
*Marni Pov*
Aku sangat bersyukur, semenjak melahirkan putra kembar, suamiku sudah berubah. Tidak main pedang-pedangan lagi.
Aku bersyukur, kedua mertuaku sangat baik dan perhatian. Dan suamiku bahkan ikut perhatian, walau awal pernikahan sangat menyedihkan, karena ternyata dia guy.
Sekarang dia malah tidak bisa lepas dari kegiatan ranjang. Hingga aku harus siap melayaninya.
Memang, semenjak aku selesai melahirkan. Kedua putra kembar ku langsung diasuh oleh baby sitter. Satu anak satu baby sitter. Aku hanya bertugas menyusui si kembar saja.
Dan aku di arahkan oleh mama mertuaku untuk merawat diri. perawatan tubuh, wajah hingga organ kewanitaan.
Tidak sedikit jamu dan obat dan kosmetik yang dia belikan. Hingga tubuhku terawat dengan baik.
Aku yang hanya bertugas mem beri asi si kembar saja. Hingga banyak waktu untuk merawat diri. Hingga saat lebih masa nifasku selesai, aku langsung melayani suamiku diranjang. Hanya saat haid saja aku libur di setubuhi.
Tidak tangung-tangung. Tiap hari aku melayani nafsunya yang sangat meningkat aku rasa dari sebelum-sebelumnya.
Bang Ridho bilang, tubuhku lebih mengairahkan semenjak setelah melahirkan.
Dan belum genap umur si kembar satu tahun, aku di suruh berhenti memberi si kembar asi.
Hingga aku dinyatakan hamil beberapa bulan setelahnya.
Walaupun aku hamil muda, tidak mengurangi libido suamiku. bahkan. Dia bilang lebih bergairah.
Semoga saja rumah tanggaku baik-baik saja. Dan jangan sampai bang Ridho terpengaruh omongan dan berita tentang papaku yang terus membahas mantan pacarku, Danil.
Aku ingin keluarga kecilku bahagia, jangan ada yang memisahkan kami.
Tapi....
Setelah beberapa bulan anak keduaku lahir, aku diusir oleh suamiku.
Dan papa mertua mengirimku ke ....
*Marni pov end*.
.
__ADS_1
Dua tahun kemudian
"Marni. ayo cepat". Panggil seseorang dari luar kosan.
"Iya. Aku sudah selesai". Ucap marni.
Dia keluar kamar kosan. Dan berjalan menuruni tangga rumah kos dengan temannya.
Ya. Marni setelah melahirkan putri keduanya, sang suami mulai cuek. Bahkan jarang untuk pulang.
Marni yang baru melahirkan empat bulan belum pernah dijamah ridho sama sekali.
Ini membuat marni bertanya- tanya. Apa sang suami kembali menjadi...
Padahal setelah dia melahirkan si kembar, suaminya tidak bisa lepas dari kegiatan ranjang.
Tapi, semenjak melahirkan anak keduanya, tidak sekalipun suaminya menyentuhnya.
Tidak jarang juga Ridho marah-marah pada marni, jika marni bertanya kenapa suaminya itu berubah dan bersikap dingin.
Hingga marni tidak tahan lagi dengan sikap suaminya yang sering berkata kasar padanya.
Marni bertanya-tanya. Apa suaminya itu sudah berpaling pada wanita lain. Atau balik ke penyakitnya.
Untung Ridho tidak pernah main tangan padanya. Tubuhnya tidak tersentuh, tapi hatinya.. Sakit, sering di hina kata-kata kasar dari mulut suaminya.
Marni berniat untuk kabur membawa ketiga buah hatinya, tapi dia tidak tahu kemana. Sebab papanya sudah tidak peduli lagi padanya semenjak marni hamil kedua.
Dan membuat hubungannya merengang dengan papanya itu.
Malam itu Marni ketahuan saat mengemasi pakaiannya dan pakaan anaknya. membuat ridho marah besar. Dan mengusir Marni malam itu.
Dan sang papa mertua yang tidak tega melihat sang menantu yang sudah memberi tiga cucu di usir anaknya.
Marni yang malam itu keluar rumah mertuanya mengeret koper besar. Berjalan keluar perumahan dengan air mata.
Diam-diam sang papa mertua keluar rumah mengiringi marni.
Pak sultan menyuruh marni untuk pergi ke kota pekan baru, ada temannya yang bisa dia minta bantuan.
__ADS_1
"Kamu berangkat dengan bus saja ya. papa antar ke pul bus. papa ada kenal agen busnya.
Disana kamu cari kosan di daerah m. dan sesampai di sana kamu temui Buk Noni. Cari dia di Hotel Sakura. Akan papa telfon dia nanti sesampai di rumah. karena papa tidak bawa ponsel.
Itu pesan papa mertuanya malam itu. Hingga marni sekarang terdampar di kota pekan baru.
Dengan bantuan bu Noni, marni bisa bekerja di sebuah pabrik kertas, di kantor bagian pembukuan karena marni pernah bekerja di bagian itu.
Padahal bu Noni menawarkannya untuk bekerja dihotel. Taoi marni menolak.
Bukan tidak mau, tapi dia tidak ingin bertemu banyak orang baru.
Di tambah di pabrik ini tidak berada di kota besar. dan berada di kota kecil yang semua penduduknya pendatang.
Jadi marni tidak akan bertemu dengan orang yang dia kenal.
Sudah hampir dua tahun dia berada di kota industri ini, papa mertuanya sering mengirim foto perkembangan anaknya.
Tapi tudak sekalipun papa mertuanya menyingung tentang Ridho. Membuat marni berpendapat, suaminya memang sudah tidak butuh dan peduli padanya lagi.
Marni juga sesekali menelfon mamanya. Karena dia juga kangen dengan mamanya itu.
Ditambah pak pendra sang papa sering sakit-sakitan, walau masih bisa bekerja di kantor pengacara nya. Dan hanya anak buahnya yang sering ikut menangani kasus pembelaan kasus.
.
Sementara itu, Danil dan fauziah bahagia dengan keluarga kecilnya.
"Sayang. Sini baby Rania aku yang gendong". Ucap Danil.
Fauziah sedang duduk santai di teras samping, sambil menjaga bayinya yang baru belajar berjalan.
Sedangkan Dylan putra sulungnya belajar mewarnai di meja kecil. Duduk di karpet kecil di atas teras.
Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Danil menemani kedua anaknya saat bermain dan belajar. Membuat keluarga kecil mereka hangat.
.
.
__ADS_1