Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Pertemuan.


__ADS_3

Hai... kalian masih ngikuti gak yah???Maafkan diriku yang terlambat mengingat kalian. bagaimana pun aku tetaplah emak-emak berdaster, tapai bukan Lucia.


oke geees,, kita gasskeun untuk sore ini yang ringan saja.


***


Happy Reading...


Bergetar hatiku mengingatnya, saat luka dan Cinta berpadu menyentak kerinduan.


Berdebar hatiku saat membuka lembar kisah kenangan masa lalu.


Ku urai rindu dalam tiap bait kata, janjimu dalam bahagia yang terlantun indah.


***


Dengan senyum berkembang Dewa menelusuri koridor yang semakin dekat dengan ruangannya.


Sedikit harapan jika apa yang baru saja ia bicarakan dengan Alex me jadi benar. istrinya hamil. Cintanya berbuah manis. sungguh bahagia jika memang benar. namun tak apa juga jika belum waktunya.


Melupakan apa yang telah di perlihatkan melalui rekaman cctv, Dewa begitu antusias memasuki ruangannya.


Pandanganya jatuh pada sosok cantik yang tengah bertengger di kursi kebesaran nya.


Dewa menelan ludah dengan susah payah, baiklah ia harus sadar jika sebentar lagi masalah akan menghampirinya. atau memang dirinya yang mendatangkan masalah itu sendiri.

__ADS_1


"Hey, honey."... Dewa menyapa dengan menampilkan srnyum paling manis.


Berbeda dengan Dewa yang tengah berdiri diantara perasaan bahagia dan cemas, Leo justru berada dalam fase termenyedihkan dalam hidupnya. usahanya untuk memperbaiki hubungan dengan Lilian sama srkali tak membuahkan hasil.


Berada di depan cermin yang setinggi dengan postur tubuhnya, Leo sedang mematut diri. hari ini ia akan kembali berusaha untuk membuktikan bahwa dirinya telah menyesal menjadi pria terbrengsek yang pernah singgah dalam hidup seorang gadis yang kini telah menjadi ibu dari darah dagingnya.


"Gue bapaknya, gue yang selama ini berada di sampingnya, gue yang pertama kali ngeliat tuh bocah merangkak lalu berjalan. dan gue juga yang pertama kali mendengar dia ngomong. daddy... daddy, bukan mama atau papa."


Ucapan Dewa sangat menohok hatinya. apakah saat ini dia berhak marah atau kecewa jika anaknya sama sekali tak mengenal darah yang tengah mengaliri tubuhnya.


"Dia punya gue wa, gue yang ngantar dia aje dunia ini. Karena gue dia ada."


"Cih, ngerasa berhak lo? terus selama ini elo kemana? Gue tanya elo kemana!"


Bahkan sampai saat ini bentakan Dewa masih terngiang di telinganya.


"Enak banget lo? nongol-nongol nodong, elu gak tau aja dulu gue hampir gila nurutin ngidamnya yang kadang-kadang tak masuk akal. belum lagi siksaan morning sickness yang buat Lilian kehabisan tenaga. jungkir balik bujuk cuma biar dia mau makan. sembilan bulan gue rawat dia sampe saat lahiran cuma gue yang jagain dia."


"Maaf"


"Maaf lo gue tolak!"


Ucapan Dewa kala itu menyadarkannya akan banyak hal. jika sekarang lilian menolaknya saat ini, dan darah dagingnya tak mengenalinya itu adalah kesalahannya.


Setidaknya Leo bisa sedikit senang karena Dewa telah menghilangkan keraguannya.

__ADS_1


Leo membuka laci nakasnya dan mengambil secarik kertas. di sanalah wajah-wajah penuh kebahagiaan terekspresikan.


Dirinya dan Dewa sedang mengapit Lilian yang sedang tertawa lebar. tak ada kepura-puraan dan wajah kebencian saat itu. namun dirinya sendirilah yang menghapus tawa itu dan menggantinya dengan wajah kecewa dan kebencian.


Dengan membawa gelisah di hatinya seiring dengan lantunan angin sore yang hampir tenggelam, Leo menyeret langkah yang semakin dekat semakin berat menuju sebuah ruang dimana seorang wanita dengan balutan sneli di tubuhnya tengah bertugas.


Gemuruh di dadanya perpaduan antara rasa rindu, takut dan gelisah menjadikan butiran-butiran air yang merembes dan mengalir di telapak tangannya.


Sebuket lili putih nan menawan seindah nama pemilik hatinya. Leo dengan langkah ringan, meski hati kecilnya ragu apakah Lilian akan menerima kehadirannya atau akan mengusirnya lengkap beserta bunga yang ia bawa.


Tok.. tok..tok..


Leo mengetuk pintu perlahan. ia tahu jika saat ini pastilah Lilian sedang bersiap untuk pulang.


"Masuk." suara lembut yang menggetarkan hati menjawab.


Hati Leo semakin gelisah, jantungnya semakin tak terkendali. bahkan ia dapat mendengar sendiri degub jantungnya yang semakin menggila karena terlalu gugup.


"Boleh saya masuk?'" Leo meminta ijin.


"Silahkan..." Lilian menjatuhkan stetoskop yang di pegangnya saat ia mendengar suara itu. Lilian sangat mengenalinya tanpa melihatnya.


"Leo." Lilian berbalik dalam satu detik.


Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus dan saling mengunci. dengan debaran di masing-masing jantungnya.

__ADS_1


***


Like komen biar malam ini kalian di bikin puyeng karena ulah pasangan sableng.


__ADS_2