belas menit saja". Ujar Mario.
"Baik.
Tapi apa ada yang bisa aku bantu?". Tawar Danil.
"Baik lah. Aku akan keliling. Mau lihat-lihat sebentar". Ujar Danil.
"Aku telfon pegawai yang akan..".
"Tidak usah. Aku keliling sendiri saja. Kamu kalau sudah selesai kamu kabarkan saja nanti". Ujar Danil membuka jas kebesarannya.
Dan meletakan di sandaran kursi kebesarannya yang ada di rumah sakit ini.
Danil memakai celana dasar hitam dan kemeja biru muda.
"Ok. pergilah mensurvei sambil berkeliling. Nanti aku kabarkan. Kalau aku selesai". Ucap Mario.
Maka danil keluar ruang kerjanya itu. Menyelusuri koridor rumah sakit.
Pertama kali berjalan menyusuri lantai dibawah lantai kantor. Lantai dimana ruang vvip. Kelas utama tempat rawat inap.
Melihat keluarga pasien yang sedang lalu lalang membezuk atau yang bergantian menjaga.
"Nak Danil!!".
Panggil seseorang saat Danil melewati lorong menuju lif.
__ADS_1
"Kebetulan kita bertemu disini. Apa kabarnya kamu".
"Alhamdulillah baik pak. Bapak apa kabar?!". Danil balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat. Baru saja sembuh dari sakit.
Dan hari ini baru boleh pulang setelah dua minggu di rawat". Jawab pak pendra.
Ya. Danil memang bertemu dengan pak pendra. Papanya marni
"Semoga cepat sembuh ya pak". Ucap Danil.
"Terimakasih. nak Danil mau membezuk siapa?. Kok sendiri saja di rumah sakit?". Tanya pak Pendra.
"Tidak lagi mau membezuk pak. Sedang jalan saja". Jawab Danil.
"Ohya?. Pasti sedang mencari Marni ya. Marni sedang di ruang rawat inap sana.
Bapak yakin. Kamu pasti mau menemui Marni. Tidak mungkin kamu tidak ada tujuan di rumah sakit ini.
Mah. Panggilin Marni....".
"Tidak usah pak. Aku hanya sedang keliling saja.
Lagi pula aku tidak tahu bapak sedang dirawat". Jawab Danil.
Karena dia sudah tahu arah pembicaraan oak Pendra.
"Maaf pak. Aku harus pergi". Ujar Danil menjauh dari pak pendra dan istrinya.
"Tunggu nak Danil. Marni pasti juga ingin bertemu dengan kamu". Ucap pak pendra.
Tapi danil tidak menanggapinya. Malah semakin menjauh dari pak Pendra.
Tanpa diketahui oleh pak pendra dan Danil. Ternyata Marni dan Ridho sedang berdiri di dekat pintu kamar rawat inap pak pendra yang terbuka setengah.
Marni dan Ridho saling pandang. Dan mengelengkan kepalanya dengan mata yang berkaca.
Ridho paham dengan istrinya. Yang dia tahu. Mereka sama- sama tersinggung.
"Sepertinya kita memang harus sedikit menjauh. Agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi". Ujar Ridho pada istrinya.
Marni menganggukan kepala. Setuju dengan ucapan suaminya.
.
.
__ADS_1