
"Dylan main sama mbak ya!!. ayah sama bunda keluar sebentar!". ucap Danil pada putranya.
Setelah sholat magrib tadi, mereka makan malam bersama. dan Danil berencana mengajak istrinya keluar sebentar. dan tidak mengajak putranya.
Selain sudah malam, Danil juga berencana keluar nenggunakan motor. dan puncak suhunya dingin.
"Baik yah!". ucap dylan.
Danil juga berpesan pada pengasuh dylan, agar tidak terlalu malam dylan tidur.
Maka, mereka pergi berdua menggunakan motor. Setelah sama-sama memakai jaket tebal.
"Memangnya kita kemana bang?!. dingin begini. juga kok pakai motor?!". tanya fauziah heran.
Fauziah heran, kenapa suaminya mengajak dia motoran malam-malam begini.
"Kita mau pacaran. kan dulu waktu menikah kita tidak pacaran. malah langsung dinikahkan!". ucap Danil.
Dia menasangkan helm kepada istrinya.
"Selama seminggu kita disini. Setelah aku selesai bekerja, aku mau kita keliling motoran. melihat suasana kampung!.
Juga kita akan melihat proyek rumah sakit". ucap danil.
"Apa tidak akan menganggu pekerjaan abang nanti?!". tanya fauziah.
"Tidak. kan abang cuma mengawasi. yang menangani proyek sudah di tangani oleh dua asisten yang abang bawa tadi.
Yang satu dari kantor kontraktor. dan yang satu dari kantor.
Disini juga ada dua orang yang langsung turun tangan!". jawab Danil.
Mereka menaiki motor. dan keluar halaman villa, menuju jalan utama. Motor di kendarai Danil hanya pelan saja.
Kawasan villa ini memang banyak villa. walau jaraknya tidak begitu dekat. katena setiap villa punya halaman luas.
Dan agak kebawah sedikit, di jalan utama yang ramai. Terdapat villa yang sedikit rapat. karena villa di jalan utama dibuat seperti penginapan.
Dan villa yang di bagian atas, rata- rata punya keluarga. dan juga ada yang disewakan, untuk acara besar dan mewah.
"Kamu kedinginan?!". tanya Danil pada istrinya.
"Tidak bang. kan abang tidak ngebut. juga pakai jaket tebal!". ucap faziah.
Mereka berbincang santai diatas motor. Banyak tempat nongkrong mereka lewati, tapi belum ada niat untuk berhenti.
Mereka memang ingin keliling saja, motoran. menikmati malam yang sangat cerah.
"Mau mampir di sana?!". tanya Danil pada istrinya.
Mereka melewati sebuah warung tongkrongan yang ramai pengunjung sekedar ngopi atau kumpul.
Selain tempatnya cantik, juga luas lokasinya.
"Aku ingin yang di sana bang!". tunjuk Fauziah
Tempat yang berada di seberang tempat nongkrong itu. sama cantik dan luasnya. dan tidak begitu ramai.
"Ok!". ucap Danil mengikuti usulan istrinya.
Mereka pergi ke tempat tongkrongan yang lebih lega. karena tidak banyak pengunjung.
Danil dan Fauziah di sambut pelayan tempat, dan diarahkan kesamping bangunan, yang ternyata tempatnya di alam terbuka. dan memperlihatkan pemandangan kota dibawah yang sangat indah.
Fauziah suka dengan suasana malam yang sangat menyejukan mata. Selain udara yang masih bersih, juga suasana yang masih alami.
__ADS_1
"Mau pesan sekarang atau nanti mas, mbak!?". tanya sang pelayan.
memberikan buku menu.
"Kamu mau apa sayang?!".
Ucap Danil pada fauziah yang masih berdiri di tepian pagar, melihat suasana malam kota yang ada dibawah perbukitan.
"Minuman hangat saja bang!". jawab Fauziah.
"Mau cemilan?!". tambah Danil.
"Boleh". jawab fauziah.
Danil mengangguk.
"Aku pesan minum ini dan ini. makanannya ini dan ini. tambah ini satu". ucap Danil.
"Baik mas. mohon tunggu sebentar ya mas". ucap sang pelayan.
"Baik!". jawab Danil.
Dia memperhatikan istrinya yang menikmati pemandangan malam
"Kita biasa melihat kota dari ketingian gedung saat kita masih tinggal di kantor. Sekarang lebih alami dan lebih segar". ucap danil.
"Iya bang. Aku kangen suasana kampung malam hari. Dulu waktu masih di pondok, aku dan teman sering duduk di pinggiran asrama untuk sekedar melihat kampung dari ketinggian.
Karena pondok tempatku belajar berada di atas bukit". ucap Fauziah.
"Kamu beraoa tahun di pondok??". tanya Danil.
Dia tahu kalau istrinya santri, sebab ayah mertua seorang ustad.
"Hah. memang kamu bisa di pondok sendiri, seumur segitu?!". tanya Danil.
"Dulu abah tinggal dan mengajar di sana. maka aku langsung masuk pondok!". jelas Fauziah.
