
"Mah. Kok Marni jarang untuk berkunjung kesini?!". Tanya pak pendra pada istrinya.
"Sudah berkunjung jarang. Malah selalu di temani suaminya. Kan papa tidak bisa bercerita pada marni". Tambahnya.
"Marni itu sudah menikah pah. Bukan tanggung jawab kita. Dia harus ikut dan patuh pada suaminya!". jawab istri pak pendra.
"Sebagai anak harus patuh pada orang tua. Karena dia kita yang menjaganya dari kecil. Bukan suaminya.
Bahkan untuk menginap mambawa cucu kita juga tidak pernah". Oceh pak pendra.
Sudah hampir dua bulan pak pendra keluar rumah sakit. Dan marni hanya berkunjung sekali seminggu. Atau dua kali sebulan.
Berkunjung hanya sebentar saja dengan alasan si kembar tidak betah lama-lama.
Dan semenjak marni hamil dan melahirkan juga tidak pernah menginap di rumah orang tuanya.
"Marni sekarang sudah lebih cantik dan terawat. Bisa jadi Danil....".
"Sadar pah. Putri kita sudah menikah dan punya anak. Tidak baik untuk berfikir memisah kan mereka!". Jawab istri pak pendra keras. Karena kesal.
"Papa merasa bersalah pada mereka mah. Sudah memisahkan mereka yang saling suka dan sayang.
Makanya sekarang papa mau merestui mereka". ucap pak pendra.
"Papa jangan gila deh pa. Mama jadi curiga, papa itu sudah pikin atau stress. Masa anak sudah menikah masih di suruh menikah lagi.
Papa sadar tidak sih. Mungkin saja marni itu jadi jarang kesini karena tahu niat papa. Makanya dia jarang dan tidak pernah menginap disini.
__ADS_1
Mama kecewa sama papa. Tidak punya pendirian!". Ucap istri pak pendra.
Dan berlalu dari ruang keluarga. Tempat mereka mengobrol setelah makan malam tadi.
Istri pak pendra kesal. Pak pendra masih mengungkit nama Danil. Padahal Waktu mereka menolak danil lebih kurang lima tahun yang lalu. pak pendra dengan lantang menolak dan menghina.
Tapi. Setelah dua tahun pernikahan putrinya dengan suami pilihannya, baru terungkap. Kalau Danil yang dia hina lebih dari mereka. Bahkan sangat kaya dan terkenal.
Begitulah mereka akhir-akhir ini. Semenjak pak pendra keluar rumah sakit. Mereka selalu berdebat, mengenai pak pendra yang selalu mengungkit nama danil.
Hingga istrinya juga sering marah dan kesal.
"Papa hanya ibgin yang terbaik untuk Marni mah!". Teriak pak pendra sebelum istrinya menjauh.
"Marni sekarang sudah bahagia pah. Kebahagiaan apa lagi yang papa inginkan?". Jawabnya berdiri di ujung ruangan.
"Terus. Kalau mereka menikah sesuai keinginan papa, apa papa tidak akan lebih bersalah pada cucu papa sendiri.
Pikir pah. Apa segitu pemikiran papa yang terkenal dengan seorang pengacara yang bisa menyelesaikan masalah.
Tapi masalah seperti ini papa tidak peka. itu hanya ambisi yang tidak berlandaskan adab dan keadilan". sindir istri pak pendra.
Mereka saling menatap dari jarak lebih kurang lima meter.
.
"Bang. Apa tidak terlalu kecil si kembar untuk punya adek. Sekarang mereka baru berumur tujuh bulan!". Ucap Marni.
__ADS_1
Saat ini dia baru saja melayani nafsu suaminya.
Bagaimana tidak. Ridho yang berambisi membuat istrinya hamil hampir tiap malam dia beraksi. Setidaknya sekali dua hari. Hanya berhenti saat istrinya haid, tapi dia masih minta dipuaskan dengan cara lain.
"Kalau dikasih rezeki cepat tidak apa. Kita harus terima. Lagi pula umur kita juga bertambah.
Umurku sudah lebih tiga delapan. Dan kamu hampir tiga puluh. Kalau bisa. Aku ingin punya anak perempuan dua.
Kalau kembar cukup sekali hamil lagi. Tidak banyak kok". Jawab Ridho memeluk tubuh polos istrinya.
Marnipun membalas. Mereka sama-sama polos di bawah selimut.
"Sikembar masih kecil bang. Akan kekurangan perhatian nanti". Ucap marni.
"Tidak kok. Kan semua ada mama yang bantu. Mereka juga punya baby sitter". Jawab Ridho.
"Kalau kita punya banyak anak, dan jarak tidak terlalu jauh. Kita nanti tinggal menjaga dan menemani mereka bersamaan.
Tidak selesai satu-satu". Tambah Ridho.
Ridho tersenyum, karena memang dia ingin marni hamil segera. Kalau bisa saat ini istrinya sudah hamil. Biar dia bisa fokus bekerja dan mengumpulkan uang.
.
.
"
__ADS_1