Kamu Tidak Salah

Kamu Tidak Salah
132


__ADS_3

"Dylan ikut ayah nanti ya". Ajak Danil.


Sementara Fauziah sedang menganti baju putrinya. Sedangkan Dylan sedang disisir rambutnya oleh Danil.


Mereka baru saja selesai mandi, dan akan bergabung untuk sarapan.


Mereka masih berada di kamar danil yang berada di rumah orang tuanya.


"Kemana bang?". Tanya Fauziah.


"Mau menjemput kakak ayah ke rumahnya. Nanti siang kan ada acara kedatangan keluarga dari calon suami Nabila.


Jadi keluarga inti yang perempuan kumpul disini, menyambut". Jawab Danil.


"Oo. Apa dylan tidak akan menganggu nanti di jalan". Jawab Fauziah.


"Tidak. Kita diatas mobil saja. Mereka juga sudah siap-siap kok. Menunggu di jemput saja". Jawab danil.


"Selesai". Ucap Fauziah.


Sudah memasang pakaian putrinya. Juga jilbab instan yang selalu di kenakan balita itu setiap selesai mandi. Walau kadang sebentar lagi akan dilepas.


"Ayo sini sama ayah". Panggil Danil pada putrinya.


Yang duduk berdampingan dengan putra sulungnya di karpet kamar.


Maka sang putri berjalan menuju ayahnya.


"Hhmm.. Wangi.


Ayo". Ajak Danil membimbing kedua buah hatinya.


Dan Fauziah mengiringi dari belakang. Setelan meletakan kembali bedak dan sisir yang baru saja di pakai.


Terlihat kesibukan di rumah besar itu. Bagaimana tidak, Acara pernikahan akan diadakan besok. Dan pestanya besok lusa.


Dan pesta di tempat laki-laki akan diadakan setelah dua hari pesta di rumah perempuan.


Sore nanti pihak laki-laki akan datang untuk acara mengantar uang. Adat bukittinggi.


Yang bertujuan untuk belanja untuk memasak hidangan saat menanti keluarga laki-laki yang datang saat selesai akad nikah.


.

__ADS_1


"Kamu apa kabar?". Tanya Ridho.


Mereka tidak jadi mengobrol di kantin. Karena para karyawan sudah istirahat siang, dan banyak menuju kantin.


Makanya Ridho mengajak ke restoran dekat perusahaan tempat Marni bekerja. Dan duduk paling pojok, dekat jendela samping.


"Baik bang". Jawab Marni.


Marni tidak memandang suaminya. Dia fokus memeluk putrinya yang tidak mau melepas pelukannya.


"Makan dulu. anak-anak pasti lapar". Ucap Ridho.


Maka marni membatu mengambil kan nasi dan lauk untuk putra kembarnya. Dan dia menyuapi putrinya.


Ridho melihat ketiga buah hatinya sangat senang dekat dengan ibu kandungnya.


Walau mereka dari kecil sangat jarang berintegtasi dengan ibu kandungnya, tapi ikatan bathin itu tetap ada.


Bahkan sudah dua tahun mereka tidak bertemu, tetap mereka tidak melupakan ibu kandungnya.


Selesai makan, Ridho mengajak Marni berbicara. Sekarang mereke tinggal berdua di


Ketiga buah hatinya sedang bermain di taman dekat restoran. Ridho menyuruh sopir yang mengantarnya ke kota di pinggiran pekan baru.


Tadi pagi dia berangkat dari jakarta menuju pekan baru.


Makanya tadi saat sampai di bandara sutan syarif kasim, dia dan ketiga buah hatinya di jemput supir hotel. Anak buah bu Noni.


"Kenapa kamu pergi sajauh ini?". Tanya Ridho.


"Tidaj ada. Aku hanya ingin jauh dari orang yang tidak menginginkanku.


Seperti ucapan abang waktu itu. Kedua orang tuaku tidak peduli lagi padaku karena tidak mau mengikuti keinginannya.


Juga. Abang tidak butuh aku lagi. Bahkan menyuruhku pergi saat aku sedang frustasi.


Aku merasa hidupku hancur. Punya anak, tapi tidak bisa mengasuhnya. aku hanya bisa pegang anakku saat memberi asi saja.


Dan.


Sebagai pelampiasan Nafsu saja.


Bahkan, saat aku tidak berbuat salahpun, aku malah di salahkan. Dan menyuruku untuk pergi dari rumah.

__ADS_1


Makanya aku langsung pergi jauh saja dari jakarta. Karena ingin memulai hidup baru.


Dan aku yakin. Anak-anak pasti tidak akan ingat dengan aku, karena mereka masih kecil. Walau hatiku sakit saat aku rindu dengan mereka.


Tapi demi hati dan perasaanku. Aku harus pergi jauh. Agar tidak menganggu abang dan semua lagi". Jelas Marni.


Dia berbicara sambil menunduk. Tidak sanggub melihat Ridho yang menatapnya tajam.


Ridho merasa bersalah pada Marni. Karena dua yang marah dan erengaruh oleh ucapan dan tingkah papa marni. Dia nalah melampiaskan pada Marni.


Kenapa tidak memberi kabar padaku. Kalau kamu disini?". Tanya Ridho.


"Aku.. Aku tidak ingin menganggu abang. Mungkin abang balik lagi nenhadi....".


"Tidak. Aku sudah sembuh. Kamu obatku. Semenjak kamu pergi, tidak pernah aku melakukan hubungan...


Apalagi balik ke penyakitku". Potong Ridho.


"Sebaiknya kamu balik ke jakarta saja. Apa kamu tidak kasihan dengan anak-anak". Usul Ridho.


"Aku tidak bisa bang. Mungkin tempatku disini. Aku..".


"Apa kamu sudah punya pengantiku disini?!". Potong Ridho.


"Tidak. semua rekan kerjaku tahu aku sudah menikah. Dan juga aku tidak mau berdosa". Jawab marni.


"Lalu?. Kenapa tidak mau kembali?". Tanya Ridho.


Marni hanya diam, tidak menanggapi ucapan Ridho. Suaminya.


"Aku minta maaf. Kita balik saja ke jakarta. Kita...".


"Papa!. Adek mengantuk". Tiba- tiba anak kembarnya datang.


Dan putrinya di gendong oleh supir yang membantunya tadi.


"Ayo sini sama papa". Ucap Ridho.


"Sebaiknya kita kekosanku. Biar mereka isrirahat". Ucap Marni.


Maka mereka menuju kosan marni yang hanya sepuluh menit dari gerbang kantor dan pabrik tempat marni bekerja.


Ridho memandang kamar kosan marni.

__ADS_1


.


.


__ADS_2