"Sekarang abah tidak mengajar di sana?!". tanya Danil.
"Masih. tapi tempat tinggal abah sudah diluar lingkungan pondok.
Abah dan ummi pindah ke kampung sebelah, tidak jauh dari pondok. kerumah nenek. karena rumah dan tanah bagian ummi tidak ada yang menempati.
Saat itu aku berumur sepuluh atau sebelas tahun. Aku diantar jemput oleh abah. Dan saat aku akan ujian akhir tingkat tsanawiyah, aku tinggal di pondok saja. sampai lulus Aliyah". jelas fauziah.
"Tempat tinggal sekarang?!". tanya Danil.
"Iya. Pondokku lebih kurang dua puluh menit berkendara dari rumah ummi, ke perbukitan belakang kampung!". jawab fauziah.
Sedang asyik bercerita, Fauziah berdiri di samping meja dan Danil duduk menghadap kearah istrinya.
"Af!. kamu Af kan?!". pangil seorang wanita.
Danil melihat. Ada dua orang wanita dan tiga orang laki-laki yang baru masuk tempat ini.
Danil tahu mereka baru datang, karena mereka berjalan diarahkan seorang pelayan tempat ini.
"Iya!". jawab danil melihat sekilas sambil menyamping.
Af adalah panggilan teman waktu sekolah dulu di kampung. saat kuliah dan bekerja lebih dikenal dengan panggilan Afda. Dan keluarga memanggil Niel atau Danil.
"Benar kamu Af teman smaku di bukittinggi. wah tambah keren dan tampan kamu Af!". pujinya tanpa malu-malu.
Bahkan dengan sengaja berdiri di samping danil, memegang lengan danil.
__ADS_1
Danil menepisnya pelan. untuk mengargai.
"Oo.. maaf aku lupa!". jawab Danil.
"Aku Bella. teman sma kamu. Kita pernah selokal waktu kelas satu. tapi aku pindah ke jakarta. hanya beberapa bulan saja sekolah di sana". jelasnya.
Pantas aku tidak kenal. pikir danil.
"Bergabung yuk. aku bersama teman kerjaku. mana tahu kamu butuh kerja dan teman mengobrol". tawarnya kembali bergelayut manja di merangkul bahu danil yang duduk.
Danil menepisnya agak keras.
"Santai saja Af. aku wanita biasa kok. jangan jaim deh. Aku tahu kamu butuh wanita sama seperti mereka". tunjuknya pada teman yang datang bersamanya tadi.
"Bukan wanita sok jual mahal seperti dia. pakaian tertutup tapi keluar malam. ". ucal bella.
Menunjuk Fauziah yang berdiri di tepi pagar pembatas tempat nongkrong dengan tepian bukit.
Bella yang mengaku teman danil dan sok akrab juga terkesan murahan.
Bagaimana tidak. sudah jelas danil risih dipegang, masih saja main rangkul. dan pakaiannya?!. sangat kurang bahan. padahal disini suhu dingin, dan malam.
"Maaf. dia istri saya!". ucap danil berdiri dan merangkul fauziah.
"Istri?!. kapan kamu menikah?. haha....
jangan malu-maluin deh Af. aku tahu kamu pasti kepuncak untuk kegiatan iya-iya kan?. Sama seperti yang lain.
Liburan sambil esek-esek dengan perempuan lokal. dan malah dapat cewek jaim. sok...".
"Stop...!". potong danil keras.
Tidak terima istrinya dihina. dan dirinya diangap pria hidung belang.
"Jaga mulut kamu ya!. aku tidak kenal kamu walau kamu mengenal saya. dan jangan buat dirimu malu.
Memfitnah orang bekerja seperti itu. Atau jangan-jangan pekerjaan yang kamu ucapkan?!. bisa dilihat dengan cara berpakaian kamu yang seperti seorang penjaja tubuh". kesal danil menebak.
Semua memandang perdebatan danil dan bella.
"Alah, sok kamu Af. kamu pasti pernah mengunakan jasa wanita sepertiku. mana ada pria yang menolak pesona wanita!". ejek Bella.
Tiba-tiba datang teman bella seorang pria menarik bella dari depan Danil.
"Maaf pak Afda!". ucapnya.
Danil bisa melihat dia tadi datang bersama. dan apa dia kenal atau pernah bertemu.
"Apa-apaan sih kamu!. pangil oak sama dia!". omel bella pada temannya itu.
"Kamu salah target. dan salah kelas. Dia bos besar yang tidak mungkin mengunakan jasa kamu yang cuma buat kelas bawah. supir dan buruh, dan berumur.
Dan aku tahu, pak Afda juga tidak akan pernah mengunakan jasa wanita obralan. karena dia sudah punya istri!". ucap pria tersebut pedas.
Membuat Bella bungkam. Malu mungkin.
Danil melihatnya. apa pria itu mengenalnya?.
"Aku mantan supir pak pendra pak. aku kenal sama bapak!". ucapnya seolah tahu kebingungan Danil.
Dqnil hanya mengangguk.
.
.
__ADS_1